Polisi Bekuk 13 Tersangka Kasus Penggelapan dan Penadahan Mobil

Polisi Bekuk 13 Tersangka Kasus Penggelapan dan Penadahan Mobil
Tiga tersangka kasus penggelapan mobil yang ditahan di Mapolda Metro Jaya. ( Foto: Beritasatu Photo / Bayu Marhaenjati )
Bayu Marhaenjati / JAS Rabu, 18 September 2019 | 16:42 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Subdit Ranmor Ditreskrimum Polda Metro Jaya, mengungkap enam kasus dugaan penggelapan, pencurian hingga penadahan mobil, di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Sebanyak, 13 tersangka ditangkap dan ditahan.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Raden Prabowo Argo Yuwono mengatakan, para pelaku melakukan kasus penggelapan dengan berbagai modus. Semisal, tersangka berinisial TS, menjalankan aksinya dengan modus menyewa mobil temannya, kemudian digadaikan.

"Dia meminjam atau menyewa mobil temannya, perjanjiannya empat hari dengan biaya sewa Rp 500.000 per hari. Setelah lewat empat hari disewa, tidak dikembalikan. Kemudian ditanya, dan dicek ke rumah tidak ada," ujar Argo, di Mapolda Metro Jaya, Rabu (18/9/2019).

Dikatakan Argo, ternyata mobil Toyota Avanza B 1316 NYK yang disewa itu, telah digadaikan oleh tersangka sebesar Rp 30 juta.

"Yang punya mobil tidak terima, kemudian melapor ke Polda Metro Jaya. Tersangka menggadaikan mobil itu untuk kebutuhan sehari-hari. Dia dikenakan Pasal 372 KUHP dengan ancaman hukuman empat tahun penjara," ungkap Argo.

Kasus penggelapan kedua, melibatkan lima orang tersangka. Empat orang berinisial MY, AR, BFR, dan RH berhasil ditangkap. Sedangkan, satu orang berinisial DS, seorang perempuan, masih buron.

Kronologinya, tersangka DS melakukan pengajuan kredit mobil Honda Mobilio F 1867 DM ke sebuah perusahaan pembiayaan (leasing). Namun, belakangan mobil itu dijual dengan melibatkan empat tersangka lainnya. Padahal, mobil itu belum lunas.

"Ini mobilnya dijual dengan harga murah Rp 91 juta, tanpa BPKB. Mereka menyampaikan kepada (calon) pembeli, nanti BPKB akan diurus. Namun setelah ditunggu berbulan-bulan, BPKB tidak ada. Kami masih mengembangkan kasus ini untuk mengetahui sudah berapa kali mereka melakukan aksinya," kata Argo.

Kasus selanjutnya, melibatkan dua tersangka berinisial AKM dan S, seorang perempuan. Modus mereka, melakukan kredit mobil dengan data-data yang dipalsukan.

"Tersangka datang ke perusahaan pembiayaan dengan identitas palsu baik data perusahan maupun dokumen lain berkaitan dengan pinjaman kredit. Semuanya fiktif, dan akhirnya mendapatkan mobil untuk dikredit," kata Argo.

Setelah itu, mobil itu dijual dengan harga yang murah. Setelah penyelidikan, ternyata tersangka sudah menjalankan aksi beberapa kali. "Tersangka dikenakan Pasal 372 KUHP dan Pasal 35 Undang-undang RI Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia," terang Argo.

Argo menambahkan, kasus keempat terkait penadahan melibatkan dua tersangka berinisial RS dan IM. Keduanya menampung mobil yang masih dalam proses kredit, kemudian dijual dengan harga murah.

"Kami mendapatkan informasi ada orang akan menjual mobil Brio dengan harga murah Rp 39 juta. Tentunya tidak masuk akal. Keduanya, kemudian kami bawa ke Polda Metro Jaya dan kita interogasi ternyata itu mobil temannya (masih kredit). Setelah dicek, ada 17 mobil berbagai merek lainnya," jelas Argo.

Menurut Argo, pelaku bisa menjual delapan mobil dalam satu bulan. "Sudah delapan, tidak sampai sebulan. Hasilnya buat biaya hidup," kata Argo.

Kasus penadahan selanjutnya, terungkap setelah penyidik mendapatkan informasi adanya penjualan mobil dengan harga murah, di Margonda, Depok, tanggal 31 Agustus 2019 lalu.

"Kemudian kita melakukan penyelidikan dan menemukan ada tersangka BHG yang menjual mobil dengan harga tidak patut, di bawah standar. Mobilnya Chevrolet Captiva dan Toyota Harrier. Setelah diselidiki ternyata mobil itu masih milik leasing. Tersangka dikenakan Pasal 480 tentang penadahan, dengan ancaman hukuman empat tahun penjara," ucap Argo.

Argo melanjutkan, kasus terakhir terkait pencurian BPKB. Kronologinya, bermula ketika korban meminta bantuan tersangka DM untuk mengantar dan menjemput anaknya sekolah. Sebab, istrinya yang biasa antar-jemput sedang sakit.

"Tersangka setiap hari mengantar anak korban sekolah, dan juga dijemput. Suatu saat, korban keluar kota. Kemudian, tersangka ini mengambil BPKB yang disimpan korban di laci rumah, dan digadaikan Rp 100 juta," kata Argo.

Argo menuturkan, tersangka nekat mencuri BPKB mobil korban dan menggadaikannya, karena kebutuhan untuk kelancaran usaha menjual alat komunikasi yang sedang dirintisnya.

"Saat gadai, dia memalsukan tanda tangan. Uangnya buat usaha alat komunikasi. Dalam perjalanan waktu, tersangka telat bayar. Kemudian, pihak gadai datang menagih ke rumah korban. Akhirnya, korban menyampaikan tidak pernah menggadaikan mobil. Selanjutnya, tersangka kami amankan," tandasnya.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno menyampaikan apresiasi atas kinerja jajaran Subdit Ranmor Ditreskrimum Polda Metro Jaya atas pengungkapan kasus-kasus yang berkaitan dengan fidusia, pencurian, dan penggelapan.

"Kami mengapresiasi setinggi-tingginya kepada jajaran Polda Metro Jaya dalam pemberantasan kasus pencurian dan penggelapan kendaraan bermotor," kata Suwandi.

Suwandi menyampaikan, sebanyak 160 perusahaan pembiayaan di bawah naungan APPI, aktif membiayai pembelian kendaraan bermotor.

"Tentunya kami akan terus bergandengan tangan dengan pihak kepolisian, dalam proses eksekusi walaupun kami punya sertifikat fidusia tetapi secara hukum tetap kami harus minta bantuan dari pihak kepolisian. Dan ini nyata, sudah kesekian kalinya laporan yang kami sampaikan terkait fidusia, penggelapan dan penadahan terungkap," tandasnya.



Sumber: BeritaSatu.com