Garin Nugroho Mengubah Kegelisahan Menjadi Mahakarya

Garin Nugroho Mengubah Kegelisahan Menjadi Mahakarya
Para tokoh film dan dunia hiburan berdiskusi di acara “Setapak Demi Setapak: 38 Tahun Garin Nugroho Berkarya”, di Goethe-Institut Indonesia, Selasa 27 Agustus 2019. ( Foto: dina fitri anisa )
Dina Fitri Anisa / EAS Jumat, 30 Agustus 2019 | 10:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Setiap orang pasti memiliki kegelisahan dalam hidup, tetapi tidak banyak yang mau menikmatinya. Berbeda dengan Garin Nugroho Riyanto atau yang lebih dikenal dengan Garin Nugroho, kegelisahan yang berputar dalam hidupnya justru ia ramu menjadi mahakarya.

Selama 38 tahun berkarya, Garin telah mencetak lebih dari 20 karya. Sudah bisa dipastikan, pria kelahiran Yogyakarta, 6 Juni 1961, bukan seorang produser atau sutradara yang biasa saja. Namanya sendiri mulai melejit sejak film berjudul Cinta Dalam Sepotong Roti (1990). Sejak itu, Garin dikenal sebagai sutradara yang menghasilkan karya unik dan orisinal.

Saat membuat karya, Garin juga memiliki pendekatan gaya penyutradaraan serta penuturan cerita yang kerap berbeda di tiap filmnya. Sebut saja beberapa film yang telah ia garap, seperti Daun di Atas Bantal, Opera Jawa, Guru Bangsa: Tjokroaminoto, Aaaach...Aku Jatuh Cinta!, Aku Ingin Menciummu Sekali Saja, Mata Tertutup, Soegija, dan film terbarunya yang penuh kontroversi, Kucumbu Tubuh Indahku.

Semua film yang ia buat sengaja menghadirkan rasa yang berbeda, namun tetap dengan rangkaian benang merah yang ia sengaja taruh di setiap karyanya. Garin meninggalkan jejak untuk menggambarkan mikro Indonesia dengan segala persoalan yang ada.
Sementara dalam proses mencipta, Garin mengaku selalu terinpirasi dari ketidaktentraman diri dan lingkungan sekitarnya. Untuk mengatakan sesuatu yang tidak tenteram, Garin harus kembali ke diri sendiri.

"Saya beda. Saya senang dengan sesuatu yang tidak menenteramkan diri saya. Kalau semua kehidupan jadi tenteram, kalian semua tidak akan hidup. Ibarat bayi baru lahir, dia pasti menangis bukan tertawa,” jelas Garin saat ditemui Beritasatu.com dalam diskusi “Setapak Demi Setapak: 38 Tahun Garin Nugroho Berkarya”, di Goethe-Institut Indonesia, Selasa (27/8/2019).

Karena rasa tidak tenteram ini acap kali dianggap aneh oleh masyarakat Indonesia, alhasil film Garin jarang mendapat penghargaan bergengsi di Indonesia. Namun bukan berarti film tersebut tidak laku di pasaran. Garin pun mengakui, film-filmnya punya pasar masing-masing. Hal ini pun ia buktikan, saat barisan filmnya kebanjiran penghargaan serta pujian di festival film bergengsi di luar negeri.

"Di negara ini semua hal seolah berjalan tenteram. Bila Anda membuat sesuatu yang tidak tenteram, maka harus memiliki kegilaan yang terukur. Ini yang paling susah, saat membuat karya yang mengandung ketidaktenteraman, berarti tidak berbasis hal yang umum. Dan jadilah ini menjadi sebuah produk yang langka, maka penonton dan sponsornya juga langka. Ini sudah hukum alam,” ungkapnya.

Tidak Kapok
Meski terdengar pahit, Garin merasa tidak akan pernah kapok untuk membuat karya film dengan segala kerumitannya. Ia merasa senang, jika keresahan yang ia hadirkan bisa memberikan wawasan baru kepada penonton di Indonesia untuk membenahi dilema yang ada.

Menurutnya, dilema di Indonesia sejak dulu hingga kini adalah, negeri ini selalu mengalami perubahan yang terlalu cepat, tetapi takut menerima tantangan. Dengan demikian, perlu dilakukan pendewasaan agar masyarakat bisa menjadi individu yang lebih baik lagi.

"Masyarakat diperlukan goncangan, agar dituntut untuk terus bertanya. Gelisah, itu harus kita tumbuhkan. Setiap kehidupan tidak harus melahirkan karya yang populer, tetapi juga harus memberikan pilihan. Saya pernah merasa lelah, lelah sekali. Saya selalu mengatakan, ‘Tuhan tidak bodoh, Tidak ada unsur di bumi yang tidak akan dapat tempat’,” tukasnya.



Sumber: Suara Pembaruan