Menyuarakan Toleransi dalam Film Bumi itu Bulat

Menyuarakan Toleransi dalam Film Bumi itu Bulat
Pemain film Bumi itu Bulat berfoto bersama usai jumpa pers di Ecology Kemang, Jakarta Selatan, Senin 11 Maret 2019 ( Foto: Dina fitri anisa )
Dina Fitri Anisa / EAS Selasa, 12 Maret 2019 | 14:48 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Saat banyak orang dengan bebas menyuarakan dan mempersalahkan keberagaman yang dimiliki Indonesia, film Bumi itu Bulat justru hadir membawa pesan sejuk dari nilai-nilai toleransi yang kini mulai redup.

Film yang digagas oleh Gerakan Pemuda (GP) Ansor siap membawa pesan persatuan di bioskop Indonesia mulai 16 April 2019.

Umum GP Ansor, Gus Yakuq mengatakan, isu toleransi di negara yang kaya akan keberagaman patut dibahas bersama. Sedangkan untuk sasarannya adalah kalangan milenial yang kini mulai menjadi penentu keputusan kemajuan bangsa.

Kehadiran film ini juga mengacu pada informasi yang dikumpulkan oleh GP Ansor, bahwa jumlah anak muda yang intoleran semakin meningkat. Hal tersebut juga diperkuat dari data BNPT 2017, sebanyak 39% mahasiswa di 15 provinsi terpapar paham radikalisme beragama.

Menurut Wahid Foundation, hampir 60% peserta kegiatan kerohanian Islam di institusi pendidikan siap berjihad dengan jalan kekerasan.

"Film ini penting. Kita ini adalah negara yang sangat majemuk, berbeda dari segi suku, agama, dan budaya. Semua itu adalah kekuatan kita, Indonesia. Tidak ada negara di dunia yang seperti Indonesia, yang dibangun dari kekuatan toleransi. Karena itu kita yang hidup dalam kemajemukan harus mempertahankan dengan cara menumbuhkan dan menjaga sikap persaudaraan dan toleransi antar sesama,” terang Gus Yakuq saat diskusi film Bumi itu Bulat, di kawasan Jakarta Selatan, Senin (11/3/2019).

Selain GP Ansor, film ini juga diinisiasi oleh pembuat film Robert Ronny, aktor komedian Arie Kriting, desainer dan influencer Jenahara Nasution, dan aktris senior Christine Hakim.

Mereka bersepakat membuat Bumi itu Bulat sebagai wujud model toleransi yang baik, untuk dilihat oleh generasi muda, tanpa harus menggurui.

Untuk itu, Robert Ronny mengatakan film ini dibuat dengan menggunakan pendekatan yang ringan dan juga menyenangkan, agar semakin banyak orang yang tertarik untuk menonton.

"Bukan untuk mencari keuntungan, tetapi film hadir juga untuk menginspirasi banyak orang. Namun, saya menyayangkan dewasa ini banyak film bagus yang memiliki pesan di dalamnya, tetapi digarap secara serius dan berat. Orang membeli tiket untuk mendapatkan hiburan, bukan untuk diceramahi,” jelasnya.

Demi menarik minat penonton terutama para generasi milenial, Bumi itu Bulat menggandeng pemain muda Ryan Wijaya, Rania Putri Sari, dan Febby Rastanty. Kemudian untuk pemain pendukung dilibatkan yang lebih senior antara lain Christine Hakim, Ria Irawan, Mathias Muchus, dan Arie Kriting.



Sumber: Suara Pembaruan