Potret Peradaban Muslim Australia dalam Bingkai Foto

Potret Peradaban Muslim Australia dalam Bingkai Foto
CEO Islamic Museum of Australia, Ali Fahour, memimpin press tour yang diikuti Duta Besar Australia untuk Indonesia, Gary Quinlan, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, Edy Junaedi, di pameran "Boundless Plains: The Australian Muslim Connection", di Museum Sejarah Fatahilah, Senin 15 April 2019. ( Foto: dina fitri anisa )
Dina Fitri Anisa / EAS Selasa, 16 April 2019 | 15:16 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Tidak banyak yang tahu, bagaimana peradaban muslim di Australia memiliki kontribusi dalam mengembangkan dan memajukan budaya masyarakat selama ratusan tahun.

Untuk membuka mata dunia tentang sejarah tersebut, maka Kedutaan Besar Australia dan Islamic Museum of Australia menggelar pameran foto bertajuk Boundless Plains: The Australian Muslim Connection, di Museum Sejarah Fatahilah, Jakarta, sejak 13-30 April 2019.

Duta Besar Australia untuk Indonesia, Gary Quinlan menjelaskan, populasi muslim di Australia memiliki keberagaman secara etnis, bahasa, dan budaya. Keberagaman tersebut adalah hasil campuran dari lebih 120 negara, termasuk kontribusi masyarakat Indonesia akan perkembangan peradaban Australia.

“Nelayan muslim dari Indonesia telah mengunjungi pantai Australia sejak abad ke-18. Mereka berinteraksi dengan penduduk Aborigin, menikah dan berbagi budaya serta menggunakan kata-kata dalam bahasa Indonesia,” terangnya, saat pembukaan pameran di Jakarta, Senin (15/4/2019).

Hadirnya pameran ini, diharapkan dapat memupuk tali persahabatan antara Indonesia dan Australia. Lewat pameran pengunjung mendapatkan informasi baru bahwa Australia sama seperti Indonesia, memperoleh banyak kekuatan dari masyarakat multi agama dan multikulturalnya.

“Kita perlu mengembangkan pemahaman yang lebih dalam dan membangun hubungan antara komunitas-komunitas kita, terutama komunitas agama kita,” ungkap Gary.

Proyek pameran ini juga sangat senada dengan misi Islamic Museum of Australia, yaitu untuk menumbuhkan kerukunan masyarakat dan memfasilitasi pemahaman tentang nilai-nilai dan kontribusi umat Islam kepada masyarakat Australia.

Dalam pameran foto juga terpotret hubungan sejarah Australia dengan Semenanjung Malaya dan Kepulauan Indonesia.

CEO Islamic Museum of Australia, Ali Fahour, menjelaskan pameran terdiri dari 21 foto hasil jepretan fotografer Peter Gould.

Dalam foto-fotonya, Gould memotret segala sesuatu yang berhubungan langsung dengan sejarah masuknya agama Islam di Australia. Salah satunya yang dibawa langsung oleh para nelayan dari Makassar dan penunggang unta dari Afganistan, Pakistan, Mesir, Suriah, dan Turki.

“Imigran Islam berdiri bahu-membahu dengan warga negara Australia sejak ratusan tahun lalu. Masjid pertama di Australia dibangun dari batu bata lumpur di Marree, Australia Selatan pada 1861 oleh nelayan Makassar. Diikuti oleh masjid-masjid lain yang dibangun oleh unta-unta Afghanistan termasuk yang masih berdiri di Bourke, dibangun pada 1880-an, Bukit Patah dan Masjid Kota pertama Australia,” jelasnya.



Sumber: Suara Pembaruan