Naskah Buruk, RUU Permusikan Percuma Direvisi

Naskah Buruk, RUU Permusikan Percuma Direvisi
Anang Hermansyah. ( Foto: Istimewa )
Dina Fitri Anisa / IDS Jumat, 8 Februari 2019 | 15:41 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kisruh RUU Permusikan masih terus bergulir. Anggota Koalisi Nasional Tolak RUU Permusikan (KNTL RUUP), Endah Widiastuti yang tergabung dalam grup musik duo Endah n Resa mengatakan, pihaknya tidak ingin dianggap hanya protes saja tanpa mencetuskan solusinya.

Mereka meminta DPR mencabut RUU ini dari program prioritas 2019 dan memperhatikan RUU lain yang lebih mendesak. Sebetulnya, nyaris seluruh praktisi musik yang bersuara menolak materi draf RUU Permusikan, terutama pasal yang mengekang kebebasan ekspresi dan mewajibkan sertifikasi. Namun sejumlah praktisi yakin upaya revisi bisa dilakukan.

"Untuk membuat ini semua, kami memerlukan waktu belasan jam nonstop, agar informasi ini bisa secepatnya tersebar ke khalayak media dan publik," tuturnya saat ditemui Beritasatu, Kamis (7/2).

Menurut Endah, upaya revisi akan percuma dan memboroskan uang negara jika naskah akademiknya tidak diganti. Bersama rekan-rekan dari KNTL RUUP, Endah ikut menyisir draf RUU Permusikan dan mendapati bahwa 50 dari total 54 pasal bermasalah. Empat pasal baik-baik saja, tetapi itu adalah aturan normatif soal undang-undangnya sendiri.

"Percuma (revisi), naskah akademiknya saja buruk," katanya.

Dia menyarankan proses undang-undang ini dimulai dari awal, mulai dari penyerapan aspirasi dari seluruh perwakilan praktisi musik seluruh Indonesia, penentuan judul utama UU, hingga penyusunan naskah akademik atau "kitab sucinya" rancangan UU. Dengan begitu, perumusan UU bisa lebih tepat sasaran.

"Kenapa ini harus ditolak? Ini harus dibuang dulu semua. Naskah akademik harus dibuat ulang, Kalau misalnya ini dilanjutkan, maaf saya sebenarnya tidak mau meragukan kompetensi orang yang menyusun rancangan undang-undang dan naskah akademik ini. Namun, apa iya kita percaya dan menyerahkan hidup kita kepada mereka?" tukas Endah.

Di lain sisi, musisi sekaligus anggota DPR RI Komisi X, Anang Hermansyah mengaku senang karena RUU Permusikan mendapat tanggapan dan respon yang luar biasa, dari para praktisi musik dan juga publik.

“Masukan dari teman-teman sangat positif. Pastinya nanti akan kami kaji ulang, jadi akan terus akan ada banyak masukan, apakah RUU ini akan diteruskan atau tidak, jika tidak nanti solusinya seperti apa? Semua harus di diskusikan bersama, karena parlemen harus menunggu,” terangnya.

Mengingat masa jabatan yang hampir habis sekitar tujuh bulan lagi, Anang mengatakan akan segera membahas dan mengkaji persoalan ini dengan baik. “Saya pasti akan terus memperjuangkan meski tidak di parlemen. Dalam waktu dekat saya akan mendatangi para teman-teman musisi di Bandung, Yogyakarta, dan beberapa kota lainnya untuk memberikan gambaran dan juga meminta masukan,” jelasnya.

Namun, untuk saat ini berdasarkan informasi yang diterima DPR belum bisa membahas persoalan RUU Permusikan dalam waktu dekat ini karena tanggal 14 Februari adalah waktu untuk reses. Jadi kemungkinan besar, problematika RUU Permusikan akan segera dibahas usai Pileg 2019.



Sumber: Suara Pembaruan