Stuber, Aksi Heroik Penuh Jenaka Si Supir Uber

Stuber, Aksi Heroik Penuh Jenaka Si Supir Uber
Cuplikan film Stuber yang dibintangi Dave Bautista dan Iko Uwais ( Foto: Ist )
Dina Fitri Anisa / FMB Selasa, 25 Juni 2019 | 16:32 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Film Stuber yang telah direncanakan dari 2016 akhirnya bisa tayang di bioskop pada 12 Juli 2019. Film yang memilih genre aksi komedi ini ditulis oleh Tripper Clancy dan disutradarai oleh Michael Dowse, di bawah payung besar 20th Century Fox.

Film ini bercerita tentang Stu (Kumail Nanjiani), seorang pria muda cerewet, santun, dan suka mengambil risiko. Stu bekerja di sebuah toko alat-alat olah raga. Di samping itu, demi memiliki penghasilan lebih untuk modal bisnis, ia juga jalani pekerjaan sampingan menjadi seorang sopir Uber yang terobsesi dengan bintang lima yang diberikan pelanggannya.

Sebuah pekerjaan mudah bila dibayangkan. Namun, kondisi menjadi berubah sejak Stu bertemu dengan Vic Manning (Dave Bautista), seorang detektif berusia paruh baya, yang memiliki misi untuk meringkup bandar narkoba kelas kakap, Tejho (Iko Uwais).

Vic menjalani sendiri misi tersebut tanpa bantuan dari FBI dan rekan lainnya. Satu hal yang menjadi masalah, penglihatan Vic menjadi kabur usai melakukan operasi lasik. Alhasil, ia membutuhkan rekan untuk mengantarkan dirinya ke tempat di mana transaksi narkoba terjadi. Dari sinilah petualangan heroik Stu membantu polisi meringkus penjahat, demi mendapat bintang lima di aplikasi Ubernya.

Tidak dipungkiri lagi, kolaborasi antara Kumail Nanjiani dan Dave Bautista berhasil mengocok perut penonton tiada henti. Tidak terasa dibuat-buat, adegan kocak mereka bangun dengan cara yang alami.

Para pembuat film menekankan pentingnya membuat film ini terasa tidak hanya lucu tetapi juga didasarkan pada kenyataan. Hal ini tercermin dari bagaimana Stu, seorang pengemudi yang polos memperlihatkan betul bagaimana jika warga sipil panik ketika terlibat dalam baku tembak yang menewaskan banyak orang. Alhasil adegan heroik supir pejuang rating bintang lima ini pun tidak kalah menariknya untuk disaksikan dalam film ini.

Sedangkan tokoh Vic dikemas tangguh, tetapi tetap berhati lembut. Kisahnya tidak hanya bergulir pada penangkapan si bandar, tetapi juga memfokuskan bagaimana dirinya bisa menjadi seorang pemimpin keluarga yang baik.

Sedikit drama yang ditawarkan dalam film ini. Tidak terlalu berlarut, tetapi mampu merenggut hati penonton. Bagaimana keluarga adalah hal penting nomor satu dari segalanya.

Sedangkan Iko yang berperan sebagai Tejho pun tampil ‘pangling’. Dengan rambut warna pirang dan kostum tabrak warna, Tejho seakan terlahir menjadi karakter liar, brandal, tetapi tetap kekanak-anakan. Dengan latar belakang teknik bela diri yang Iko miliki, Tejho tumbuh menjadi penjahat yang sulit dikalahkan.

Sebuah kebanggan tersendiri bagi Indonesia di mata dunia, pasalnya ragam koreografi pencak silat tidak lupa Iko masukan ke dalam pertempuran Tejho melawan Vic. Terlihat tangkas dan berbahaya, beberapa kali Tejho berhasil merobohkan Vic yang memiliki postur tubuh dua kali lipat lebih besar darinya.

Setelah perut dikocok dengan aksi kocak Stu, dalam aksi pergulatan ini, tibalah amarah penonton yang terpancing karena aksi Tejho yang menyebalkan dan sulit dikalahkan. Namun hal yang disayangkan adalah, sosok Iko yang hebat dengan adegan perkelahian di awal tetapi menghilang secara keseluruhan sesudahnya.

Menutup ulasan, Stuber berhasil mengolah cerita unik dengan bumbu komedi klasik yang disajikan dengan asik dan tak berbelit. Karena dari awal sudah memilih genre aksi komedi, sang sutradara mungkin lebih mengurangi aksi perkelahian, hingga terasa imbang dengan obrolan komedi yang disajikan. Jadi, jangan berharap lebih bila Anda ingin melihat aksi baku hantam yang menegangkan, karena suara tawa Anda akan menjadi prioritas lebih di film ini. 



Sumber: Suara Pembaruan