Julianto Eka Putra Komitmen Memutus Rantai Kemiskinan di Malang

Julianto Eka Putra Komitmen Memutus Rantai Kemiskinan di Malang
Julianto Eka Putra (Foto: SP/Dina Fitri Anisa)
Dina Fitri Anisa / EAS Selasa, 14 Januari 2020 | 19:24 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Saya dijebak Tuhan! Itulah jawaban frontal yang pernah diucapkan Julianto Eka Putra atau yang dikenal dengan sebuatan Koh Jul (47), saat ditanyakan Beritasatu.com tentang alasan membuat Sekolah Menengah Atas (SMA) Selamat Pagi Indonesia (SPI).

Sekolah yang terletak di Kota Batu, Malang ini juga dikenal sebagai ladang inspirasi dan motivasi, khususnya bagi milenial. Sekolah ini tidak hanya menyediakan pendidikan dan biaya hidup gratis bagi siswa-siswi dari keluarga miskin, tetapi juga mengajar seluruh siswanya untuk memutus rantai kemiskinan.

"Nama Selamat Pagi ini memiliki filosofi. Anak-anak yang bersekolah di sini adalah anak-anak yang hampir kehilangan masa depan karena tidak bisa sekolah. Kita pun melihat, pagi hari itu selalu menggambarkan semangat dan harapan baru. Dengan mereka ada di sini, kita berharap mereka bisa menemukan impian baru yang bisa dicapai dalam hidupnya,” jelas Koh Jul saat dijumpai di kawasan Jakarta Selatan, Senin (13/1/2020).

Sejak dibangun pada 2006, dan menerima siswa angkatan pertama pada 2007, Koh Jul bercerita, hampir seluruh siswa yang datang sangat tidak percaya diri. Bahkan sebagian dari siswa juga memiliki kemampuan intelektual yang buruk akibat asupan nutrisi yang kurang.

Awalnya bagi Koh Jul, kepribadian buruk para siswa adalah sebuah tantangan yang berat. Ia harus berusaha untuk menyembuhkan luka batin masa lalu anak didiknya. Ia pun mencari cara, agar para siswa yang tinggal di SPI ini perlahan bisa memiliki keinginan untuk sukses dan hasrat belajar demi meningkatkan kualitas diri.

SPI juga berusaha menerapkan sistem dan model kurikulum yang berbeda dari SMA pada umumnya. Koh Jul pun menyebutkan, hal yang diutamakan dalam proses belajar di SPI adalah pengembangan life skill. Lewat ilmu yang mereka dapat, para siswa bisa terlatih menjadi tenaga kerja profesional siap kerja.

“Perbandingan praktik dan teori adalah 80:20,” jelas pria yang juga meraih penghargaan Tendangan Andy Heroes 2018 ini.

Praktik pelajaran dalam sekolah juga langsung diaplikasikan pada beberapa divisi unit usaha yang dikelola oleh SPI. Mulai dari perhotelan, agen perjalanan tur, gedung pertunjukan, restoran, toko oleh-oleh, pertanian, musik, bahkan unit usaha terbaru yaitu, rumah produksi Butterfly Pictures.

Bukan sembarang unit usaha biasa, Koh Jul menyebut setiap divisi yang dibangun memiliki penghasilan dengan angka yang cukup fantastis, dengan rata-rata per bulan mencapai Rp 2 miliar. Agar setiap usaha yang dibangun memiliki standar kualitas yang baik, Koh Jul menerapkan metode experimental learning, khususnya di bidang jasa dan kuliner.

Para siswa-siswa yang terpilih diajak langsung untuk merasakan pelayanan dan makanan mewah di aneka restoran, hotel, bahkan kapal pesiar di Asia dan Eropa. Nantinya, pengalaman yang mereka dapatkan bisa diterapkan di bidang usaha yang mereka jalani.

"Melihat perkembangan ini, saya sekarang merasa beruntung. Saya bahagia melihat anak-anak ini kembali menemukan harapan masa depannya,” jelasnya dengan nada gembira.



Sumber: Suara Pembaruan