Pergelaran Seni Wayang Orang Kembali Tampil di Jerman

Pergelaran Seni Wayang Orang Kembali Tampil di Jerman
Pertunjukan Wayang Orang (WO) “Trisara Tinayuh” yang ditampilkan kelompok seni WO Sriwedari, di Gedung Pewayangan Teater Kautaman, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, Minggu, 4 Maret 2018.
Dina Fitri Anisa / EAS Jumat, 16 November 2018 | 15:59 WIB

Jakarta - Setelah wayang orang terakhir dipentaskan pada 1985 di Jerman sebagai diplomasi budaya, kini Yayasan Paramarta Karya Budaya (YPKB) bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud RI akan kembali membawa kesenian tradisi Indonesia ini pada Mei 2019 mendatang.

Ide awal membawa kembali wayang orang ke Jerman atas prakarsa dari seorang diaspora, Prasti Rachmadi Pomarius. Tinggal selama 18 tahun di Jerman, membuat Prasti rindu akan kampung halaman, dan berniat membawa dan memperkenalkan wayang orang kepada masyarakat Jerman.

Menurut Prasti yang juga merupakan ketua dari YPKB menjelaskan, kesenian wayang orang ini adalah paket lengkap yang cukup bisa mewakili keindahan seni tradisi dari Indonesia. Mulai dari lakon yang diiringi tari dan juga musik tradisi yang khas. Tidak lupa, pakaian yang para wayang gunakan juga mampu mencerminkan keindahan wastra yang Indonesia miliki.

"Inti dari tujuan diplomasi budaya ini adalah, kami sesungguhnya ingin mengembalikan popularitas kesenian wayang orang di Indonesia yang mulai meredup. Dengan dikenalnya dan disukainya wayang orang di luar negeri, besar harapan kami akan ada semangat baru para seniman, pelaku, dan masyarakat Indonesia untuk terus menghidupkan kesenian bernilai tinggi ini,” ungkapnya saat dijumpai SP, usai taklimat media Pagelaran Wayang Orang Lakon Kresna Duta, di Kemendikbud, Jakarta Pusat, Rabu (14/11).

Nantinya, pagelaran wayang orang ini akan disajikan untuk umum dan digelar di dua kota, yaitu Hamburg dan Bremen. Sebanyak 40 orang pemain terbaik perwakilan dari beberapa paguyuban wayang orang di Jakarta dan Solo telah terpilih untuk memainkan lakon Kresna Duta.

Menurut penulis naskah, Undung Wiyono lakon ini dinilai sangat cocok untuk mengenalkan wayang orang khas Indonesia di kancah internasional. Alasannya, dibanding yang lain, lakon Kresna Duta adalah yang paling populer di dunia perwayangan. Selain itu, menurutnya struktur kisah lakon ini juga paling mudah untuk digarap, tidak hanya untuk naskah, tetapi juga untuk koreografi, dan juga alunan musik.

"Lebih dalam lagi, filosofi kisah Kresna Duta ini sesuai dengan misi kegiatan ini, yaitu diplomasi budaya. Karena, diceritakan Kresna adalah sosok diplomat budaya. Ini yang kita ingin tunjukkan, Indonesia juga memiliki opera yang tidak kalah baiknya. Komplit, dari segi musik, busana, tata rias, dan dikemas dalam pementasan serta cerita sesuai dengan pakem jiwa kebudayaan yang kita miliki,” terangnya.



Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE