Pelaku Seni Budaya Kembali Produktif dengan Protokol Kesehatan

Pelaku Seni Budaya Kembali Produktif dengan Protokol Kesehatan
Dua seniman membawakan Tari Oleg Tamulilingan dalam pagelaran tari Bali klasik di Tanah Lot Art and Food Festival #3, Tabanan, Bali, Sabtu 14 Maret 2020. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program pelestarian seni budaya Bali sekaligus untuk membantu pemulihan pariwisata yang terpuruk akibat wabah Covid-19. (Foto: Antara Foto)
Dina Fitri Anisa / EAS Selasa, 7 Juli 2020 | 21:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) serta Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemparekraf) resmi merilis surat keputusan bersama (SKB) terkait percepatan penanganan Covid-19 di lingkungan kebudayaan dan ekonomi kreatif secara virtual, Selasa (7/7/2020). Protokol disusun agar pekerja seni dan budaya bisa kembali produktif di masa kebiasaan baru atau normal baru ini.

Direktur Jenderal Kebudayaan Kemdikbud Hilmar Farid mengatakan, kegiatan kebudayaan harus tetap hidup di masa sulit ini, dengan memastikan kesehatan dan keselamatan para pelaku budaya. Protokol di bidang kebudayaan dan ekonomi kreatif ini akan menjadi dasar kegiatan bagi para pelaku budaya di lapangan.

Adanya protokol, sektor kebudayaan pelan-pelan bisa bergeliat setelah beberapa bulan terakhir melamban akibat pandemi.

"SKB menjadi pegangan yang sifatnya legal, dengan dasar hukum yang jelas untuk menjalankan kegiatan-kegiatan yang terkait kebudayaan, dan juga ekonomi kreatif secara khusus. Saya kira banyak yang menunggu, terutama para penyelenggara kegiatan-kegiatan produksi film dan juga tempat-tempat pertunjukan, bioskop, cagar budaya, museum,” terang Hilmar.

Selanjutnya SKB ini akan diturunkan menjadi panduan teknis bagi penyelenggara. Daerah diberikan kewenangan dalam membuat panduan teknis kegiatannya masing-masing, dengan syarat prosedur turunan yang dibuat tidak boleh lebih longgar dari panduan tenis pada SKB. Seperti kebijakan wajib menggunakan masker, sterilisasi tempat kegiatan, hingga pengecekan suhu tubuh pekerja dan pengunjung.

“Kita menyusun panduan teknis tidak boleh berkurang dari apa yang sudah ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan, tetapi kalau mau lebih ketat itu dipersilahkan,” terangnya.

Hilmar juga berharap SKB ini dapat disosialisasikan lebih luas oleh para pemangku kepentingan dan media, sehingga penerjemahan dari panduan teknis ini dapat terlaksana dengan baik.

"Hal yang terpenting implementasinya. Perlu gotong royong sosialisasi panduan teknis ini sehingga betul-betul dilaksanakan,” tegas Hilmar.

Dalam kesempatan yang sama Direktur Industri Kreatif Film Televisi dan Animasi Kemparekraf, Syaifullah, mengatakan terbitnya SKB merupakan jalan tengah menggerakkan ekonomi. Kendati demikian, kesehatan dan keselamatan pekerja dan juga masyarakat adalah hal yang terpenting.

Dirinya meminta agar para asosiasi dari pekerja seni maupun industri kreatif untuk dapat menerapkan SKB dan dipatuhi sehingga terhindar dari Covid-19.

"SKB ini tidak jadi arti apa-apa kalau tidak ada langkah konkret. Kita memohon industri menerapkan di lingkungan kerja masing-masing. Kita mohon untuk di implementasikan agar ini bisa dipatuhi bersama-sama,” pungkas Syaifullah.



Sumber: BeritaSatu.com