Ruang Digital, Wadah Baru Seniman Indonesia Berkarya

Ruang Digital, Wadah Baru Seniman Indonesia Berkarya
Seniman tari kontemporer, Gatot Gunawan menunjukkan koreografi secara daring pada peringatan Hari Tari Sedunia Choreo-Instant Stay At Home di Bandung, Jawa Barat, belum lama ini. ( Foto: Antara Foto )
Dina Fitri Anisa / EAS Selasa, 12 Mei 2020 | 19:26 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Sebanyak 40.081 seniman dan budayawan di Indonesia merasakan dampak perubahan dari pandemi Covid-19. Perubahan yang berkaitan erat dengan kehidupan ini memaksa mereka untuk belajar akrab dengan ruang digital. Kini, satu-satunya wadah yang dimiliki para seniman dan budayawan adalah ruang digital untuk berkarya.

Ketua Umum Federasi Serikat Musisi Indonesia (FSMI), Candra Darusman menafsirkan, pandemi Covid-19 membawa kondisi katalis di Indonesia. Sebuah kondisi atau keadaan yang dapat mempercepat proses terjadinya sesuatu.

"Pandemi jadi katalis hijrahnya kegiatan yang biasa dilakukan fisik ke digital. Meski awalnya kita belum siap, hikmahnya, kita semua berusaha mempersiapkan diri dari segi sarana prasarana,” jelas Candra dalam diskusi virtual bertajuk “Tantangan dan Peluang Pelaku Budaya Pascacovid-19”, Selasa (12/5/2020).

Pelantun Kau ini pun memaparkan, saat pandemi para musisi semakin giat memanfaatkan media daring. Namun dilemanya, berkarya di media daring sejauh ini hanya sukses terhadap mereka yang telah memiliki penggemar. Sementara bagi para musisi baru atau yang tidak memiliki penggemar, kesulitan.

"Saat ini banyak inisiatif membuat konser di platform digital. Ini adalah gebrakan baru, meski belum mainstream di masyarakat. Memang, konser live tidak akan terganti karena melibatkan emosi. Tetapi di luar semua ini, kita tetap harus menggali dan mempersiapkan, karena saat pandemi Covid-19 berlalu, dunia digital tetap eksis,” tuturnya.

Senada dengan Candra, praktisi teater, Elyandra Widharta mengatakan pemanfaatan dunia digital adalah salah satu jalan agar para pelaku seni dan teater bisa terus berproduksi. Akan tetapi, tantangan yang dihadapi juga banyak, antara lain edukasi dan sarana prasarana.

"Beberapa pelaku seni sudah melakukan pertunjukan daring untuk publish karya mereka. Namun yang terjadi di beberapa daerah ada pelaku seni tradisi yang kurang memiliki animo, karena pemahaman digital belum mereka kuasai. Saya sepakat dan mendukung, ketika kelak pemerintah membuat platform yang bisa membimbing pelaku seni tradisi di daerah,” jelas Elyandra.



Sumber: BeritaSatu.com