Demonstran 25 September Meninggal di RS, ini Penjelasan Polisi

Demonstran 25 September Meninggal di RS, ini Penjelasan Polisi
Sejumlah korban tembakan gas air mata dalam kericuhan demonstrasi di DPR/MPR Senayan menjalani perawatan intensif medis di RS Mintohardjo Jakarta Pusat, Selasa 24 September 2019 malam. ( Foto: Antara / Andi Firdaus )
Bayu Marhaenjati / HA Sabtu, 12 Oktober 2019 | 02:26 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Akbar Alamsyah, 19, korban aksi unjuk rasa yang berakhir ricuh di Gedung DPR, dan meluas ke sejumlah wilayah termasuk kawasan Slipi, Jakarta Barat, meninggal dunia.

Akbar menghembuskan nafas terakhirnya setelah menjalani perawatan akibat luka di bagian kepala, di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat, Kamis (10/10/2019) kemarin.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Argo Yuwono mengungkapkan kronologi bagaimana Akbar ditemukan, diamankan, menjalani perawatan, dan akhirnya meninggal dunia.

Awalnya, kata Argo, terjadi aksi unjuk rasa di kawasan Gedung DPR, hingga Lakdogi, Jalan Gatot Subroto, sekitar pukul 14.00 WIB, tanggal 25 September 2019. Demonstrasi yang mulanya berjalan dengan baik, berakhir ricuh pada petang hari.

"Kemudian, pada malam harinya, sekitar jam 19.30 WIB, tiba-tiba muncul gelombang massa yang tidak ada tuntutan apa-apa di dalam kegiatannya, dan langsung melakukan pelemparan kepada petugas. Tentunya petugas tetap persuasif saat dilempar batu, kemudian dilempar kayu, ada batako, dan ada molotov. Kita tetap persuasif di daerah Slipi," ujar Argo, Jumat (11/10/2019).

Argo menyampaikan, anggota tetap bertahan dan melakukan imbauan-imbauan agar massa membubarkan diri, pulang ke rumah karena sudah malam. "Tidak henti-hentinya terus kita lakukan imbauan-imbauan. Tapi itu semua tetap bertahan, kita tetap dilempari," katanya.

Menurut Argo, peristiwa itu terjadi hingga larut malam, sekitar pukul 01.00, tanggal 26 September 2019. Massa yang terus melempari petugas dengan batu, molotov dan petasan, akhirnya dibubarkan paksa dengan tembakan gas air mata.

"Karena massa sudah merusak fasilitas umum dan menutup jalan tol, tentunya petugas mempunyai SOP (standard operating procedure) dan tindakan yang ada. Tetap imbauan kita lakukan, kemudian kita menyemprotkan air, dan akhirnya petugas melontarkan gas air mata. Kita berharap massa bubar," jelasnya.

Menurut Argo, pada saat petugas melontarkan gas air mata, massa perusuh berlarian panik menyelamatkan diri.
"Massa saat dibubarkan kan panik, tidak melihat kanan dan kiri. Apapun di depannya bisa diinjak, yang penting bisa menyelamatkan diri," katanya.

Pada pukul 01.30 WIB, lanjut Argo, polisi melakukan penangkapan terhadap para perusuh yang melakukan perusakan fasilitas umum. Kemudian, anggota menemukan seorang laki-laki yang belakangan diketahui bernama Akbar Alamsyah, tergeletak di trotoar, di kawasan Slipi. Ketika itu situasi terlihat kacau, batu, kayu, besi berserakan di jalan.

"Kemudian, anggota membantu menolong laki-laki yang tergeletak di trotoar itu. Kita bawa ke Polres Jakarta Barat, bersama dengan perusuh yang ditangkap. Sampai di Polres, kita data, dan Urkes (urusan kesehatan) Polres Jakbar memberikan pertolongan kepada laki-laki yang bernama Akbar Alamsyah, kita lakukan perawatan dan kita obati," jelasnya.

Argo mengatakan, Akbar kemudian dibawa ke Rumah Sakit Pelni, Petamburan, Jakarta Barat. Besoknya, tanggal 27 September 2019, sekitar pukul 18.00 WIB, dirujuk ke Rumah Sakit Bhayangkara Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur.

"Sekitar tiga hari dirawat, tanggal 30 September dirujuk ke RSPAD untuk dirawat. Namun, pada tanggal 10 Oktober, setelah dilakukan perawatan Akbar dinyatakan meninggal dunia. Kami dari Polri ikut bela sungkawa dan berduka cita, semoga arwahnya diterima di sisi Tuhan dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan," kata Argo.

Menyoal apa penyebab luka di kepala Akbar, Argo belum bisa menjelaskannya. "Itu masih kita update dari dokter, sampai sekarang belum mendapatkan. Memang ada luka di kepala," ucapnya.

Sementara itu, penyidik dikabarkan sempat menetapkan Akbar sebagai tersangka. Alasannya, karena yang bersangkutan disebut ikut melempari polisi dan merusak fasilitas umum.

"Perusuh yang kita tangkap, kita lakukan pemeriksaan, dan tentunya ada saksi yang diperiksa juga, yang ikut diamankan menyatakan yang bersangkutan (Akbar) ikut melempari petugas, merusak, dan sebagainya," tandasnya.



Sumber: BeritaSatu.com