Najwa Shihab Gemar Membaca Karya Sastra

Najwa Shihab Gemar Membaca Karya Sastra
Najwa Shihab (Foto: SP/Dina Fitri Anisa / isimewa)
Dina Fitri Anisa / EAS Senin, 6 Juli 2020 | 21:17 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Bagi sebagian orang, membaca karya sastra sering dianggap sebelah mata dibandingkan membaca buku ilmu pengetahuan yang lain. Padahal, menurut pembawa acara Najwa Shihab, membaca karya sastra seperti novel, cerpen, maupun antologi puisi akan memberikan banyak faedah bagi pembacanya.

Dalam jumpa pers virtual Sandiwara Sastra, Senin (6/7/2020) perempuan yang akrab disapa Nana ini menyebut dua alasan mengapa masyarakat Indonesia penting meluangkan waktunya untuk membaca karya sastra.

Pertama, karya sastra akan membuka pintu pembacanya untuk menjelajahi waktu yang belum pernah ia jejaki. Menurut Nana, melalui sastra pikiran sang pembaca tidak terkungkung dan terpenjara dalam keterbatasan akan situasi yang dialami dan disaksikan pada masa kini.

Kedua, dengan membaca sastra seseorang akan terbiasa berinteraksi dengan bahasa, kalimat, serta ungkapan baru. Dengan demikian, sastra secara tidak langsung akan memberikan pembacanya kekayaan ilmu bahasa.

"Kalau kita ngobrol hanya pakai bahasa yang sudah jadi. Intinya kalau kita menambah kata baru, serta kosakata baru, pilihan untuk mengartikulasikan ide jadi jauh lebih banyak. Kemampuan kita untuk mengungkapkan gagasan, menyakinkan orang, itu juga akan bertambah, karena kosakata lebih kaya,” terang Najwa Shihab.

Kecintaan Nana terhadap karya akhirnya membawanya pada sebuah proyek inovasi siniar atau podcast bertajuk Sandiwara Sastra, yang diusung oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Titimangsa Foundation. Dalam proyek tersebut, ia dan puluhan aktor Indonesia lainnya berupaya untuk alih wahanakan sastra dalam bentuk sandiwara audio dengan durasi 30 menit.

“Ini pengalaman pertama yang memberi banyak ilmu dan juga pembelajaran bagi saya. Dalam Sandiwara Sastra, saya akan membawakan salah satu cerpen dalam buku milik Pramoedya Ananta Toer berjudul Berita dari Kebayoran yang memperlihatkan potret suram negeri, tetapi digambarkan dengan indah oleh Pram,” tukas Najwa Shihab.



Sumber: BeritaSatu.com