Denny JA Angkat Aksi Kamisan Menjadi Film Puisi Kritik

Denny JA Angkat Aksi Kamisan Menjadi Film Puisi Kritik
Ilustrasi film puisi kritik sosial berjudul "Kutunggu di Setiap Kamisan". (Foto: istimewa / istimewa)
Yuliantino Situmorang / YS Sabtu, 7 Maret 2020 | 22:48 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Penulis puisi esai Denny JA mengangkat aksi unjuk rasa Kamisan yang digelar setiap hari Kamis di seberang Istana Merdeka, menjadi sebuah film.

“Cara baru kritik sosial untuk era digital saat ini adalah dengan memfilmkan puisi kritik, dan disebar di media sosial,” ujar Denny JA dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (7/3/2020).

Ia meluncurkan inovasi terbarunya, sebuah film dari kritik sosial berjudul Kutunggu di Setiap Kamisan. Film itu tentang kisah cinta yang terselip di aksi 400 Kamis di seberang Istana.

Denny mengangkat demo kamisan yang sudah berlangsung 10 tahun lebih. Setiap Kamis, mereka berkumpul dengan payung hitam mencari keluarga yang hilang. Diduga keluarga yang hilang itu karena kasus politik.

“Lama dan bertahannya aksi demo setiap Kamis itu fenomenal,” ujar Denny.

Menurut dia, menunggu orang tercinta yang hilang, suami atau anak, atau anggota keluarga, sungguh menyentuh. Dipilihnya lokasi di seberang istana dengan payung hitam itu juga strategis.

Itu sebabnya, Denny ingin ikut mengeskpresikan aksi kamisan itu. Awalnya, di tahun 2015 Denny membuat puisi esai yang panjang soal aksi tersebut. Puisinya dipenuhi catatan kaki soal data aksi dan setting politiknya.

Namun, lanjut Denny, ia membaca hasil riset Survei of Public Participation in the Arts (2015), untuk populasi Amerika Serikat. Kesimpulannya, puisi semakin jarang dibaca. Dalam dunia seni, puisi dan opera, adalah dua hal yang paling kurang diminati. Sebaliknya, film menjadi ekspresi seni yang paling populer.

Sejak lama, sambung Denny, ia berniat memfilmkan, memvisualkan aneka puisi esainya. Bersama Hanung Bramantyo di tahun 2014, Denny memfilmkan lima puisi esainya menjadi lima film kritik sosial tema diskriminasi.

Tahun ini, Denny menggabungkan artis, aktor, dan animasi untuk filmnya yang keenam, yang bercerita tentang demo kamisan.

Film ini memang kisah cinta. Namun, dalam kisah cinta itu, tergambar pula aneka kisah politik yang menghilang paksakan warga negara. Tak hanya di tahun 1998, kisah orang hilang sudah terjadi jauh ke belakang sejak 1965.

Denny kini juga tengah mempersiapkan 34 skenario film yang semuanya berdasarkan dari puisi esai. Sebanyak 34 puisi esai yang akan difilmkan itu menggambarkan kearifan lokal 34 provinsi Indonesia.

Menurut Denny, puisi esai memang paling mudah difilmkan ketimbang puisi lain. Itu karena puisi esai memiliki plot, panjang, dan berbabak. Apalagi, di puisi esai terdapat catatan kaki yang memudahkan penulis skenario mengeksplorasi sumber kisah.

“Film berdasarkan puisi esai, dengan tema kritik sosial, akan menjadi karakter film saya di kemudian hari,” ujar Denny.



Sumber: PR/Suara Pembaruan