Aulia Dingin Jalani Rekonstruksi Pembunuhan Suami dan Anaknya

Aulia Dingin Jalani Rekonstruksi Pembunuhan Suami dan Anaknya
Tersangka Aulia Kesuma saat memeragakan adegan ke-25 B yaitu, Menumbuk 30 butir obat tidur untuk membius suaminya, Edi Chandra Purnama alias Pupung Sadili dan anak tirinya, M Adi Pradana alias Dana sebelum dibunuh 23 Agustus 2019 di Jl Lebak Bulus I No. 129 B, Kamis 5 September 2019. ( Foto: BeritaSatu Photo / Erwin C Sihombing )
Erwin C Sihombing / YUD Kamis, 5 September 2019 | 20:39 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Tersangka perkara pembunuhan berencana Aulia Kusuma menjalani rekonstruksi pembunuhan dengan lancar, tanpa terlihat adanya penyesalan. Aulia menjalani rekonstruksi pembunuhan suaminya, Edi Chandra Purnama alias Pupung Sadili (54) dan anak tirinya, M Adi Pradana alias Dana (23), di kediaman mereka di Jl Lebak Bulus I No. 129 B, Kamis (5/9).

Aulia nampak rileks saat memulai adegan ke-23 yakni, memasuki rumah yang lokasinya tepat di tepi jalan. Nada suaranya tidak naik-turun. Gesturnya terlihat tenang, "Habis ini ke dapur, pak," kata Aulia, menerangkan kepada polisi langkah selanjutnya setelah memasuki dari pintu utama rumah yang menjadi tempat kejadian perkara (TKP) kedua.

Rekonstruksi di Lebak Bulus dilakukan sebagai kelanjutan rekonstruksi di TKP pertama di Apartemen Kalibata City, di mana Aulia bertemu dengan tersangka Agus dan Sugeng yang didatangkan dari Lampung, di parkiran Tower Mawar, Apartemen Kalibata City.

Di Kalibata City, Aulia membeli obat tidur jenis Vandres di apotek Century untuk membius suaminya di rumah di kawasan Lebak Bulus yang menjadi TKP kedua. Menurut polisi, Aulia memang tenang. Dia menangis hanya pada saat pertama kali ditangkap saja. Bisa dikatakan yang bersangkutan tidak histeris bahkan tidak menunjukkan ekspresi penyesalan.

Aulia turut mengajak Agus dan Sugeng yang langsung diarahkan masuk ke dalam rumah melalui garasi. Mereka menunggu tersangka Kelvin, anak Aulia dari suami sebelumnya di kamar di lantai atas. Edi tidak melihat keduanya datang.

Sedangkan Aulia langsung menumbuk 30 butir obat tidur di kamar belakang untuk dicampur ke minuman jus tomat yang dibeli di Alfamart Kalibata. Aulia membeli tiga jus tomat. Semuanya dituangkan ke dalam cangkir, satu untuk Aulia sedangkan dua cangkir lagi disiapkan masing-masing untuk Edi dan Dana.

Aulia menumbuk 30 butir Vandres yang sebagian besar ditabur ke dalam minuman jus untuk Edi dan sisanya untuk Dana, yang memiliki kebiasaan meminum jus yang ada di kulkas setiap sampai di rumah.

Jenis obat tidur Vandres memang sering dikonsumsi Aulia. Dia tidak pernah mengonsumsinya lebih dari satu butir. Namun kali ini dia merasa bingung. Sebab suaminya tidak bereaksi setelah meminum jus tomat yang telah ditaburi gerusan dari 30 butir Vandres.

Edi malah asyik menonton televisi di ruang keluarga. Dia hanya mengeluh rasa jus tomat yang diminum pahit. Aulia lantas beralasan bahwa jus tersebut dicampur sayur pare.

"Jadi memang adegannya lama juga (bereaksi). Dia (Edi) menonton TV," kata Aulia memberi penjelasan dengan tenang.

Aulia tidak habis akal, dia mengajak suaminya untuk ke kamar melakukan hubungan suami-istri. Selepas itu, Kelvin yang sebelumnya sempat ditelepon Aulia datang. Kelvin naik ke kamar atas untuk berbicara dengan Agus dan Sugeng.

Aulia tidak mengetahui kedatangan Kelvin karena dia berada di kamar bersama suaminya untuk terakhir kali. Kelvin bahkan sempat pergi bersama Agus dan Sugeng menemui Mbah Muh alias Aki yang hingga kini masih buron.

Aulia mengaku tidak mengetahui di mana Kelvin, Agus dan Sugeng menemui Aki. Namun ketiganya kembali lagi ke Lebak Bulus setelah Agus dan Sugeng setuju mendapatkan uang Rp 500 juta untuk melakukan pembunuhan.

Sekembalinya di Lebak Bulus, Agus, Sugeng bersama Aulia lantas mengeksekusi dengan cara membekap dan mengikat tangannya. "Bener tuh begitu," jelas Aulia mengoreksi cara membekap dan mengikat Edi saat rekonstruksi.

Selepas Edi mengembuskan nafas terakhirnya, Dana tiba di rumah. Dia langsung meminum jus tomat yang sudah ditaburi obat tidur oleh Aulia dan menuju kamar di mana Kelvin sudah menunggu seorang diri untuk memberinya Wiski. Dana pun tewas dibekap serupa Edi.

"Dia (Dana) sempat melawan. Kalau Pak Edi, sudah lemas. Di mulutnya keluar busa," terang tersangka Sugeng.

Sugeng dan Agus mengaku dihubungi tersangka Aki untuk membantu Aulia bukan untuk membunuh tetapi membersihkan gudang. "Saya dihipnotis Aki," kata Sugeng.

Sosok Aki membuktikan adanya upaya Aulia untuk menyantet suaminya. Namun langkah tersebut gagal. Aulia lantas mencoba untuk menyewa orang untuk membunuh suaminya dengan senjata api. Namun kesulitan menemukan pistol yang harganya terjangkau.

Membakar Rumah

Opsi yang paling memungkinkan adalah meracun dan membakar jasad korban. Aulia bahkan merencanakan untuk membakar jasad Edi dan Dana di mobil yang diparkir di garasi rumah. Seolah-olah terjadi kebakaran rumah.

"Dia (Aulia) ingin membakar rumah. Mayat dibakar. Saya enggak mau. Saya lari. Semuanya sudah saya ceritakan kepada polisi," lanjut Sugeng.

Sugeng menegaskan, yang membunuh Edi adalah Aulia. Sedangkan Dana dibunuh oleh Kelvin yang merupakan putranya. Kepada polisi Aulia mengakui Kelvin sebagai putranya dari suami pertamanya. Namun kepada Edi dan keluarga besarnya, Aulia menyebut Kelvin sebagai keponakannya agar pihak keluarga mau menerima Aulia waktu dipersunting Edi.

"Yang bawa ke Sukabumi untuk dibakar itu Aulia sama Kelvin. Saya enggak ikut ke sana," tutur Sugeng.

Aulia membunuh suami serta anak tirinya dipicu kesulitan membayar utang di dua bank berbeda dengan total Rp 10 miliar. Aulia meminta suaminya untuk menjual rumahnya di Lebak Bulus untuk melunasi utang tetapi ditolak.

Aulia kesulitan membayar utang lantaran usaha restorannya gagal. Aulia sempat mendirikan restoran yang lokasinya tepat di sebelah rumah di Lebak Bulus yang sekarang sudah menjadi bengkel cuci steam mobil. "Bengkel itu dulunya restoran yang saya jaminkan ke bank," kata Aulia.



Sumber: Suara Pembaruan