Tantangan Baru Para Musisi di Era New Normal

Tantangan Baru Para Musisi di Era New Normal
Didi Kempot sukses gelar konser dari rumah dan mengumpulkan donasi hingga Rp 5,5 miliar, Sabtu 11 April 2020. (Foto: istimewa)
Dina Fitri Anisa / EAS Jumat, 29 Mei 2020 | 23:05 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Perkembangan teknologi sudah tentu memengaruhi industri musik, mulai dari produksi hingga distribusi. Terlebih saat menginjak fase nomal baru atau new normal, situs web video dan juga layanan musik digital diramalkan semakin menggeliat.

Hal ini pun diamini oleh pengamat musik, Bens Leo. Ia mengatakan, menyongsong fase normal baru, layanan digital semakin diminati sebagai wadah produksi, promosi, sekaligus distribusi.

"Di era pandemi, para musisi memang bisa berkreasi meski di rumah saja. Mereka menggarap rekaman dan berkolaborasi menggunakan sarana digital yang ada. Animo dari masyarakat pun besar, terlihat dari bagaimana konser amal virtual yang berhasil mengumpulkan dana hingga triliunan rupiah. Jadi, tidak menutup kemungkinan para musisi dapat pundi melalui konser virtual di kemudian hari,” jelas Bens saat dihubungi Beritasatu.com, baru-baru ini.

Disamping memberikan kemudahan, rupanya era digital ini juga membawa banyak tantangan yang harus segera diatasi. Terutama dalam perlindungan hak cipta serta royalti yang masih menjadi pertanyaan para musisi.

Dunia digital memang seolah memberi kebebasan para penikmat musik untuk memiliki karya-karya yang mereka sukai. Dengan mudah, mereka mengunggah karya dari hasil menyanyikan dan mengaransemen kembali lagu orang lain. Hal tersebut bahkan terkesan lumrah dilakukan. Tak heran banyak artis baru mencoba peruntungannya dengan membawakan lagu cover version dengan harapan lebih cepat sukses dan terkenal.

Padahal jika mau jujur dengan nurani, tindakan ini merupakan perbuatan yang melanggar hak cipta, sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta.

Tantangan berikutnya, dalam berkarya di era digitalisasi jika tanpa edukasi yang matang maka para pelaku musik khususnya para musisi bisa terjebak dalam persoalan royalti.

"Kalau penjualan fisik bisa dipantau dari hasil penjualan. Kalau di era digital, mereka baru mendapatkan keuntungan setelah mendatangkan jumlah viewers yang banyak. Akhirnya musisi kebingungan sendiri untuk menjual karyanya kalau tidak terbiasa gunakan platform digital,” jelasnya.

Royalti
Salah satu contoh simpang siur royalti di era digital terjadi pada pelantun Pamer Bojo Cendol Dawet, mendiang Didi Kempot.

Dulu, almarhum sempat mengeluhkan minimnya musisi dan pihak lain yang minta izin untuk menggunakan beberapa lagu ciptaannya di panggung acara atau pun di media sosial. Hal itu erat kaitannya dengan perjanjian royalti dengan pihak manajemen, label, atau pihak lain di balik pemasaran mereka.

"Saya selalu sampaikan lebih baik izin dahulu kalau mau menyanyikan cover lagu, karena itu ada hak ciptanya, ada penciptanya. Bahkan, jika si musisi sudah meninggal pun tetap minta izin dengan keluarganya atau ahli warisnya,” ujar Didi Kempot tahun lalu.

Istri Didi Kempot, Yan Vellia juga menyebut pihaknya akan mengurus royalti dari karya-karya yang diciptakan oleh sang suami. Ia mengatakan, hal ini perlu diurus dengan serius karena sudah menjadi hak dari seorang musisi.

"Itu memang peninggalan Mas Didi, jadi kami harus melanjutkan,” terangnya.



Sumber: BeritaSatu.com