Green Religion, Angkat Pentingnya Peran Agama dalam Menjaga Lingkungan

Green Religion, Angkat Pentingnya Peran Agama dalam Menjaga Lingkungan
Adi Putra saat menerima Ikon Prestasi Pancasila di Solo. ( Foto: Beritasatu Photo / Istimewa )
Feriawan Hidayat / FER Kamis, 12 September 2019 | 14:04 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Sebuah film pendek berjudul Green Religion yang merupakan karya siswa SMA Kolase Kanisius Jakarta pada tahun 2007, mengungkapkan pentingnya peran pemuka agama dalam menjaga lingkungan. Ketika alam mulai rusak di sana-sini, di manakah posisi agama? Makna itulah yang coba diperlihatkan dalam film pendek berdurasi 14 menit tersebut.

Film Green Religion dibuat oleh Adi Putra dan temannya Ade Kurniadhi. Saat itu, mereka masih berusia tak lebih dari 18 tahun. Film dokumenter Green Religion yang diproduksi dengan biaya alakadarnya, dan perangkat produksi yang serba terbatas, mencoba untuk memperlihatkan narasi besar tentang peran agama dalam menanggulangi global warming dalam visualisasi yang sederhana.

Pertanyaannya, siapakah Adi Putra? Pada bulan Agustus 2019 lalu, dinobatkan sebagai peraih Ikon Prestasi Pancasila 2019 dalam bidang seni kreatif. Adi Putra bersama 73 tokoh lainnya mendapat Ikon Prestasi Pancasila dari Pemerintah lewat Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).

Adi Putra merupakan seorang forografer dan sutradara muda yang karya-karyanya mendapat sambutan yang positif di luar negeri. Nama Adi Putra juga sempat membuat heboh karena film pendeknya berjudul Adam diputar di Festival Film Internasional Cannes ke-65 tahun 2012 di Palais des Festival, Cannes, Perancis. Karya-karya Adi yang menggelitik mata, terekam di akun instagramnya @adipvtr.

Kembali ke soal film Green Religion, terekam kenyataan bahwa isu global warming belumlah populer menjadi materi dakwah kalangan pemuka agama di Indonesia dibandingkan dengan peringatan-peringatan tentang hari akhir, implikasi perbuatan dosa manusia, atau tentang surga dan neraka. Padahal, dampak global warming sudah sangat begitu terasa.

"Saya tinggal di Jakarta. Saya tidak bisa bilang kalau cuaca Jakarta itu indah. Kalau dibandingkan Jakarta, saya senang sekali melihat De Tjolomadoe. Tamannya bersih, kayak dijaga, udaranya bersih, hening. Kita seperti enggak punya arena outdoor kayak gini di Jakarta," ungkap Adi Putra dalam keterangan pers yang diterima Beritasatu.com, Kamis (12/9/2019).

Dalam film Green Religion, Adi kemudian pesan tersebut melalui cuplikan wawancara-wawancara dengan beberapa pemuka agama. Mereka antara lain, almarhum ustaz Jefri Al Buchori yang menyampaikan tentang salah satu ayam dalam Alquran yang berbunyi, Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia.

Sementara itu, seorang pemuka agama Kristen, pendeta bernama Ivan Tanatmadja mengatakan, gereja selalu menyerukan jemaatnya untuk memelihara kebersihan dan tidak membuang sampah sembarangan.

Selain itu, digambarkan seorang ibu mulai menjatuhkan penglihatannya ke tanah lapang. Memungut selembar demi selembar kertas koran yang berserakan. Lantas mengumpulkannya sekarung-sekarung. Mudah saja buat ibu tua itu mengais lebih dari 10 karung. Sementara, gambaran sampah berserakan setelah kebaktian usai juga ditampilkan dalam film tersebut.

Film Green Religuon sendiri ditutup dengan pesan, "Seandainya para pemuka agama terus menyeru jutaan umatnya untuk sadar akan bahaya global warming...." Dan diakhiri dengan tanda tanya "Bagaimana masa depan Bumi?"



Sumber: BeritaSatu.com