Karena Postingan Facebook, Pekerja JICT Terkena UU ITE

Karena Postingan Facebook, Pekerja JICT Terkena UU ITE
Ilustrasi media sosial. ( Foto: AFP )
Carlos Roy Fajarta / JAS Sabtu, 23 November 2019 | 16:36 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - RW (40), seorang karyawan Jakarta International Container Terminal (JICT) diamankan anggota Polres Pelabuhan Tanjung Priok karena melakukan penganiayaan terhadap Yaser Arafat.

Kasat Reskrim Polres Pelabuhan Tanjung Priok, AKP David Kanitero mengatakan penganiayaan itu terjadi saat keributan antara keduanya di pos sekuriti JICT pada Selasa (20/8/2019) silam.

Keributan bermula dari unggahan sebuah foto lama di akun Facebook milik Heri Bagong pada Jumat (16/8/2019). Pelaku lalu mengomentari foto yang salah satunya berisi korban dengan nada penghinaan.

"Ada unsur manas-manasi dengan kata-kata botak dan memang cuma ada satu orang yang botak di foto itu," kata David, Jumat (22/11/2019) kemarin.

Korban yang tidak terima, lalu mencari pelaku meski belakangan gagal bertemu. Tidak lama berselang, pelaku dan korban yang sama-sama karyawan JICT akhirnya bertemu.

"RW lalu datang ke pos sekuriti tempat YA (Yaser) bekerja. Korban ini bekerja sebagai sekuriti, masuk ke dalam dan terjadi keributan antara keduanya," tutur David.

Perkelahian antara Yaser dan RW lalu coba dilerai oleh teman korban. Sementara karyawan JICT lainnya, IS mencoba mendobrak pintu pos sekuriti untuk menghentikan perkelahian di ruangan tertutup itu.

"Setelah itu YA lalu melaporkan RW ke polisi dengan UU ITE dalam hal ini penghinaan dan penganiayaan karena YA mengalami luka cakaran pada bagian pipi," kata David.

Mendapati laporan itu, jajaran Polres Pelabuhan Tanjung Priok menindaklanjuti dan mengumpulkan barang bukti serta mengamankan pelaku untuk dilakukan penahanan.

Pelaku RW dijerat Pasal 45 ayat 3 jo Pasal 27 ayat 3 UU RI Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Ditambah Pasal 351 KUHP dan 352 KUHP tentang penganiayaan.

"Karena ancaman hukumannya di atas lima tahun penjara dan kemungkinan tersangka melarikan diri dan dikhawatirkan menghilangkan barang bukti maka dilakukan penahanan," ucapnya.

David mengatakan sebelum terjadi perkelahian pada Selasa (20/8/2019) silam, pelaku dan korban pernah berseteru pada tahun 2016 silam.

"Tahun 2016 pernah berseteru RW dan YA, sudah pernah dilaporkan ke Polres Pelabuhan dan saat tahap sidik, keduanya berdamai," kata David.

Perseteruan ketika itu terkait dengan Pasal 335 KUHP tentang perbuatan tidak menyenangkan. Keduanya diketahui saling ludah satu sama lain meski tidak diketahui penyebab dari perbuatan tersebut.

"Itu (penyebab perselisihan) nggak terkuak saat damai karena YA merasa RW duluan dan RW nggak merasa meludah ke YA," ungkap David.

Sementara itu terkait dengan kasus terbaru antara keduanya, David menceritakan pada saat pemeriksaan RW mengelak komentar yang ditulis ditujukan kepada korban.

"Kalau kita lihat pemeriksaan, RW nggak mengaku postingan itu ditujukan ke YA. Tapi itu hak dia," ungkapnya.

David mengatakan pada prosesnya pihaknya telah memeriksa 13 orang saksi termasuk tiga ahli bahasa, ITE dan pidana. Sejumlah barang bukti juga telah diamankan terkait kasus tersebut.

"Kami sudah melakukan penyitaan barang bukti handphone lalu dilakukan pengecekan lab dan diekstrak. Hasilnya diduga RW melakukan tindak pidana ITE dan penganiayaan," tuturnya.

Selain RW, karyawan JICT lainnya IS juga ditetapkan sebagai tersangka terkait kasus perusakan pos sekuriti setelah dilaporkan oleh pihak manajemen JICT. Hanya saja untuk IS tidak dilakukan penahanan.

"Pelaku IS dikenakan Pasal 406 ayat 1 KUHP tentang perusakan. Pelaku IS tidak ditahan karena ancaman hukuman kurang dari lima tahun penjara," tandas David.



Sumber: Suara Pembaruan