Bongkar Sindikat Penggelapan Mobil, Polisi Tangkap 7 Tersangka

Bongkar Sindikat Penggelapan Mobil, Polisi Tangkap 7 Tersangka
Aparat Sub Direktorat Kendaraan Bermotor Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro, membongkar sindikat penggelapan dan penadahan mobil milik warga negara asing (WNA). ( Foto: Beritasatu Photo / Bayu Marhaenjati )
Bayu Marhaenjati / FER Kamis, 14 Maret 2019 | 18:35 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Aparat Sub Direktorat Kendaraan Bermotor Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro, membongkar sindikat penggelapan dan penadahan mobil milik warga negara asing (WNA) asal Korea berinisial MK. Polisi mengangkap tujuh orang tersangka dalam kasus ini, di Jakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Raden Prabowo Argo Yuwono mengatakan, pengungkapan kasus ini bermula dari laporan Dadang Iskandar, pegawai salah satu perusahaan, di Gedung Menara Jamsostek Tower, Jalan Gatot Subroto Kavling 38, Kuningan Barat, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.

"Dia (saksi pelapor) bekerja di perusahaan orang asing asal Korea. Singkat cerita, orang Korea (MK) ini butuh driver. Kebetulan saksi pelapor ini diminta mencari," ujar Argo, di Mapolda Metro Jaya, Kamis (14/3).

Dikatakan Argo, selanjutnya pelaku berinisial AH melamar sebagai sopir pribadi dan diterima. Namun, baru satu hari bekerja pelaku langsung membawa kabur mobil Toyota Kijang Innova Venturer warna Hitam Metalik dengan nomor polisi S1563 ZI milik korban MK. Pelaku sempat mengantar korban ke kantor, namun ketika hendak pulang yang bersangkutan tidak bisa dihubungi.

"Sudah ditunggu-tunggu nggak ada kabar. Akhirnya, dilaporkan ke Polsek Mampang Prapatan," ungkap Argo.

Menurut Argo, laporan yang dibuat akhir Desember 2018 itu kemudian ditarik ke Polda Metro Jaya, karena ada indikasi dilakukan sindikat besar dengan lokasi di luar Jakarta. Tim Subdit Ranmor Ditreskrimum Polda Metro Jaya, kemudian membentuk tim dan melakukan penyelidikan.

"Tim bergerak, dan pada bulan Februari (tanggal 14), tim berhasil menangkap AH, di rumahnya, di Tegal," kata Argo.

Argo melanjutkan, ketika diinterogasi, AH menyampaikan kalau mobil itu telah dijual kepada orang lain. "Lalu, kita cari siapa yang menerima penjualan mobil itu. Kami dapatkan seorang penadah berinisial AB, di Tegal, Jawa Tengah. Lalu, kita tanya penadah itu ternyata dari hasil interogasi dia ini sudah melakukan pembelian mobil dengan harga tak sesuai harga normal dan tidak dilengkapi surat sah berkali-kali," jelas Argo.

Argo mengungkapkan, penyidik kemudian melakukan pengembangan dan menangkap lima tersangka lain berinisal ES, RH, AY, EL, dan HJ, di Jawa Timur. Semuanya, berperan sebagai penadah.

"Jadi kendaraan dari Jakarta, dilempar ke Jawa Tengah, lalu dilempar ke Jawa Timur. Penyidik mengumpulkan barang bukti 53 kendaraan roda empat berbagai merek. Mayoritas mobil ini masih dalam kredit, kemudian digelapkan. Mobil itu, kalau dipindahtangankan tanpa seizin leasing tidak diperbolehkan," jelas Argo.

Argo mengimbau, kepada masyarakat agar tidak langsung percaya apabila ada orang menawarkan sebuah mobil dengan harga jauh lebih murah dari pasaran. Harap cek surat-surat kendaraannya sebelum membeli.

"Pertama dilihat surat-suratnya apakah sama dengan nomor seri mesinnya, lalu dicek ke Samsat, biar ketahuan mobil itu sah, legal atau tidak. Hati-hati kalau beli mobil dicek kembali kelengkapan administrasinya," tandasnya.

Sementara itu, Kasubdit Ranmor Ditreskrimum Polda Metro Jaya AKBP Sapta menegaskan, para pelaku merupakan satu sindikat.

"Intinya mereka satu sindikat berkaitan. Jadi pada saat kita tangkap, kemudian hasil keterangan pelaku utama (AH) kita kembangkan kepada penadah. Ternyata setelah kita periksa penadahnya memang banyak laporan ke tempat kita," katanya.

Menurut Sapta, para pelaku menjual mobil hasil penggelapan dengan harga murah di bawah pasaran. Mereka sudah beraksi sekitar 2 tahunan.

"Tidak (mobil tidak dibongkar), tetap seperti itu. Mereka jual dengan harga di bawah standar. Sudah pemain lama, 2 tahunan. Mayoritas mobil ini, mobil dari Jakarta dibawa ke daerah (Jawa Tengah dan Jawa Timur). Dia itu terima operan dari Jakarta," ungkap Sapta.

Sapta menyebutkan, para pelaku bisa mendapatkan untung Rp 50 hingga Rp 100 juta per unit. "Ya diitung saja unit yang dia jual. Kalau dia dapat Rp 50 sampai Rp 100 juta, ya dikali saja," tandas Sapta.



Sumber: BeritaSatu.com