Film Kucumbu Tubuh Indahku

Garin Nugroho Sayangkan Penghakiman Massal Medsos

Garin Nugroho Sayangkan Penghakiman Massal Medsos
Sutrada film Indonesia Garin Nugroho ( Foto: Instagram )
Dina Fitri Anisa / EAS Jumat, 26 April 2019 | 07:12 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Sutradara film Kucumbu Tubuh Indahku, Garin Nugroho angkat bicara prihal petisi penolakan atas karyanya yang ditayangkan di layar lebar, melalui Instagram pribadinya @garin_film, sejak Rabu (25/4/2019).

Film yang telah mengikuti puluhan festival film internasional ini dituduh sebagai tayangan LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender).

Dengan menuliskan judul, "Keprihatinan atas petisi sebagai penghakiman massal dan sensor massal terhadap karya dan pikiran atas keadilan", Garin mengatakan penghakiman massal yang dilakukan via media sosial berkali terjadi pada karya seni dan pikiran atas keadilan. Dengan demikian, ia menilai gejala ini menunjukkan media sosial telah menjadi medium penghakiman massal tanpa proses keadilan, melahirkan anarkisme massal.

"Bagi saya, anarkisme massa tanpa proses dialog ini akan mematikan daya pikir terbuka serta kualitas warga bangsa, memerosotkan daya kerja, serta cipta yang penuh penemuan warga bangsa, serta mengancam kehendak atas hidup bersama manusia untuk bebas dari berbagai bentuk diskriminasi dan kekerasan sebagai tiang utama demokrasi,” tulisnya.

Lewat catatan yang ia tuliskan, sutradara berusia 57 tahun itu bermaksud menyampaikan keprihatinan besar atas menjamurnya gejala penghakiman massal tanpa proses dialog dan penegakan hukum yang berkeadilan.

"Bagi saya, kehendak atas keadilan dan kehendak untuk hidup bersama dalam keberagaman tanpa diskriminasi dan kekerasan tidak akan pernah mati dan dibungkam oleh apa pun, baik senjata hingga anarkisme massal tanpa proses berkeadilan,” tutup Garin.

3.000 Tanda Tangan

Saat berita ini dibuat, petisi dengan judul "Tolak penayangan film LGBT dengan judul Kucumbu Tubuh Indahku Sutradara Garin Nugroho", telah ditanda tangani oleh 3.336. Sosok Rakhmi Mashita, sebagai pelopor dari petisi ini menyebut bahwa film yang telah rilis pada 18 April 2019 tidak membawa efek positif bagi penontonnya.

"Sebuah film selain dibuat untuk menceritakan true story, seharusnya bisa membawa efek positif bagi penontonnya, seperti menjadi inspirasi positif,kreatif,dan menambah wawasan yg bernilai positif. Jika film seperti ini diizinkan tayang dan disebarluaskan, kita mesti khawatir, bahwa generasi muda yang mengalami kesulitan menemukan jati diri akan mencontoh perilaku dalam film ini,” tulisnya dalam kolom keterangan.

Diketahui, selain petisi, seperti yang dilansir dari sumber terpercaya, Wali Kota Depok Mohammad Idris menyampaikan keberatannya terhadap film Kucumbu Tubuh Indahku. Dia melarang penayangan film karya sutradara Garin Nugroho itu di seluruh bioskop di Kota Depok. Keberatan yang disampaikan dalam surat bernomor 460/185-Huk/DPAPMK tertanggal 24 April 2019 itu disampaikan Walikota Depok kepada Komisi Penyiaran Indonesia.

Film Kucumbu Tubuh Indahku mengangkat kisah Rianto, seorang penari lengger. Film yang tayang pertama di Indonesia 18 April tersebut menceritakan tiga babak kehidupan seorang pria bernama Arjuno, yang diperankan oleh Raditya Evandra, Muhammad Khan, dan Rianto sendiri.



Sumber: BeritaSatu.com