Filateli Indonesia Terancam Musnah

Filateli Indonesia Terancam Musnah
Ilustrasi pameran filateli ( Foto: Antara )
/ FER Senin, 16 Juli 2012 | 02:06 WIB
Selama ini anggota filateli kebanyakan angkatan tua atau opa-opa. Dan tidak ada anak-anak.

Keberadaan Filateli Indonesia terancam punah dengan hadirnya teknologi pesan singkat, internet, jejaring sosial dan smartphone yang kini mulai digemari masyarakat.

"Saat ini kita dihadapkan pada ancaman kepunahan filateli Indonesia yang mulai ditinggalkan," kata Manager Filateli PT Pos Indonesia, Tata Sugiarta, dalam acara peluncuran prangko burung langka Indonesia di Kebun Raya Bogor, Minggu.

Menurut Tata, ancaman kepunahan tersebut berasal dari hadirnya teknologi yang kian berkembang pesat.  Masyarakat kini dengan mudahnya mengirimkan pesan melalui pesan singkat, atau BBM dan email.

"Ditambah lagi hadirnya jejaring sosial, memudahkan orang berinteraksi secara instan," katanya.
 
Tidak hanya itu, lanjut Tata, tidak adanya regenerasi membuat keberadaan filateli Indonesia kian berkurang anggotanya.  Ia mengatakan, selama ini anggota filateli kebanyakan angkatan tua atau opa-opa. Dan tidak ada anak-anak dari anggota filateli tersebut yang meneruskannya. 

"Kondisi ini yang menjadi ancaman filateli Indonesia akan punah," katanya. 

Tata mengatakan, untuk melestarikan filateli Indonesia berbagai kegiatan telah diselenggarakan untuk menarik minat generasi muda dalam mengoleksi prangko. 
 
Selain menggelar kegiatan internasional, nasional dan lokal. Hampir setiap pekan, Perhimpunan Filateli Indonesia menggelar acara saling bertukar prangko, jual beli dan lelang.

"Dengan filateli ini banyak yang bisa dipelajari generasi muda, selain dapat mengenal warisan budaya dan sejarah bangsa yang dicetak dalam seri prangko, juga mengajarkan generasi muda cara berjualan dan lelang prangko," katanya.

Hal senada juga diungkapkan Ketua Umum Perhimpunan Filateli Indonesia Soeyono yang menyebutkan, pada era 50-an jumlah komunitas filateli di Indonesia mencapai satu juta orang.

"Tapi saat ini jumlah itu kian menurun. Seiring dengan berkurangnya minat penggunaan perangko di Indonesia," katanya.

Ia menjelaskan, zaman dahulu prangko dibuat sebagai alat bayar jasa pengiriman surat melalui PT Pos.  Seiring berjalannya waktu, perangko mulai ditinggalkan. Dengan hadirnya teknologi dan internet.
 
Menurut dia, untuk menjaga perangko tetap lestari, fungsi perangko tidak lagi dijadikan sebagai alat bayar tapi sebagai media pengenalan budaya, sejarah dan kelestarian lingkungan.

Hingga saat ini berbagai seri prangko dengan berbagai tema seperti kebudayaan, lingkungan, keanekaragaman hayati, batik dan banyak ragam lagi telah diterbitkan.

"Yang perlu diupayakan, para filateli Indonesia harus berupaya menjadikan prangko sebagai wadah atau media saran penyebaran informasi kepada masyarakat luas," katanya.