Rekam Pandemi, Jaring Pengaman untuk Seniman Nusantara

Rekam Pandemi, Jaring Pengaman untuk Seniman Nusantara
Sejumlah seniman tari dari kelompok Bleknong Pekandangan terpaksa mengamen selama pandemi Covid-19, di jalan perkampungan Desa Pekandangan, Indramayu, Jawa Barat, belum lama ini. (Foto: Antara Foto)
Dina Fitri Anisa / EAS Kamis, 25 Juni 2020 | 22:41 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Wabah Covid-19 memberikan dampak buruk bagi hampir semua profesi, termasuk di antaranya 226.586 pekerja seniman dan kreatif di Indonesia. Berkaca dari hal tersebut, Asosiasi Dokumenteris Nusantara (ADN) dan Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan mengembangkan program jaring pengaman sosial bernama Rekam Pandemi untuk pekerja seni.

Direktur Jenderal Kebudayaan, Hilmar Farid menjelaskan, program ini diikuti oleh 300 dokumenteris yang tersebar di 32 wilayah di Tanah Air. Mereka berupaya untuk mendokumentasikan perubahan signifikan sosial dan budaya masyarakat Indonesia dalam menghadapi pandemi global terbesar dalam kurun waktu hampir satu abad terakhir.

“Harapan akhirnya, hasil dokumentasi ini bisa menyatukan memori kolektif masyarakat Indonesia,” ungkap Hilmar dalam jumpa pers virtual di saluran YouTube Budaya Saya, Kamis (25/6/2020).

Dengan konsep tersebut, nantinya karya yang muncul akan kental dengan perubahan dan persoalan lokal yang tengah dihadapi di banyak wilayah. Bagaimana persoalan itu dihadapi, tentu akan menjadi satu pengetahuan, referensi, dan pustaka baru yang bisa dibagikan ke ruang yang lebih luas.

“Dalam rapat bersama Unesco saya juga menyempatkan diri memperkenalkan program ini, dan mendapat sambutan baik. Program ini merupakan arsip kemanusiaan yang sedang dibuat dokumentarisnya. Rekamannya sangat signifikan, bukan hanya artistik tetapi sosial,” jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua ADN Tonny Trimarsanto menjabarkan bahwa program Rekam Pandemi ini setidaknya mewakili cara tutur audio visual yang sangat Indonesia. Pola rekaman yang dikemas dalam film dokumenter pendek dilakukan oleh anggota ADN yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

“Program ini menjadi penting untuk direkam dan didokumentasikan. Selama ini kita masih lemah tentang kesadaran akan dokumentasi. Sementara teknologi sudah berkembang pesat. Mungkin rekaman banyak, tetapi pola pengarsipan itu yang sebenarnya penting untuk kita lakukan di masa ini,” kata Tonny.



Sumber: BeritaSatu.com