Julie Sutrisno Laiskodat Konsisten Kembalikan Kekayaan Tenun NTT

Julie Sutrisno Laiskodat Konsisten Kembalikan Kekayaan Tenun NTT
Julie Sutrisno Laiskodat ( Foto: Suara Pembaruan / Dina Fitri Anisa )
Dina Fitri Anisa / IDS Jumat, 12 April 2019 | 13:52 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) NTT, Julie Sutrisno Laiskodat, mengaku konsisten untuk mengembalikan kejayaan tenun NTT. Selama tujuh tahun terakhir, dirinya berhasil membina 23 kelompok penenun kabupaten Nagekeo, untuk menghasilkan karya yang mencerminkan kekayaan budaya dan pariwisata di NTT.

Mulanya, Julie bercerita, sejak zaman nenek moyang, NTT dikenal dengan kain tenun yang menjadi jejak peradaban budaya. Namun, tenun pada masanya juga pernah ditinggalkan, hingga 80%-90% kaum wanita di NTT beralih profesi menjadi petani. Padahal, hasil dari pertanian tidak selalu dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga di NTT.

“Kita punya ibu-ibu yang giat dan mau belajar, tetapi tidak punya kesempatan,” jelasnya kepada awak media usai peluncuran Festival Literasi Nagekeo di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Kamis (11/4).

Alhasil, dengan kerja kerasnya, sedikit demi sedikit ia berhasil mengajak para perajin untuk menenun kembali. Menurutnya, tenun merupakan salah satu sumber budaya di NTT. Mau suka ataupun duka, masyarakat NTT itu wajib memiliki tenun.

“Saya melihat ini merupakan sebuah peluang besar, bukan hanya untuk memajukan budaya, tetapi juga meningkatkan perekonomian NTT,” terangnya.

Untuk itu, ia giat memulai aksinya mengajak para perajin mengembalikan kekayaan motif yang menjadi akar budaya tanah NTT melalui Dekranasda, dan juga lini mode pribadinya, LeViCo. Kekayaan tenun yang dimiliki NTT itu unik. Julie menjelaskan, setiap kebupaten memiliki motif tenun yang berbeda. Selain itu, teknik dalam pembuatannya juga beragam, seperti teknik tenun ikat, sotis dan buna.

Motif tenun menggambarkan berbagai kekayaan di NTT dari mulai air terjun, pegunungan, savana dan kekayaan wisata alam. Jadi menurutnya, dengan satu lembar saja, kain tenun bisa menjadi duta budaya, pariwisata, dan juga ekonomi.

“Inilah yang harus kita jaga. Pemerintah berusaha hak patenkan satu persatu motifnya agar tak diambil orang dijadikan tenun printing, yang akibatnya bisa mematikan industri tenun itu sendiri. Selain itu, literasi tenun juga digalakkan, untuk mengetahui filosofi dari motif tenun kepada desainer, agar tetap terjaga,” ucapnya.



Sumber: Suara Pembaruan