Bobol ATM, Ramyadjie Priambodo Melanggar Pasal Berlapis

Bobol ATM, Ramyadjie Priambodo Melanggar Pasal Berlapis
Ratusan kartu ATM kloning hasil skimming. ( Foto: BeritaSatu.com/Farouk Arnaz )
Bayu Marhaenjati / HA Jumat, 22 Maret 2019 | 04:14 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pakar Hukum Pidana Romli Atmasasmita menilai tersangka Ramyadjie Priambodo melanggar pasal berlapis terkait kasus pembobolan data nasabah bank dengan modus skimming di mesin ATM.

Selain melanggar pasal di dalam Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) tentang kejahatan siber, dia juga diduga melanggar undang-undang terkait tindak pidana perbankan dan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).

"Kalau dari kaca mata hukum, kasus skimming ini kan pencurian. Yang jelas undang-undang perbankan dilanggar, undang-undang siber dilanggar, dia memakai alat siber kan, KUHP dilanggar," ujar Romli, Kamis (21/3).

Dikatakan Romli, kasus pembobolan data nasabah yang diduga dilakukan Ramyadjie dapat mengganggu perbankan nasional. Karena itu, Romli menyarankan agar Bank Indonesia dapat segera mengeluarkan peraturan baru terkait keamanan dan penggunaan kartu.

"Untuk pengawasannya dan penggunaanya sehingga aman. Memang ada password, ada ini, tapi bisa dibobol. PIN (nomor pengenal pribadi) kita kok bisa dibobol. Polisi pasti tahu lah bagaimana cara mencegah. Kalau ini dibiarkan bisa goncang perbankan, kan duit nasabah diambil, dia harus bayar dari mana," ungkapnya.

Romli menduga kasus skimming tidak hanya dilakukan sendirian, tetapi berkelompok. Karena pasti ada yang membuat alatnya, memberikan petunjuk dan lainnya. "Jadi nggak sendirian, tapi kelompok, terorganisir. Kejahatan terorganisir, bukan perorangan," katanya.

Sementara itu, Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Raden Prabowo Argo Yuwono mengatakan, Ramyadjie dikenakan pasal terkait dugaan tindak pidana pencurian dan atau mengakses sistem milik orang lain dan atau transfer dana dan atau tindak pidana pencucian uang.

"Sebagaimana dimaksud dalam Pasal 362 KUHP, dan atau Pasal 30 juncto Pasal 46 Undang-undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-undang Nomor 11 tahun 2008 tentang ITE, dan atau Pasal 81 Undang-undang Nomor 3 tahun 2011 tentang transfer dana, dan atau Pasal 3, 4, 5 Undang-undang Nomor 8 tahun 2010 tentang TPPU, yang terjadi pada bulan Desember 2018 sampai dengan Januari 2019," katanya.

Argo menuturkan, yang bersangkutan terancam dihukum di atas 5 tahun bui atas perbuatannya. "Hukuman di atas 5 tahun ya," ucapnya.

Sebelumnya diberitakan, Ramyadjie ditangkap terkait kasus pembobolan ATM dengan modus skimming, di apartemennya, di kawasan Jenderal Sudirman, Kabayoran Baru, Jakarta Selatan, 26 Februari lalu. Polisi membekuknya, setelah melakukan penyelidikan terkait laporan salah satu bank yang menjadi korban pembobolan data atau rekening nasabah.

Penyidik juga menyita barang bukti satu mesin ATM (offline), kartu ATM polos berisi data nasabah, kartu ATM salah satu bank, serta laptop ketika melakukan penggeledahan di rumah tersangka, di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.



Sumber: BeritaSatu.com