Depok Jadi Wilayah Rawan Transaksi Narkoba

Depok Jadi Wilayah Rawan Transaksi Narkoba
Indonesia darurat narkoba. ( Foto: Antara )
Bhakti Hariani / FMB Rabu, 26 Juni 2019 | 15:19 WIB

Depok, Beritasatu.com - Kota Depok, Jawa Barat menjadi wilayah rawan terjadinya transaksi narkoba. Depok dinilai sebagai wilayah strategis karena letaknya berbatasan dengan ibu kota DKI Jakarta.

Kepala Badan Narkotika Nasional Kota Depok Rusli Lubis menuturkan, Depok menjadi tempat transaksi perdagangan narkoba di mana pembeli/ pengguna dan pengedarnya berasal dari luar Depok. Seperti salah satu contoh kasus di mana pengedarnya berasal dari Ace, sedangkan penggunanya berasal dari Bekasi.

"Depok ini strategis. Makanya banyak transaksi narkoba ada di Depok. Sedangkan orang Depok yang terlibat dalam dunia narkotika sendiri jarang yang merupakan pengedar, 90 persennya pengguna narkoba. Mayoritas menggunakan jenis sabu dan ganja,"ujar Rusli kepada SP, Rabu (26/6/2019) usai acara peringatan Hari Anti Narkotika Internasional di Gedung Dibaleka II, Kota Depok, Jawa Barat.

Saat ditanyakan soal data pengguna narkoba di usia milenial, Rusli menuturkan bahwa Bagian Puslidatin BNN Kota Depok belum berjalan maksimal. Selain itu, BNN Depok masih menunggu Universitas Indonesia yang rencananya akan membuat penelitian tentang pengguna narkoba di Depok secara menyeluruh. Mulai dari usia, profesi, dan profil data lainnya.

"Pak wali kota waktu itu menginstruksikan demikian. Katanya UI mau bikin penelitian. Kami diminta bantu. Kami masih tunggu sampai sekarang tetapi UI belum juga membuat penelitian itu. Nanti akan kami koordinasikan lebih jauh lagi," tutur Rusli.

Wilayah Depok sendiri yang memiliki tingkat kerawanan tertinggi akan peredaran dan pengunaan narkoba adalah Kecamatan Pancoran Mas. Wilayah ini dinilai berada di tengah kota dan memiliki banyak pemberhentian stasiun. Seperti misalnya Stasiun Depok Baru, Stasiun Depok.

"Ini gampang sekali. Mereka turun kereta. Kemudian transaksi. Lalu selesai naik kereta lagi," kata Rusli.

Selain itu, kerawanan Kecamatan Pancoran Mas juga dikarenakan banyaknya kasus peredaran dan penggunaan narkoba terjadi di wilayah tersebut. Pancoran Mas dikatakan Rusli juga memiliki tingkat pengangguran dan jumlah penduduk yang juga banyak. Meski dia tak merinci data detailnya.

Sedangkan penggunaan media sosial dinilai Rusli sangat efektif untuk menyosialisasikan bahaya narkoba kepada generasi milenial. Pasalnya, media sosial memiliki aneka fitur menarik yang membuat generasi muda betah untuk menyimaknya.

"Media sosial kan ada gambarnya, ada videonya, ini pasti menarik dan ini mempermudah kami untuk sosialisasi. Jelas sangat membantu," kata Rusli.

Berbagai upaya terus menerus dilakukan BNN Kota Depok untuk memberantas narkoba. Salah satunya dengan membentuk kampung bersinar atau kampung bersih narkoba. Kampung atau kelurahan ini adalah kampung atau kelurahan yang benar-benar bebas dari narkoba.

"Ini program nasional. Depok baru merintis dari para penggiatnya. Kami merekrut para aktivis, para pemerhati masalah narkoba, ASN atau juga wartawan untuk aktif menjadi penggiatnya. Setelah penggiatnya terbentuk, kemudian akan kami bentuk kampung atau kelurahannya," papar Rusli.

Untuk urusan rehabilitasi korban narkoba, Rusli mengatakan bahwa RSUD Depok sudah bisa menangani rehabilitasi pengguna narkoba. Mereka yang menjalani rehabilitasi tidak dikenakan biaya apapun karena semua anggaran rehabilitasi sudah dibiayai negara.

"Dalam satu bulan ada lima orang yang kami rehab. Mungkin masih bisa lebih kalau banyak orang yang mau terbuka untuk menyembuhkan sanak keluarga mereka yang menjadi pengguna narkoba. Ini kan masih ada yang takut dan nggak mau lapor. Kalau semua lapor mungkin akan jadi sangat penuh," ujar Rusli. 



Sumber: Suara Pembaruan