Lelang 100 Karya Seni dan Budaya di Kamoro Berdaya

Lelang 100 Karya Seni dan Budaya di Kamoro Berdaya
Kegiatan lelang ukiran dinding berbentuk naga di Pameran Seni dan Budaya Kamoro, Jakarta, Kamis 5 Desember 2019. Kegiatan yang memamerkan dan melelang seni ukir dan anyaman Suku Kamoro ini diselenggarakan oleh Yayasan Maramowe Weaiku Kamorowe, Yayasan Lontar dan PTFI karena kesadaran pelestarian budaya lokal. ( Foto: BeritaSatu Photo / Emral Firdiansyah )
Dina Fitri Anisa / EAS Jumat, 6 Desember 2019 | 11:40 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Keberagaman budaya di Indonesia merupakan sumber daya nasional strategis yang berperan penting dalam pembangunan Indonesia. Menyadari hal itu, Yayasan Lontar bekerja sama dengan Yayasan Maramowe Weaiku Kamorowe dan PT Freeport Indonesia (PTFI) menyelenggarakan "Pameran dan Lelang Seni Ukir dan Anyaman Suku Kamoro" sejak Kamis-Sabtu, 5-7 Desember 2019, di Darmawangsa Residences.

Direktur Eksekutif Yayasan Lontar, Yuli Ismartono mengatakan pameran ini menampilkan lebih dari 100 karya seni dan budaya tradisional Suku Kamoro, yaitu Suku yang tinggal di wilayah pesisir Selatan Papua di Kabupaten Mimika dan bertetangga langsung dengan wilayah kerja PTFI. 

"Karya seni ukir dan anyam merupakan bentuk penuturan yang dilakukan Suku Kamoro dalam mewariskan budaya dan kearifan lokal ke generasi berikutnya. Kami meyakini bahwa kearifan lokal ini bisa berkontribusi besar kepada kekayaan pengetahuan secara global,” kata Yuli Ismartono saat membukaan pameran dan lelang, Kamis (5/12/2019).

Senada dengan pernyataan Yuli, pendiri Yayasan Maramowe Weaiku Kamorowe, Luluk Intarti pun menuturkan, suku Kamoro dikenal memiliki berbagai kekayaan budaya seperti ritual alam, upacara adat. seni ukir, anyaman, tarian dan hasil kerajinan. Selain itu, suku Kamoro juga dikenal sebagai suku yang memiliki kemampuan tinggi dalam hal seni ukir.

"Berbagai macam bentuk ukiran dipamerkan dalam event ini, mulai dari perisai, dayung, mangkuk sagu, gendang, dan barang-barang sehari-hari lainnya. Mereka juga membuat ukiran khusus yang disebut Wemawe, patung yang berbentuk manusia dan Mbitoro, totem yang dibuat untuk para leluhur,” ungkapnya saat dijumapi Beritasatu.com, Kamis (5/12/2019).

Selain pameran, lelang ukiran juga akan diselenggarakan dalam acara ini. Masing-masing karya seni memiliki keunikan tersendiri, dan memiliki kisah di balik ukiran tersebut. Hasil lelang yang terkumpul akan dikembalikan kepada pengukirnya, dan sebagian lagi akan digunakan untuk program pengembangan dan pelestarian seni budaya Kamoro.

"Kami tidak hanya hanya membantu dari segi pemasaran dan penjualan hasil karya ukiran, tetapi juga membekali para pengukir Suku Kamoro dengan berbagai macam ilmu demi meningkatkan kualitas hasil ukir yang mereka buat. Hal ini sangat membantu untuk menambah nilai jual hasil karya ukiran mereka,” terangnya.

Dalam lelang tersebut terdapat dua barang yang dijual, yaitu Eme atau yang dikenal dengan alat musik gebuk Tifa dan juga perisai Yamate dengan ukiran naga menghiasinya. Dua kerajinan tersebut dibanderol dengan harga Rp 3,5 juta dan Rp 1,5 juta.

Bagi Presiden Direktur PTFI, Tony Wenas karya seni yang dibuat suku Kamoro bisa menjadi salah satu perekat keberagaman Indonesia. Untuk itu, dirinya berharap masyarakat Indonesia dapat Iebih mengenal khasanah budaya Indonesia melalui event ini.

"Besar harapan kami, melalui upaya promosi dan pelestarian seni dan budaya lokal ini dapat memotivasi para pengukir untuk  terus berkarya dan menghasilkan karya seni berkualitas tinggi secara berkelanjutan. Mereka juga dapat menciptakan pertumbuhan ekonomi yang signifikan bagi masyarakat Kamoro dan Kabupaten Mimika secara lebih luas,” kata Tony Wenas.

Potensi Besar

Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata, Pemerintah Kabupaten Mimika, Muhammad Thoha, mengatakan seni dan budaya Suku Kamoro menjadi salah satu potensi besar pengembangan pariwisata di Kabupaten Mimika.

"Salah satunya melalui seni ukiran Kamoro yang kini memiliki kualitas yang tidak kalah dengan ukiran Asmat. Sinergi antar pemangku kepentingan di Timika bagi pengembangan ukiran Kamoro seperti yang dilakukan melalui event ini, dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat Kamoro," tambah Muhammad Thoha.

Hal ini pun diakui oleh salah satu pengrajin, Daniel Matameka (26). Sejak usia 15 tahun, dirinya telah belajar mengukir dari sang ayah. Sejak saat itu kecintaannya terhadap ukiran mulai tumbuh, dan kini karya-karya miliknya telah mendapatkan pasar di Jakarta, Yogyakarta, dan juga Bali.



Sumber: Suara Pembaruan