HMT Tour and Travel Dilaporkan Terkait Kasus Dugaan Penipuan

HMT Tour and Travel Dilaporkan Terkait Kasus Dugaan Penipuan
Ilustrasi penipuan dana modal. ( Foto: Istimewa )
Bayu Marhaenjati / FMB Sabtu, 11 Mei 2019 | 10:07 WIB

Jakarta, Beritasatu.com -Ari Yudhanto melaporkan pemilik PT Hidup Makmur Terencana (HMT) Tour and Travel, terkait kasus dugaan penipuan dan tindak pidana pencucian uang (TPPU), ke Polda Metro Jaya. Laporan itu dibuat ihwal jadwal keberangkatan wisata religi yang batal terlaksana.

"Hari ini kami melaporkan saudara Roni Tambayong sebagai owner dan direktur utama PT Hidup Makmur Terencana (HMT) Tour and Travel atas kasus yang kami anggap sebagai penipuan dan TPPU," ujar Ari, Jumat (10/5/2019).

Dikatakan Ari, pihak travel berjanji memberangkatkan dirinya dan peserta tur wisata religi lainnya, tanggal 22 Februari 2019 lalu. Namun, hingga saat ini tidak terlaksana.

"Sampai saat ini, sesuai dengan komitmen mereka untuk mengganti melakukan refund terhadap dana yang sudah kami berikan tidak terealisir. Demikian juga dengan rekan-rekan kami untuk grup-grup tur yang lain belum ada kejelasannya. Intinya adalah kami melaporkan terhadap apa yang sudah dijanjikan mereka beberapa kali, mereka tidak dapat merealisasikan apa yang sudah dijanjikan kepada kami. Harusnya, tanggal 6 April kemarin, sampai dengan saat ini juga tidak terealisasi," ungkapnya.

Ari menyebutkan, kurang lebih ada 2.000 orang -berbeda grup- yang mendaftar perjalanan wisata religi. Ari dan grupnya sendiri tercatat berjumlah 168 orang, yang masing-masing membayar biaya sekitar Rp 30 juta.

"Kami maunya refund. Ya alasan cash flow itu adalah internal mereka. Artinya pertanyaan kami adalah untuk grup-grup yang sudah membayar itu ke mana? Kami yang sudah membayar kembalikan saja dana refund kami, itu yang perlu dilakukan," katanya.

"Itu sudah kami sampaikan, tetapi sampai dengan beberapa kali pertemuan mereka tidak melakukan apa yang menjadi kesepakatan. Mereka sudah membuat surat kesepakatan pernyataan bahwa akan membayar tanggal 6 April, tetapi sampai saat ini mereka tidak merealisasikan dan ada tendensi yang kurang baik karena rekan-rekan dan para korban ini juga semakin lama akan menjadi bola salju," katanya.

Sementara itu, salah satu korban lainnya bernama Cecilia mengatakan, dirinya sempat berangkat menuju ke Israel, namun di perjalanan pihak travel meminta uang kepadanya sebesar $ 500 dollar.

"Sebelum masuk Israel dimintai duit per orang 500 dollar. Kalau tidak mau bayar, tidak bisa masuk Israel dan akan ditelantarkan. Jadi kita semua grup harus membayar, saya juga. Saya sudah ikut turnya itu, tetapi sampai di sana mau masuk Israel nggak boleh karena harus bayar lagi 500 dollar," jelasnya.

Pihak travel berjanji akan mengembalikan uang $ 500 dollar itu, ketika kembali ke Tanah Air. Namun, hingga saat ini belum terlaksana.

"Sampai di Tanah Air saya langsung ke kantornya. Ada dimintai surat, dikasih surat perjanjian hutang yang katanya akan dibayarkan dua bulan setelah sampai di Tanah Air. Tapi setelah saya tanyakan lagi, ternyata dimundurin lagi pembayarannya. Jadi kami datang ke Polda Metro Jaya ini untuk melaporkan itu," tandasnya.

Ari melaporkan PT Hidup Makmur Terencana (HMT) Tour and Travel Ronny B Tambayong dengan nomor laporan polisi LP/2871/V/2019/PMJ/Dit. Reskrimum tertanggal 10 Mei 2019, terkait dugaan penipuan dan TPPU yang diatur dalam Pasal 378 KUHP dan Pasal 3, 4, 5 UU RI Nomor 8 Tahun 2010.



Sumber: BeritaSatu.com