Ini Penjelasan Polisi Soal Pengamen Salah Tangkap

Ini Penjelasan Polisi Soal Pengamen Salah Tangkap
Kombes Argo Yuwono. ( Foto: Antara )
Bayu Marhaenjati / YUD Kamis, 18 Juli 2019 | 16:35 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Empat pengamen korban salah tangkap kasus pembunuhan, menggugat ganti rugi kepada Polda Metro Jaya dan Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta, melalui sidang praperadilan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Merespon hal itu, Polda Metro Jaya menyatakan, pada saat penanganan kasus pembunuhan itu, polisi telah melakukan proses penyelidikan dan penyidikan, kemudian berkas perkara dinyatakan lengkap atau P21 oleh pihak kejaksaan.

"Polisi telah melakukan penyelidikan dan penyidikan terhadap kasus tersebut. Bukti formil dan materil telah di penuhi, terbukti berkas perkara dinyatakan lengkap oleh jaksa (JPU) dan setelah dilakukan sidang tingkat 1 bahwa pelaku dinyatakan bersalah dan divonis," ujar Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Raden Prabowo Argo Yuwono, Kamis (18/7/2019).

Dikatakan Argo, tugas penyidik adalah melakukan penyelidikan, penyidikan, menyusun berkas perkara, dan sudah dinyatakan lengkap atau P21. Kemudian dilakukan pelimpahan tahap dua penyerahan tersangka serta barang bukti ke kejaksaan.

"Polisi sidik, jaksa menuntut dan hakim menvonis. Jadi proses penyidikan tindak pidana sudah selesai dilakukan," kata Argo.

Diketahui, empat pengamen jalanan bernama Fikri (17), Fatahillah (12), Ucok (12), dan Pau (16) yang merupakan korban salah tangkap kasus pembunuhan di Cipulir, mengajukan gugatan praperadilan menuntut ganti rugi materil dan imateril, di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Gugatan praperadilan itu tercatat dengan nomor register perkara 76/pid.pra/2019/PN. Jak.sel.

Kasus ini bermula ketika penyidik Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya menangkap Fikri, Fatahillah, Ucok, dan Pau, lantaran dituding melakukan pembunuhan terhadap Dicky Maulana, di bawah jembatan Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, 30 Juni 2013 lalu. Motifnya, adalah berebutan lapak mengamen.

Sejurus kemudian, mereka diproses hukum hingga dinyatakan bersalah oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, dan dijebloskan ke dalam Lapas Anak Tangerang.

Namun, belakangan terbukti di persidangan bahwa korban yang tewas bukan pengamen, dan mereka bukan pelaku pembunuhan terhadap korban. Setelah melalui persidangan berliku dan diwarnai salah putus, mereka kemudian dinyatakan tidak bersalah oleh Mahkamah Agung melalui Putusan Nomor 131/PK/Pid.Sus/2016. Total, mereka sudah mendekam di penjara selama 3 tahun atas perbuatan yang tidak pernah mereka lakukan.



Sumber: BeritaSatu.com