Krakatau Menjanjikan Konser Rasa Organik

Krakatau Menjanjikan Konser Rasa Organik
Kelompok musik Krakatau di antaranya Trie Utami, Gilang Ramadhan, dan Dwiki Darmawan berfoto bersama usai jumpa pers konser Prtvi Mata di SCBD, Jakarta. Rabu 10 April 2019. ( Foto: istimewa )
Elvira Anna Siahaan / EAS Kamis, 11 April 2019 | 07:46 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Tidak lama lagi grup legendaris Krakatau akan menggelar konser tunggal mereka di Ciputra Artpreneur Jakarta, pada 30 April 2019. Konser bertajuk Prtvi Mata dijanjikan sangat "organik", karena menggabungkan musik fusion instrumental khas Krakatau dan nuansa Bali.

Hadirnya konser Prtvi Mata sebenarnya dikarenakan album kedua Krakatau, Chapter Two, yang belum lama ini dirilis. Senada dengan albumnya, tema besar yang diangkat Krakatau dalam konser juga masih seputar cinta lingkungan hidup.

"Kami bersemangat untuk konser ini. Memang sudah lama kami tidak bikin konser tunggal, padahal memulai reunian dari 2013. Satu hal yang bisa kami janjikan untuk penonton konser yakni rasa musik yang 'organik' sekali," ujar personel Krakatau, Indra Lesmana kala jumpa pers di Jakarta, Rabu (10/4/2019).

Group musik Krakatau yang beranggotakan Indra Lesmana, Trie Utami, Donny Suhendra, Gilang Ramadhan, Dwiki Darmawan, dan Pra Budi Dharma nantinya akan menyajikan konser yang menggabungkan tiga album mereka.

Bahkan dikatakan Dwiki, konser berdurasi sekitar dua jam nanti, Krakatau membawakan lagu-lagu lama 30%, lagu dari album Chapter One tahun 2016 sebanyak 30%, dan sisanya ialah lagu-lagu dari album Chapter Two yang dirilis tahun 2018.

Selain melepas energi mereka dalam konser mendatang, Krakatau berharap anak-anak muda yang kini kerap disebut sebagai kaum milenial dapat hadir. Dikatakan Trie Utami, vokalis Krakatau, ia berharap anak-anak muda tetap mengingat akar budayanya meski diterpa teknologi.

"Anak-anam muda hari ini yang disebut milenial silakan se-modern apa pun bermain musik, se-barat apapun bermain musik, menciptakan, mengkaryakan musik, tetapi ingat kita masih punya tradisi. Budaya yang perlu kita rawat. Jadi se-barat apapun Anda silakan, tapi jangan lupa ada genetik ketimuran yang harus kita jaga," kata Trie.

Senada dengan Trie, dalam konser Indra pun ingin mencerahkan pikiran musisi muda untuk jangan takut tampil beda. Dikatakan, di zaman Krakatau berkarya tidak ada musisi yang mau meniru musik dari musisi lainnya. Tetapi sekarang justru terbalik, Indra melihat musisi muda malahan berlomba-lomba membuat karya yang hampir sama atau mirip.

"Kalau di zaman kami, rasanya malu dinilai meniru karya orang lain. Nah, budaya malu itu yang sekarang tidak ada di generasi milenial," kata Indra dengan tegas.

Indra Lesmana menambahkan, generasi muda ada baiknya berkarya dengan inovasi, bukan memodifikasi karya sebelumnya. Dia mencontohkan bagaimana ekosistem musik berjalan dan saling berlomba menciptakan hal baru di tengah keterbatasan referensi tanpa kemudahan akses internet.

"Sekarang karena banyak melihat perkembangan musik di sosial media dan sebagainya, susah untuk mendapatkan sesuatu yang benar-benar original, yang fresh. Jadi tantangan untuk anak muda sekarang cobalah create something new," papar Indra.

Dwiki Dharmawan, keyboardist Krakatau pun menambahkan anak-anak muda perlu memulai untuk berkarya.
"Jangan pikirkan ini bisa dijual atau tidak, berkarya dulu nomor satu," kata Dwiki.

 



Sumber: BeritaSatu.com