Sering Meresahkan, Komplotan Curanmor Ditembak di Cikarang

Sering Meresahkan, Komplotan Curanmor Ditembak di Cikarang
Pencurian sepeda motor (curanmor). ( Foto: Antara/Andreas Fitri Atmoko )
Mikael Niman / JAS Kamis, 3 Oktober 2019 | 19:41 WIB

Bekasi, Beritasatu.com - Jajaran Reskrim Polsek Cikarang, Polrestro Bekasi menembak komplotan pencurian kendaraan bermotor (curanmor) yang sering meresahkan masyarakat. Satu pelaku ditembak di bagian kaki usai beraksi di di Kampung Cibeber, RT 03/RW 04 Desa Simpangan, Kecamatan Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi.

"Satu pelaku terpaksa kami berikan tindakan tegas dan terukur, saat melarikan diri dari petugas," ujar kapolsek Cikarang, Kompol Sujono, Kamis (3/10/2019).

Pengungkapan kasus bermula saat komplotan begal berinisial IEA (27) dan DCA (19) usai beraksi menggasak sepeda motor milik JA (38) semalam. Saat pelaku beraksi, korban sedang tertidur pulas di kediamannya.

Polisi yang mendapat laporan pencurian kendaraan bermotor ini langsung mengejar pelaku yang ciri-cirinya sudah diketahui berdasarkan keterangan dari anak korban yang melihat aksi para pelaku. "Saat pelaku beraksi, anak korban terbangun dan memberi tahu kalau motor miliknya dibawa orang tak dikenal," katanya.

Korban yang bangun kemudian berupaya mengejar pelaku. Di tengah perjalanan, korban melihat polisi yang sedang melakukan observasi. Kemudian, polisi mengejar komplotan pencuri itu.

Petugas sempat memberikan tembakan peringatan kepada para pelaku. Namun, pelaku tidak menghiraukan sehingga petugas menembak betis kanan pelaku IEA. Rekan pelaku, DCA. yang melihat IEA ditembak kemudian menyerahkan diri. Dua rekan pelaku lainnya masih dalam pengejaran polisi.

Dari tangan pelaku, polisi menyita bukti berupa dua unit sepeda motor milik pelaku dan korban serta satu unit kunci leter T dan satu unit kunci berbahan magnet yang biasa digunakan pelaku untuk menggasak sepeda motor korban.

"Hasil curian oleh pelaku dijual dan kemudian uangnya dibagi-bagi untuk keperluan hidup sehari-hari. Para pelaku tidak mempunyai pekerjaan tetap," katanya.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, pelaku IEA dan DCA dijerat Pasal 363 KUHP tentang pencurian dengan pemberatan, dengan ancaman hukuman penjara maksimal tujuh tahun.



Sumber: Suara Pembaruan