Uji Praktik SIM E-Drives Resmi Diluncurkan

Uji Praktik SIM E-Drives Resmi Diluncurkan
Proses ujian SIM (Surat Izin Mengemudi) C. ( Foto: Antara / Asep Fatulrahman )
Bayu Marhaenjati / YUD Kamis, 5 Desember 2019 | 12:43 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya, resmi meluncurkan sistem elektronik uji praktik penerbitan Surat Izin Mengemudi (SIM) dengan nama electronic driving test system alias e-Drives, Kamis (5/12/2019) hari ini.

Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Gatot Eddy Pramono mengatakan, e-Drives merupakan praktik ujian SIM berbasis elektronik. Sistem ini diadopsi dari beberapa negara maju yang sudah tidak lagi menggunakan sistem manual atau konvensional dalam uji praktik pembuatan SIM.

"Saat orang ujian SIM, ujian untuk tertulis sudah computerized. Nanti juga ada sensor-sensor, kalau melanggar berapa sensor harus mengulang lagi," ujar Gatot, di Mapolda Metro Jaya, Kamis (5/12/2019).

Dikatakan Gatot, sistem ini juga dapat meminimalisir terjadinya praktik "main mata" antara petugas dengan peserta, karena uji praktik sudah berbasis elektronik.

"Meminimalisir perilaku-perilaku anggota kita, ke depan tidak bisa lagi. Kalau nggak lulus, ya nggak lulus," ungkapnya.

Sementara itu, Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Yusuf mengatakan, sistem e-Drives sudah resmi diluncurkan mulai hari ini.

"Hari ini dilaunching, sudah mulai dilaksanakan di Polda Metro Jaya," katanya.

Menurut Yusuf, penilaian uji praktik SIM akan menggunakan alat elektronik berupa radio frequency, sinar infra merah, hingga sensor.

"Kalau sampai kena (sensor) merah dua kali tidak akan lulus. Nanti ada announcernya, 'Anda kena patok dua kali'. Nanti ulang lagi, dia belajar lagi dua minggu," ucapnya.

Sebelumnya Yusuf menuturkan, sistem e-Drives menggunakan beberapa teknologi elektronik seperti, Radio Frequency Identification (RFID), yang diletakkan pada kendaraan roda dua. Ini merupakan sistem identifikasi nirkabel yang memungkinkan pengambilan data tanpa harus bersentuhan. Ketika peserta melewati radar RFID, maka secara otomatis data peserta akan tampil pada aplikasi ujian praktek SIM di ruang monitoring.

Kedua, tambah Yusuf, Passive Infrared yakni, cahaya infra merah pada garis awal (start) dan garis akhir (finish) untuk mengetahui kapan peserta mulai dan selesai melakukan tahapan ujian.

"Vibration Sensor, merupakan sensor yang dapat mengetahui suatu getaran pada benda. Sensor ini diletakkan dalam patok yang terpasang di samping lintasan. Jika kendaraan bermotor menyenggol atau menabrak patok, maka vibration sensor akan aktif dan mengirimkan sinyal ke aplikasi uji praktik SIM pada komputer server di ruang monitoring. Sehingga penguji dapat mengetahui posisi dan jumlah patok yang tersenggol atau tertabrak," ungkapnya.

Yusuf menambahkan, selanjutnya alat Ultrasonik atau pancaran gelombang suara dengan frekuensi tinggi 20 Kilohertz. Sensor tersebut diletakkan pada tahapan tanjakan dan turunan uji praktik SIM A. Ketika mobil berhenti pada posisi menanjak atau turunan sensor ultrasonik ini akan mengetahui posisi terakhir mobil. Apabila terjadi reaksi mundur atau maju sebelum melanjutkan tanjakan atau turunan, maka sensor ultrasonik akan mengirimkan sinyal ke komputer server di ruang monitoring.

"Dari dalam ruang monitoring, penguji dapat melakukan pemantauan dari layar CCTV dan juga memberikan peringatan, aba-aba atau perintah dengan pengeras suara," katanya.

Menurut Yusuf, sebelum melaksanakan uji praktik, peserta akan diberikan pengarahan terkait tata cara pelaksanaan. Tes peserta uji praktik satu SIM C meliputi uji pengereman atau keseimbangan, uji zig-zag atau salon, uji angka delapan, uji reaksi rem menghindar, uji berbalik arah membentuk huruf U atau U-turn.

Sementara, uji praktik satu SIM A meliputi maju dan mundur pada jalur sempit, zig-zag maju mundur, parkir seri dan paralel, serta berhenti di tanjakan dan turunan. "Nanti untuk SIM A dan C punya klasifikasi dan penilai yang berbeda. Uji praktik dapat dilakukan secara simultan," katanya.



Sumber: BeritaSatu.com