Teater Daring, Upaya Pekerja Seni Bertahan Selama Pandemi

Teater Daring, Upaya Pekerja Seni Bertahan Selama Pandemi
Ilustrasi pertunjukan di Ciputra Artpreneur Theater bertajuk "Operet Anak Rusun: Selendang Arimbi". (Foto: SP/Dina Fitri Anisa)
Dina Fitri Anisa / EAS Senin, 8 Juni 2020 | 22:18 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Badai pandemi Covid-19 belum juga mereda. Demi menekan penyebaran virus tersebut, seluruh aktivitas kesenian termasuk pertunjukan di panggung teater harus dihentikan. Alhasil pekerja seni teater harus mengencangkan ikat pinggang, dan mencari jalan alternatif agar bisa bertahan. Satu di antaranya adalah mengakrabkan diri dengan pentas teater dalam jaringan (daring).

Sementara agar bisa terus bernapas, para pelaku seni dan teater kini harus memiliki kemampuan untuk memanfaatkan jagat maya. Faktanya, pandemi Covid-19 memunculkan ragam pertunjukan teater daring yang di masa sebelum wabah tak banyak dipikirkan.

Sebuah tontonan dengan menayangkan dokumentasi lengkap melalui situs video streaming dipilih pihak Titimangsa Foundation. Bekerja sama dengan Bakti Budaya Djarum Foundation, beberapa pertunjukan teater Titimangsa seperti Bunga Penutup Abad, Perempuan-Perempuan Chairil, dan Nyanyian Sunyi Revolusi pun diputar kembali untuk umum.

"Jadi sekarang semua bertahan dengan kreativitas masing-masing, dan mulai beradaptasi dengan situasi. Semisal nanti buat pertunjukan, mungkin kita buat dalam ruang lingkup yang terbatas, tetapi tidak ada penonton di kala syuting dan ditampilkan lewat live streaming. Itu bisa jadi salah satu pilihan alternatif dan tetap bisa melibatkan beberapa kru meski tidak banyak,” jelas pendiri Titimangsa Foundation, Happy Salma kepada Beritasatu.com, Senin (8/6/2020).

Pun demikian, Happy mengatakan bahwa media digital hanyalah jalan alternatif, karena pada hakikatnya pertunjukan teater akan terasa lebih hidup bila ditonton secara langsung. Namun, untuk menanti masa krisis ini berakhir, jalan alternatif harus dicari demi bisa mempertahankan diri.

"Selama ini kita mungkin berpikir hal materi. Sekarang, kita diberi jeda untuk berpikir, dan bermeditasi. Ini adalah kesempatan emas dan pengalaman batin yang tidak bisa didapat oleh generasi baru nanti. Jadikan kesempatan ini untuk saling membantu dan mengulurkan tangan, bukan bantu basa basi,” terangnya.

Di tempat terpisah, sutradara Teater Koma, Rangga Riantiarno, kepada Beritasatu.com mengatakan, di masa ini para pekerja kreatif yang penghidupannya hanya bergantung kepada seni pertunjukan praktis memang tidak mengantongi penghasilan sama sekali.

Menurutnya, kenyataan getir ini pun harus diterima dengan lapang. Meski dalam hati ia merasa sangat khawatir, apabila nantinya dunia seni Indonesia akan kehilangan banyak pelaku dan pekerja seni pertunjukan.

"Kenyataan yang harus diterima adalah bahwa kesenian bukanlah bidang yang diprioritaskan, terlebih lagi dalam masa seperti ini. Jadi bagi saya persoalan para pelaku seni pertunjukan dengan kondisi saat ini adalah mencari nafkah, entah dari beragam pertunjukan apa pun bentuknya atau sumber lain agar bisa sekadar bertahan hidup,” terangnya.



Sumber: BeritaSatu.com