Tersangka Penganiayaan Ninoy Dijerat Pasal Berlapis

Tersangka Penganiayaan Ninoy Dijerat Pasal Berlapis
Konferensi pers kasus penganiayaan terhadap pegiat media sosial Ninoy Karundeng yang dilakukan Polda Metro Jaya, Selasa 22 Oktober 2019. ( Foto: BeritaSatu Photo / Bayu Marhaenjati )
Bayu Marhaenjati / YUD Selasa, 22 Oktober 2019 | 19:47 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, telah menangkap 15 orang tersangka terkait kasus penganiayaan terhadap pegiat media sosial Ninoy Karundeng.

Belasan tersangka itu, dijerat Pasal 48 ayat (1) dan ayat (2) Jo Pasal 32 ayat (1) dan ayat (2) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dan atau Pasal 365 KUHP dan atau Pasal 480 KUHP dan atau Pasal 170 KUHP dan atau Pasal 335 KUHP dan atau pasal 333 KUHP, dan atau Pasal 55 KUHP, Pasal 56 KUHP, dengan ancaman hukuman di atas 5 tahun bui.

"Karena ini adalah tindak pidana umum dan sejak awal dasar hukum kami melakukan penyidikan dari laporan polisi, sehingga pasal yang diterapkan kepada para tersangka adalah pasal pidana umum. Pasal 55, 56, Pasal 333 KUHP, 450 KUHP, 335 KUHP, dan Pasal 48 Juncto 32 (UU ITE)," ujar Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya AKBP Dedy Murti, di Mapolda Metro Jaya, Selasa (22/10/2019).

Sementara itu, penyidik juga sudah berkoordinasi dengan instansi terkait, terkait penetapan tersangka IZH yang memiliki anggota kedokteran Indonesia. Dia pun dikenakan pasal pidana umum.

"Ada kartu terkait keanggotaan kedokteran Indonesia (masih berlaku hingga 5 Mei 2020), otomatis penyidik juga tidak percaya begitu saja terkait kartu, fakta-fakta, data-data, dokumen-dokumen yang kami temukan pada saat penangkapan dan penggeledahan. Kami harus memastikan nomor registrasi benar adanya, sehingga koordinasi sudah dilakukan sejak awal. Penyidik tidak akan menentukan, menyampaikan bahwa barang bukti disita hanya sebatas hanya ditemukan di TKP, tapi melakukan klarifikasi, konfirmasi, dan koordinasi dengan pihak terkait," ungkapnya.

Dedy menyampaikan, pada saat peristiwa penganiayaan, IZH berada di tempat kejadian perkara, namun tidak berupaya mencegah dan mengobati korban Ninoy.

"Kewajiban moril tidak dilakukan sebagai orang yang mampu mengobati korban. Dikenakan pidana umum," katanya.



Sumber: BeritaSatu.com