Lomba Kritik Puisi Esai

Ruang Publik Perlu Diwarnai Sejuta Puisi

Ruang Publik Perlu Diwarnai Sejuta Puisi
Ketua Asosiasi Guru Bahasa dan Sastra Indonesia (AGBSI) Jajang Priyatna (kanan) bersama pelaku seni Dian Ratri ketika mengumumkan dibukanya Lomba Kritik Puisi Esai karya Denny JA di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin di Jakarta. ( Foto: Dok AGBSI / istimewa )
Yuliantino Situmorang / YS Kamis, 5 September 2019 | 17:49 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Ruang publik kita saat ini sudah dipenuhi polusi kebencian dan kemarahan politik. Sejak Pilkada DKI Jakarta 2017, berlanjut ke Pilpres 2019, dan kini isu Papua, terlalu banyak kabar bohong, kemarahan, kebencian, pembelahan politik, dan primordialisme agama di ruang publik.

Seolah-olah manusia disempitkan menjadi kita melawan mereka. Warga negara seolah hanya disibukkan dengan isu kekuasaan. Banyak keluarga, kawan, dan komunitas, yang pecah hanya karena politik.

“Karena itu, ruang publik kita perlu diperkaya lagi oleh renungan sastra,” ujar penggagas puisi esai Denny JA di Jakarta, Kamis (5/9/2019).

Denny mengutip pernyataan John F Kennedy: “Ketika politik menyempitkan perhatian manusia, puisi datang meluaskannya kembali. Ketika kekuasaan mengotori jiwa, puisi membersihkan.”

Ternyata, kegundahan itu jugalah yang mendorong Asosiasi Guru Bahasa dan Sastra Indonesia (AGBSI) menggelar Lomba Kritik Puisi Esai secara nasional. Para guru ingin, ruang publik semakin diwarnai puisi-puisi yang meneduhkan. Lomba itu diumumkan di Pusat Dokumentasi HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, Rabu (4/9/2019).

Ketua AGBSI Jajang Priyatna menjelaskan, kegiatan itu digelar bertepatan dengan Bulan Bahasa. “Kami ingin memeriahkannya dengan lomba kritik sastra,” ujar Jajang.

Pelaku seni yang juga dari AGBSI Dian Ratri mengatakan, Oktober menjadi momen Hari Sumpah Pemuda. Dengan Ikrar “Berbahasa Satu, Bahasa Indonesia. Sejak tahun 1960-an, sudah diperingati menjadi Bulan Bahasa.

“Tapi bahasa pun perlu terus dimartabatkan. Literasi perlu ditumbuhkan. Minat membaca sastra perlu disuburkan,” kata dia.

AGBSI memilih empat buku puisi esai karya Denny JA sebagai bahan kritikan bagi para peserta lomba. Empat buku itu yakni: Atas Nama Cinta, Jiwa yang Berzikir, Roti untuk Hati, dan Kutunggu di setiap Kamisan.

“Mengapa karya Denny JA yang dipilih sebagai tema kritik sastra? Lima tahun belakangan ini, dunia sastra bergunjang-ganjing dengan kontroversi puisi esai karya Denny JA. Terjadi pro dan kontra yang maha hebat,” papar Dian.

Namun, buku puisi esai ternyata terus diterbitkan. Hingga hari ini, sudah terbit lebih dari 80 buku puisi esai. Sudah lebih dari 200 penulis dari Aceh hingga Papua menulis puisi esai. Bahkan, penyair Asia Tenggara seperti dari Malaysia, Brunei, Thailand, dan Singapura juga menerbitkan puisi esai.

“Ini yang membuat puisi esai menjadi topik yang hangat dan kontroversial untuk lomba kritik sastra tahun ini,” tambah dia.

Pengumuman lomba kritik puisi esai di HB Jassin juga disemarakkan acara “Titian Muhibbah Sastra Indonesia-Malaysia”. Banyak penyair Malaysia yang ikut hadir. Pada kesempatan itu, digelar juga diskusi sastra.

Puisi Denny JA soal Papua juga ikut dibacakan di acara itu. “Puisi kembali dibawa ke tengah gelanggang sebagai respons atas isu masyarakat yang sedang bergolak,” tambahnya.



Sumber: PR/Suara Pembaruan