Tiar Simorangkir Bongkar Cerita Pilu Ibu Melahirkan di Balik Jeruji

Tiar Simorangkir Bongkar Cerita Pilu Ibu Melahirkan di Balik Jeruji
Tiar Simorangkir ( Foto: Dina fitri anisa )
Dina Fitri Anisa / EAS Senin, 15 April 2019 | 13:47 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Lirih suara tangis anak kecil yang ikut terkurung dalam jeruji besi masih basah di benak sutradara Tiar Simorangkir. Tidak hanya itu, pada malam hari pun tangisan anak kembali terdengar dari dalam sel penjara karena tidak bisa tidur, entah karena merasa gerah atau lapar.

Kisah rintih sedih anak-anak kecil dalam jeruji ini, diamati Tiar selama enam bulan lamanya. Tiar pergi dan pulang dari Lapas Pondok Bambu dan Sukamiskin untuk membuat film dokumenter bertajuk, Invisible Hopes.

Film tercipta karena kegelisahan Tiar melihat kabar ratusan anak yang lahir di dalam jeruji besi.

"Dalam tiga tahun terakhir sekitar 13.000 perempuan per tahun masuk penjara, dan 300 orang per tahunnya dalam keadaan hamil. Mereka terpaksa melahirkan dalam penjara di Indonesia,” ungkap Tiar kepada Beritasatu.com dan Suara Pembaruan, Sabtu (13/4/2019).

Ia pun menjelaskan, para perempuan hamil ini berjuang untuk memenuhi kehidupannya di dalam penjara dengan cara bekerja pada narapidana lain sebagai buruh cuci atau pun membersihkan kamar meski dalam keadaan hamil.

Mereka harus membiayai hidup sehari-hari, bahkan hingga biaya melahirkan. Atas situasi ini mereka mengalami penderitaan secara psikologis, sosial, dan fisik.

"Kondisi sangat tidak manusiawi, sedangkan kita melihat orang hamil yang berada di luar penjara saja sudah berat. Akses kesehatan sangat kurang, makanan bergizi tidak terpenuhi, belum lagi stres. Bahkan, saat syuting kami tahu bahwa ada ibu hamil yang melahirkan di toilet,” ceritanya.

Kemudian, tidak sampai di situ saja. Anak-anak yang terpaksa lahir dan dibesarkan di balik jeruji juga menjadi korban terselubung. Mereka harus hidup dalam sel dan diperlakukan persis seperti narapidana. Hidup mereka terkekang, dan hilang kebebasannya sebagai seorang anak yang harusnya bisa bermain dan tertawa bahagia.

Pergaulan mereka sehari-hari adalah dengan para pelaku kejahatan. Anak dengan hati dan pikiran yang masih polos ini melihat semua pergaulan orang dewasa yang tidak baik untuk tumbuh kembangnya. Bahkan, yang lebih Tiar khawatirkan lagi adalah sebagian besar anak-anak ini menjadi korban kekerasan ibu mereka sendiri.

"Dalam 24 jam, anak-anak diperbolehkan keluar dari penjara beberapa jam saja. Setelah itu, mereka ikut bersama sang ibu ke dalam jeruji besi yang didalamnya juga dihuni lebih dari 10 orang,” jelasnya.

Setelah sang anak berusia dua tahun, sedangkan waktu kebebasan sang ibu masih berjalan, anak-anak ini harus keluar dari penjara. Tidak peduli, siapa yang akan merawat dan membesarkan mereka di luar sana.

Ketakutan
Ketakutan Tiar semakin besar, jika ternyata hal ini dimanfaatkan untuk trafficking yang telah berjalan lama dalam sunyi.

Fakta dan data ini pun langsung menggetarkan hatinya. Tanpa didorong oleh rumah produksi ternama yang bisa mengalirkan modal besar, dirinya tetap memperjuangkan pembuatan film ini walau harus mengutang dan menjual barang pribadinya.

“Ini adalah panggilan jiwa buat saya. Setiap aku down dan mau berhenti menyelesaikan project ini, aku hanya ingat wajah anak-anak itu. Ini tidak adil, aku masa kecil bisa bebas, mereka tidak. Orang bertanya, ‘Kenapa kamu mati-matian membela mereka yang telah bersalah dan menjadi sampah masyarakat?’. Saya merasa ini tidak adil. Sebab yang ada di perut mereka, yang mereka lahirkan dalam penjara adalah nyawa anak manusia yang nantinya akan menjadi pemimpin-pemimpin bangsa,” ungkapnya.

Tidak seperti kebanyakan sutradara yang memanfaatkan peluang kemasan film Indonesia untuk membuat film laris manis di pasaran, Tiar justru membuat film bukan untuk mencari keuntungan.

Alhasil, meski film ini sudah dilirik para investor besar, tetap tidak ada yang bisa memberikan modal karena dianggap kurang menguntungkan.

Film kini telah masuk pada masa editing. Namun harus tersendat karena persoalan biaya. Tiar mengatakan, biaya yang masih dibutuhkan hingga film ini rampung sekitar Rp 1 Miliar.

"Kami dari Lam Horas Production merasa sangat penting untuk membuat film ini. Jika film ini telah rampung, diharapkan bisa mendorong sebuah diskusi baru, dan pada akhirnya dapat memberikan harapan baru bagi anak-anak yang terpaksa hidup di balik jeruji penjara,” tukasnya.



Sumber: Suara Pembaruan