Dapat Remisi, Buni Yani Hirup Udara Bebas

Dapat Remisi, Buni Yani Hirup Udara Bebas
Terpidana Buni Yani keluar ruangan usai diperiksa di Kejaksaan Negeri Depok, Jawa Barat, 1 Februari 2019. Terpidana Buni Yani rencananya divonis 1 tahun 6 bulan penjara terkait kasus pelanggaran UU ITE dan akan menjalani hukuman di Lapas Gunung Sindur ( Foto: Antara / Kahfie Kamaru )
Vento Saudale / CAH Kamis, 2 Januari 2020 | 19:30 WIB

 

Bogor, Beritasatu.com - Terpidana kasus penyebaran ujaran kebencian, Buni Yani secara resmi menghirup bebas. Buni Yani keluar dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Gunung Sindur, Bogor sekitar 12.00 WIB, Kamis (2/1/2020).

“Yah hari ini narapidana Buni Yani dibebaskan dari Lapas Kelas III Gunung Sindur setelah menerima surat keputusan cuti bersyarat," ujar Kadiv Pas Kanwil Kemenkum HAM Jabar, Abdul Aris mengkonfirmasi, Kamis (2/1/2020).

Aris menuturkan Buni Yani telah menjalani massa hukumannya selama satu tahun enam bulan terhitung sejak November 2018. Lewat cuti bersyarat, dia menjalani 11 bulan masa pidana setelah dapat potongan masa pidana lewat program cuti bersyarat. Dia juga mendapat remisi 1 bulan.

Sementara, Kuasa hukum Buni Yani, Irfan Iskandar menyambut bebasnya kliennya disambut keluarga, kuasa hukum, kerabat serta simpatisannya. Menurut Irfan, Buni Yani telah menjalani hukuman sekitar 11 bulan penjara. "Ada remisi," ucap Irfan.

Baca Juga: Mahfud MD: Ujaran Kebencian Ancam Pluralisme Indonesia

Irfan mengatakan, usai bebas, Buni Yani rencananya akan kembali menggeluti dunia pendidikan. "Menurut beliau buka pendidikan pesantren hafal Qur'an," tutup Irfan.

Sekadar diketahui, Buni Yani dieksekusi ke Lapas Gunungsindur sejak Februari 2019 usai permohonan Kasasinya ditolak Mahkamah Agung (MA). Dalam putusan kasasi tersebut hukuman Buni sama dengan hukuman di pengadilan tingkat pertama yakni satu tahun enam bulan penjara.

Kasus Buni Yani tercatat dengan nomor register 1712 K/PID.SUS/2018 dan nomor Perkara Pengadilan tingkat satu 674/Pid.Sus/2017/PN.Bdg.

Pada 14 November 2017, Buni Yani divonis satu tahun enam bulan penjara dalam perkara penyebaran ujaran kebencian benuansa suku, agama, ras dan antargolongan oleh hakim Pengadilan Negeri Bandung, Jawa Barat. Ia terbukti melanggar pasal Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elekronik.

Vonis ini lebih rendah dari tuntutan jaksa yang meminta hakim menghukum Buni Yani dengan penjara dua tahun dan Rp 100 juta subsider 3 bulan kurungan.

Buni Yani dinilai menyebarkan ujaran kebencian dengan menyebarkan informasi yang menimbulkan kebencian terhadap masyarakat bernuansa SARA melalui postingannya di Facebook. Ia mengunggah video mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dan menghilangkan kata 'pakai' dalam transkripannya.

Setelahnya, Buni Yani mengajukan banding. Namun Pengadilan Tinggi (PT) Bandung menolak permohonan banding Buni Yani dalam kasus UU ITE per 4 April 2018. Jaksa dan Buni Yani pun menempuh jalur kasasi.

 



Sumber: BeritaSatu.com