Mahfud MD: Bawa Jaz ke Desa-desa untuk Kebaikan

Mahfud MD: Bawa Jaz ke Desa-desa untuk Kebaikan
Ngayogjazz 2019 yang mengambil tema "Satu Nusa, Satu Jazznya" di Dusun Kwagon, Sidorejo, Godean, Sleman, Sabtu (16/11/2019). ( Foto: Suara Pembaruan / Dina Fitri Anisa )
Dina Fitri Anisa / FMB Senin, 18 November 2019 | 10:32 WIB

Yogyakarta, Beritasatu.com - Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD ingin gelaran Ngayogjazz 2019 terus digelar, meskipun sang inisiator, RM Gregorius Djaduk Ferianto telah tutup usia pada Rabu (13/11/2019) lalu di usia 56 tahun.

Membuka perhelatan Ngayogjazz 2019 yang mengambil tema "Satu Nusa, Satu Jazznya" di Dusun Kwagon, Sidorejo, Godean, Sleman, Sabtu (16/11/2019) sore, Mahfud MD didampingi Wakil Gubernur (Wagub) DIY Paku Alam X, Bupati Sleman Sri Purnomo, dan seniman Butet Kertaradjasa.

Mahfud mengungkapkan bahwa Djaduk mempunyai peran yang besar dalam musik jaz. Djaduk dengan Ngayogjazz ini mengubah citra musik jaz yang dikenal sebagai musik elite ini menjadi musik untuk semua kalangan.

Djaduk, justru membawa musik jaz untuk tampil dari desa ke desa seperti konsep Ngayogjazz yang diusungnya.

"Dalam konteks acara ini telah berhasil membawa musik jaz yang pada umumnya dikenal atau dianggap sebagai musik kelompok elite, kelompok atas," terang Mahfud.

"Dengan kemampuannya mas Djaduk ingin membawa jaz ini ke desa-desa. Sehingga seni bisa mempunyai sifat netral dan bisa menyegarkan, bisa membuat kerukunan, bisa kita merenung untuk kebaikan," lanjut Mahfud.

Mahfud meminta agar gelaran Ngayogjazz terus digelar dan menuntaskan keinginan Djaduk untuk terus mengabdi di bidang seni.

"Acara ini akan tetap berlangsung. Karena itu punya semangat untuk menyelenggarakan ini dan untuk menyelesaikannya sehingga kita teruskan apa yang sudah dicita-citakan Mas Djaduk sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat kepada nusa dan bangsa melalui dunia seni," pungkas Mahfud.

Kwagon sebelumnya pernah menjadi tempat Ngayogjazz 2016 dari helatan Ngayojazz yang telah dilaksanakan sejak 2007 dengan tempat berpindah-pindah tempat yakni di pemukiman padat penduduk.

Ada tujuh panggung Ngayogjazz 2019. Masing-masing Panggung Blandar, Saka, Usuk, Umpak, Genteng, Molo, dan Empyak. Setiap panggung, selain Panggung Molo, tampil musisi jaz. Untuk Panggung Molo tampil kesenian lokal seperti jathilan, gedruk dan gamelan kwagon.

Ngayogjazz diawali pada pukul 12.45 WIB dan akan berakhir pukul 23.30 WIB. Beberapa musisi jazz lokal, nasional dan luar negeri tampil dalam acara tersebut. Musisi nasional, di antaranya Idang Rassjidi, Tompi, dan Mus Mujiono. Adapun musisi luar negeri antara lain Aartsen-Farias (Brazil), Keleey (USA), Arp Frique (Belanda), Eym Trio (Perancis), dan Rodrigo Parejo Quartet (Spanyol). Juga akan tampil Kue Etnika dan Didi Kempot untuk menutup acara ini.

Musisi kondang, Idang Rasjidi yang tampil di panggung Umpak dengan lagu ‘Mau Dibawa ke Mana’ milik Armada Band, aransemen blues, tiba-tiba terdiam sambil terisak di tengah panggung. Idang tampak tidak kuasa menahan isaknya, meski musik terus berbunyi.

Idang mengungkapkan kesedihannya atas perginya Djaduk. Namun istri mendiang Djaduk, Petra, muncul dari belakang panggung, langsung meminta mikrofon yang ada di tangan Idang dan melanjutkan lirik lagu.

Petra mencoba menutupi kesedihannya dengan tetap tersenyum.

"Pet, ini untukmu dan putra-putrimu, dari Djaduk. Tidak ada yang memisahkan kita dengan Djaduk di dunia ini. Yang dimakamkan hanya baju dan raganya saja. Dia tetap ada bersama kita sampai kapan pun,” kata Idang Rasjidi.

Begitu turun panggung, Idang langsung terduduk, bersimbah keringat dan dengan masih tersisa air mata, Idang mulai menuturkan bahwa seharusnya sore itu menjadi penampilan pertamanya bersama Djaduk setelah sekian lama tak berjumpa.

Sejak setahun yang lalu, kata Idang, Djaduk sudah bertekad membawa Idang tampil di Ngayogjazz dengan lagu Mau Dibawa ke Mana.

"Katanya, 'mas, nyawa Ngayogjazz itu ada di Mas Idang, pokoke mas harus tampil dengan lagu ini' saya tanya kenapa, dia jawab 'lagu ini lagu pop asli, susah mengaransemennya jadi jaz. Tetapi kalau di tangan Mas Idang, saya yakin, pasti lagunya akan bertransformasi jadi jaz berkualitas' ada-ada saja Djaduk ini," kata Idang.

Masih melanjutkan ceritanya tentang Djaduk, Idang mengatakan ada satu kenangan yang menurutnya paling indah soal Djaduk, tiba-tiba melintas di benaknya saat dia tampil di panggung Umpak sore itu. Kenangan itu membuat dia benar-benar emosional, hingga tak mampu melanjutkan lirik lagu.

"Dulu sekali saya bilang 'Duk, aku pengin musik jaz bisa tampil di kampung, piye kira-kira menurutmu?' tiba-tiba Djaduk mewujudkannya melalui Ngayogjazz. Kemudian sebelum dia meninggal itu, dia bilang, 'Mas, saya banyak belajar dari mas Idang. Makasih banyak dan maafkan saya, Mas,' loh, kenapa kamu ini? Saya bilang begitu," kata Idang. Itulah yang membuat musisi gaek ini tak kuasa menahan emosinya di panggung.

Idang pun menyampaikan kekagumannya pada Djaduk. "Kelebihan Djaduk sebagai seorang seniman, Djaduk adalah Djaduk, dia tidak pernah menjadi orang lain, dan saya akan meneruskan pesannya, bahwa saya adalah orang tua untuk Ngayogjazz," kata Idang.



Sumber: Suara Pembaruan