Perpaduan Sirkus Akrobatik dan Multikultural Ala Taiwan

Perpaduan Sirkus Akrobatik dan Multikultural Ala Taiwan
Aksi sirkus akrobatik Formosa Circus Art (FOCA) asal Taiwan ditampilkan di Balai Kartini Nusa Indah Theater, Jakarta, Kamis (27/6). ( Foto: Suara Pembaruan / Dina Fitri Anisa )
Dina Fitri Anisa / IDS Jumat, 28 Juni 2019 | 13:16 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kagum sekaligus tegang, demikianlah perasaan ratusan orang yang menonton pertunjukan sirkus akrobatik Formosa Circus Art (FOCA) asal Taiwan, di Balai Kartini Nusa Indah Theater, Jakarta, Kamis (27/6).

Rombongan yang dihadirkan oleh Taipei Economic and Trade Office Jakarta, Indonesia (TETO) ini memadukan tradisi akrobatik lokal dan sirkus ala Barat yang inovatif dalam pertunjukan mereka. Seperti diungkapkan oleh pendiri Sirkus Formasa, Lin Chih-Wei, aksi sirkus ini ialah representasi dari keberagaman budaya dan suku di Taiwan.

“Saya berharap malam ini akan berkesan ini menampilkan sebuah kolaborasi kebudayaan tradisional, kebudayaan lokal, kebudayaan jalanan, dan seni pertunjukan dalam kemasan sirkus modern berciri khas Taiwan,” ungkapnya dalam jumpa pers yang digelar sebelum pertunjukan dimulai.

Kali ini, FOCA menghadirkan tema “Heart of Asia”. Berbeda dari pertunjukan sirkus Taiwan yang pernah datang sebelumnya, pertunjukan ini lebih diwarnai nyanyian dan tarian dari suku Minna, Hakka, serta Aborigin, sebagai sebuah wujud harmoni pluralisme di Taiwan yang terlihat begitu kekinian.

Seperti dalam pertunjukan yang berlangsung selama 70 menit tanpa jeda ini. Di awal pergelaran, penonton menyaksikan sebuah tarian kontemporer dari 11 anggota FOCA yang melambangkan sebuah kehidupan masyarakat Taiwan bagian Timur yang dekat dengan pantai.

Desiran angin pantai mereka tampilkan dengan tarian tradisi kontemporer Taiwan yang halus dan lembut. Sedangkan gelombang ombak diisyaratkan dengan gerakan yang lebih energik. Untuk itu, mereka menggabungkan tarian itu dengan gerakan seni bela diri.

Beralih ke segmen selanjutnya, pemain yang telah mengganti kostumnya berdatangan membawa spirit suku Hakka. Pesan gotong royong dan kemakmuran suku Hakka dilambangkan dengan gerak tari petani yang sedang bercocok tanam.

Dari sinilah ketegangan sirkus akrobatik dimulai. Awalnya para penari hanya menggunakan media topi caping dengan permainan trik lempar pada umumnya. Namun, akhirnya mereka membawa beberapa buah meja yang kemudian disusun ke atas dengan struktur bangunan tak wajar.

Satu meja berdiri tegak di bawah, sedangkan dua meja lainnya bertengger di atasnya dengan hanya satu bagian yang menopang keseimbangan. Sementara itu, di atas susunan meja itu, salah seorang pemain menunjukkan aksinya yang bertumpu pada dua buah tangan dan kaki yang berada di atas. Semua dilakukan tanpa alat pengaman sama sekali.

Setelah menggunakan meja, aksi ekstrem tadi tidak berhenti sampai di situ. Enam buah kursi dari kayu kali ini yang menjadi sarananya. Satu persatu kursi disusun hingga mencapai ketinggian tiga sampai empat meter.

Kursi yang telah disusun kemudian diduduki oleh seorang pemain. Namun, bukan seperti duduk orang normal pada umumnya. Ia kembali merentangkan kedua tangannya, membentuk sikap lilin yang sangat sempurna. Sontak, sorak teriakan dan tepuk tangan penonton terdengar tanpa henti untuk menyemangati para penari di atas panggung.

Sesi kembali berganti, kali ini FOCA kembali memperkenalkan salah satu suku minoritas di Taiwan, yaitu suku Aborigin. Sebuah narasi singkat dibawakan oleh seorang penari bernama Fu Ding untuk memperkenalkan asal muasal suku Aborigin itu.

“Ribuan tahun lalu, Taiwan memiliki suku Aborigin yang saat ini tersisa 16 kelompok saja. Mereka tinggal di sepanjang Taiwan sebelum datangnya suku Han. Namun, saat ini mereka bermukim di daerah pegunungan. Saya adalah salah satu kelompok dari suku Aborigin, yaitu kelompok Ami,” terangnya.

Sebelum narasi diungkapkan, Fu Ding memperlihatkan keahliannya memutar permainan juggling Yoyo dengan cara yang menakjubkan. Yoyo berukuran jumbo dengan cahaya lampu di dalamnya ia putar, lempar, dan tarik dengan sehelai tali tanpa terjatuh sekali pun. Alhasil permainan Yoyo ini memberikan visual eksperimen yang indah di mata penonton.

Di akhir pertunjukan, terdapat beberapa tarian dan akrobatik yang tak kalah menarik. Namun, kali ini tarian mereka merepresentasikan multikultur masyarakat urban yang energik dan inovatif.

Kerja Sama
Perwakilan TETO, John Chen mengatakan, kerja sama pertukaran kebudayaan antara Indonesia dan Taiwan semakin penting semenjak program "Kebijakan Baru ke Arah Selatan".

Chen berharap pertunjukan itu bisa mempererat persahabatan masyarakat antar-dua negara. FOCA, yang mengadakan pertunjukan di Jakarta dan Surabaya, juga akan tampil di New Delhi dan Chennai India.

Sirkus Formosa Taiwan tidak hanya menyelenggarakan pertunjukan, melainkan juga melakukan kerja sama pertukaran kebudayaan dengan Taman Mini Indonesia Indah. Pertukaran budaya itu dilakukan dengan sanggar guru tari tradisional di Taman Mini Indonesia Indah. Mereka memperagakan gerakan akrobatik di hadapan para penari sanggar sekaligus belajar tarian tradisional Indonesia.



Sumber: Suara Pembaruan