Didi Kempot Bongkar Sisi Lain Maskulinitas Lelaki Melalui Karya-karyanya

Didi Kempot Bongkar Sisi Lain Maskulinitas Lelaki Melalui Karya-karyanya
Penyanyi sekaligus musisi Didi Kempot saat mengisi acara di Istana Merdeka, Jakarta, beberapa waktu lalu. ( Foto: Suara Pembaruan/Joanito De Saojoao )
Winda Ayu Larasati / WIN Jumat, 8 Mei 2020 | 22:25 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kepergian penyanyi campursari sekaligus pencipta lagu Dionisius Prasetyo atau Didi Kempot meninggalkan duka mendalam bagi penggemarnya.

Pria kelahiran Surakarta, 31 Desember 1966 itu tutup usia karena serangan jantung pada 5 Mei 2020 pukul 07.30 WIB.

Didi Kempot dikenal masyarakat melalui lagu-lagunya yakni 'Stasiun Balapan' dan 'Sewu Kutho' pada awal 2000-an. Lalu, setelahnya beliau lama tidak muncul di dunia hiburan.

Namun, namanya kembali meroket dan dikenal anak-anak muda melalui lagu-lagunya yang bertema melankolis seperti putus cinta. Lagu-lagu itu seperti 'Cidro', 'Layang Kangen', 'Pamer Bojo',dan lainnya. Walau lirik lagunya berbahasa Jawa, namun Didi berhasil mengambil tempat di hati anak-anak muda.

Tak heran, jika dirinya mendapatkan julukan 'The Godfather of Brokenheart' oleh penggemarnya yang juga disebut 'Sobat Ambyar'. Disebut ambyar karena perasaan penggemar yang ambyar atau bercerai-berai saat mendengarkan atau menyanyikan lagu-lagu Didi Kempot.


Membongkar sisi lain maskulinitas pria

Lirik dalam lagu-lagu Didi Kempot mengungkapkan sisi lain maskulinitas laki-laki yang biasa terlihat kuat, memiliki kekuasaan, posisi lebih tinggi dan berwibawa.

Didi berusaha mengungkapkan bahwa tidak selamanya lelaki seperti itu dan tidak perlu takut jika terlihat lemah bahkan menangis. Hal itu terungkap dalam salah satu lagunya 'Tangise Ati' yang menggambarkan lelaki yang merana karena ditinggal pasangannya.

Walaupun beliau berasal dari suku Jawa yang lekat dengan tradisi patriarki, namun melalui lagu-lagunya, Didi mengakui peran perempuan yang mulai berubah seiring perkembangan zaman dan karir global yang memberikan kesempatan yang sama bagi perempuan dan laki-laki.

Seperti lagunya yang berjudul 'Layang Kangen' yang mengungkap realitas perempuan yang harus bekerja di luar negeri meninggalkan suami dan keluarganya. Tentu menyelipkan tema patah hati dalam lirik lagu tersebut.

Melalui lagu-lagunya, Didi Kempot mengungkapkan sosok laki-laki yang bisa rapuh dan menawarkan nilai-nilai maskulinitas yang egaliter serta bisa menerima arus perubahan. Tidak hanya itu, ia juga mengakui peran perempuan yang lebih kuat.

Membawa campursari melintasi batas

Selain itu, Didi Kempot juga berhasil membawa lagu campursari melintasi batas ekonomi, sosial dan internasional. Tidak hanya dikenal di Indonesia, lagu dan musiknya dikenal di Belanda dan Suriname.

Ratusan lagu telah ia ciptakan dan dinikmati oleh semua kalangan. Namun, Tuhan berkehendak lain, Didi harus kembali ke pangkuan sang pencipta saat berada di puncak karir. Selamat jalan Didi Kempot 'The Godfather of Brokenheart', karya-karyamu abadi di hati para penggemar.



Sumber: The Conversation, Pop Bela