Fahira Idris Sebut Laporannya Terhadap Ade Armando Delik Biasa

Fahira Idris Sebut Laporannya Terhadap Ade Armando Delik Biasa
Fahira Idris saat berada di Polda Metro Jaya. ( Foto: Beritasatu.com/Bayu Marhaenjati )
Bayu Marhaenjati / CAH Senin, 4 November 2019 | 15:07 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Fahira Idris mengatakan, laporannya terhadap Ade Armando soal unggahan gambar Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mirip badut atau Joker, di media sosial, bukan delik aduan, melainkan delik biasa. Sehingga, siapa pun bisa membuat laporan.

"Saya hari ini ingin menjelaskan kepada masyarakat, karena masyarakat ini ternyata hasil pantauan saya di medsos, masih belum paham. Mereka bilang bahwa kenapa Fahira Idris mengadukan masalah ini, harusnya pak Anies langsung. Saya ingin menjelaskan bahwa ini adalah delik umum, delik biasa. Artinya tanpa yang bersangkutan (Anies) melaporkan, itu bisa dilaporkan. Inilah yang diatur dalam Pasal 32 ayat 1 (UU ITE)," ujar Fahira, di Mapolda Metro Jaya, Senin (4/11/2019).

Dikatakan Fahira, laporan yang dibuatnya menekankan pada foto resmi Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang diubah, dirusak (menjadi Joker), dan ditransmisikan tanpa hak, sehingga diduga melanggar Pasal 32 ayat 1 UU ITE yang berbunyi, "Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum dengan cara apa pun mengubah, menambah, mengurangi, melakukan transmisi, merusak, menghilangkan, memindahkan, menyembunyikan suatu Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik milik orang lain atau milik publik."

"Jadi ini bukan soal penghinaan yang yang merupakan delik aduan. Delik ini (Pasal 32 ayat 1) hati-hati, ancaman hukumannya maksimum 8 tahun dan dendanya Rp 2 miliar," ungkapnya.

Baca Juga: Unggah Meme Anies Mirip Joker, Ade Armando Dilaporkan ke Polisi

Fahira menyampaikan, apabila kasus ini tidak tersentuh hukum, dirinya tidak bisa membayangkan kalau anak-anak kesal dengan gubernur, menteri, presiden, melakukan hal yang sama atau bahkan lebih buruk lagi.

"Saya tidak mau hal ini terjadi dan menimbulkan kegaduhan. Kalau bagian dari kritik, terus Ade bilang ini adalah bagian dari semangat antikorupsi, loh kita semua antikorupsi, saya antikorupsi, semua orang antikorupsi. Tapi apakah begini caranya?"

Menurut Fahira, melalui laporan ini dirinya mau mengingatkan bahwa sudah saatnya semua bersatu dan setop penyebaran kebencian dan berita hoax.

"Sebetulnya saya mau mengingatkan kita semua, bahwa kita harusnya sepakat, saya 3.000 persen sepakat dengan pak Jokowi yang mengatakan saat ini sudah waktunya kita setop penyebaran kebencian, setop penyebaran berita bohong, setop hoax. Kita harusnya sekarang ini bersatu, guyub. Jadi yang seperti ini harusnya tidak ada lagi," katanya.

Fahira mengaku, dirinya membuat laporan ini bukan karena Anies Baswedan, namun permintaan warga DKI Jakarta.

Baca JugaPolisi Klarifikasi Pelapor Kasus Ade Armando Unggah Meme Anies

"Saya ingatkan bahwa saya melakukan ini bukan untuk bapak Anies Baswedan, karena saya melaporkan ini bukan ditelepon beliau, bukan menelepon beliau. Saya hari itu tanggal 1 November, diminta warga. Saya sebenarnya sudah bilang 'Kalian saja lah yang ke polisi.' 'Aduh kita nggak berani, kita takut, ibu ini kan wakil kita, ibu saja ke sana'. Jadi saya mewakili warga DKI Jakarta, yang dimana muka dari Gubernur DKI Jakarta dengan baju resminya dirusak," jelasnya.

"Jadi istilahnya kalau difoto itu bukan fotonya pak Anies, saya akan lakukan hal yang sama. Jadi di sini bukan soal pak Aniesnya, tapi ini soal foto pimpinan kita, gubernur kita yang dirusak," tambahnya.

Fahira mengungkapkan, setelah membuat laporan pihaknya menyerahkan proses hukum kasus ini kepada penyidik.

"Bagi saya yang penting saya sudah melakukan pelaporan, biarkan nanti proses pengadilan yang membuktikan. Karena ini kan sudah saya serahkan laporannya, jadi nanti apakah ini uji forensiknya seperti apa, digital forensiknya seperti apa, linguistik forensiknya seperti apa, penyelidikannya seperti apa, penyidikan seperti apa, saya serahkan sepenuhnya kepada polisi," katanya.

Menyoal apakah sudah ada surat panggilan dari penyidik untuk diperiksa sebagai pelapor, Fahira menyampaikan, belum ada. "Belum, belum," tandasnya.

Sebelumnya diketahui, Fahira Idris melaporkan Ade Armando terkait unggahan gambar atau meme Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mirip badut atau Joker, di media sosial Facebook.

Laporan Fahira tercatat dengan nomor laporan LP/7057/XI/2019/PMJ/Dit. Reskrimsus, terkait dugaan pelanggaran Pasal 32 ayat 1 juncto Pasal 48 ayat 1 UU RI Nomor 19 Tahun 2016 tentang ITE.

 



Sumber: BeritaSatu.com