Dua Geng Remaja di Jakut Ini Anggap Tawuran Sebagai Hiburan

Dua Geng Remaja di Jakut Ini Anggap Tawuran Sebagai Hiburan
Geng motor VDM & SK yang terlibat bentrok dan menyebabkan seorang tewas ditampilkan di Markas Polres Metro Jakarta Utara pada Selasa (26/11/2019). ( Foto: Beritasatu Photo / Carlos Roy Fajarta Barus )
Carlos Roy Fajarta / WBP Selasa, 26 November 2019 | 20:39 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Dua geng remaja yakni VDM (Pademangan) dan SK (Sunter Kangkungan) yang terlibat tawuran hingga menyebabkan satu orang meninggal dunia pada Minggu (24/11/2019) lalu menyebutkan tawuran sebagai hiburan.

Hal tersebut disampaikan Kapolres Metro Jakarta Utara Kombes Pol Budhi Herdi Susianto kepada awak media saat menunjukkan dua pelaku yakni FI (16) dan FA (14). Akibat tawuran tersebut, Herly Suprapto (27) warga Jalan Termaga Permata 2, RT07/RW01, Kelurahan Sunter Jaya meninggal dunia di RS Kecamatan Kemayoran.

"Kami menemukan fakta dari grup WhatsApp (para pelaku), mereka mengatakan tawuran ini sebagai hiburan meski ada satu orang korban meninggal dunia," ujar Kombes Pol Budhi Herdi Susianto, di Mapolres Jakut, Selasa (26/11/2019).

Budhi menyebutkan motif geng motor yang sering melakukan tindak pidana tersebut menganggap tawuran di malam akhir pekan sebagai kebanggaan, eksis dan uji nyali anggota geng motor. "Makasih hiburannya yah, persahabatan tetap terjalin jangan ada dendam di antara kita. Gila temen gw koma satu ya, gak apa-apa next time kita lanjut," tutur Kombes Pol Budhi Herdi Susianto membacakan percakapan di grup WhatsApp para pelaku tawuran genk motor.

Dikatakan Budhi, ada 20 orang dari dua kelompok tersebut yang saling bentrok pada Minggu (24/11/2019) di Jalan Sunter Kangkungan sekitar pukul 04.30 WIB. "Sebelum melakukan aksi, mereka minum minuman beralkohol. Ada dari mereka yang sudah tiga kali tidak naik kelas," tambah Kombes Pol Budhi Herdi Susianto.

Sementara Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Utara, Kompol Wirdhanto Hadicaksono menyebutkan pihaknya mengamankan sebuah celurit, baju, jaket korban dan tersangka yang berlumuran darah. Selain itu, smartphone, dan empat unit sepeda motor. "Para pelaku kita jerat dengan Pasal 170 Junto Pasal 55 & 56, Pasal 160 KUHP dengan ancaman hukuman pidana penjara maksimal 12 tahun penjara," ujar Wirdhanto.



Sumber: Suara Pembaruan