Polda Metro Jaya Tangkap 6 Tersangka Kasus Eksploitasi Seksual Anak

Polda Metro Jaya Tangkap 6 Tersangka Kasus Eksploitasi Seksual Anak
Konferensi pers Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, menangkap enam orang tersangka terkait kasus eksploitasi anak-anak di bawah umur, Selasa 21 Januari 2020. ( Foto: dok )
Bayu Marhaenjati / YUD Selasa, 21 Januari 2020 | 20:04 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Polda Metro Jaya, membongkar kafe remang-remang yang menyajikan jasa "esek-esek", di Jalan Rawa Bebek RW 13, Penjaringan, Jakarta Utara. Sebanyak 10 anak di bawah umur dipaksa melayani pria hidung belang setiap harinya di kafe tersebut.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Yusri Yunus mengatakan, Sub Direktorat Remaja, Anak dan Wanita (Renakta) Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, menangkap enam orang tersangka terkait kasus eksploitasi anak-anak di bawah umur ini.

"Subdit Reknata berhasil mengungkap eksploitasi anak di bawah umur di sebuah kafe, pada hari Senin 13 Januari, di kawasan Penjaringan, Jakarta Utara. Berhasil diamankan enam pelaku yang ditetapkan tersangka dan sudah ditahan dengan peran mengekploitasi anak di bawah umur," ujar Yusri, di Mapolda Metro Jaya, Selasa (21/1/2020).

Dikatakan Yusri, tersangka yang ditangkap berinisial R alias mami A, perannya memaksa anak melayani hubungan badan para tamu sekaligus pemilik Kafe Khayangan. Kemudian, tersangka A alias mami T, perannya muncikari. Selanjutnya, tersangka D dan TW perannya mencari dan menjual anak. Tersangka A selaku calo muncikari, dan terakhir tersangka E berperan selaku timer, cleaning service, penjaga kamar, pencatat, dan pengumpul bayaran korban.

"Modusnya, mereka menjual anak di bawah umur untuk menemani hidung belang di kafe. Anak itu dijual untuk para hidung belang, saat ini 10 korban yang akan kita kembangkan nanti," ungkapnya.

Yusri menyampaikan, tersangka TW dan D mencari anak di bawah umur dan dijual kepada sang mami, dengan harga Rp 750.000 sampai Rp 1,5 juta bergantung wajah dan penampilan.

"Lalu si mami memaksa anak itu untuk menemani minum sampai dengan berhubungan badan, bayarannya Rp 150.000. Si anak dibayar Rp 60.000, sisanya untuk mami. Mereka dibayarnya akhir bulan. Kalau anak itu nanti mau keluar dari area kafe harus tebus dengan uang 1,5 juta, ini peraturan dari mami. Handphone-nya disita, tidak ada komunikasi dengan dunia luar," katanya.

Sementara itu, Kabag Bin Opsnal Dit Reskrimum Polda Metro Jaya AKBP Pujiyarto mengatakan, para pelaku sangat sadis mengeksploitasi anak-anak di bawah umur. Setiap hari, mereka dipaksa untuk melayani konsumen minimal 10 kali dalam satu hari.

"Apabila tidak mencapai itu, para korban didenda (Rp 50.000). Tidak adanya pemeriksaan kesehatan berkala, ini berpotensi penularan penyakit," jelasnya.

Menurut Pujiyarto, omset para pelaku dalam menjalankan bisnis esek-esek ini mencapai miliaran rupiah dalam satu bulan.

"Satu bulan omsetnya dua miliar. Gaji diberikan setelah dua bulan melaksanakan aksi, jadi dua bulan awal nggak digaji," sebutnya.

Operasi Senyap

Kasubdit Renakta Ditreskrimum Polda Metro Jaya AKBP Piter Yanottama mengatakan, timnya menggelar operasi senyap dalam mengungkap kasus ini.

"Kami melakukan penindakan tertutup. Kami masuk ke tempat itu, (enam tersangka) itu yang berhasil kami amankan. Kami baru ungkap ini, di situ banyak kafe. Tiap tempat itu punya ownernya masing-masing. Masing-masing punya maminya," katanya.

Piter menyebutkan, polisi mengamankan belasan korban eksploitasi seks di Kafe khayangan. Terdiri dari 10 anak-anak dan lima dewasa.

"Mess-nya ada di situ. Mereka menyiapkan tempat yang ala kadarnya, yang sangat tidak layak. MCK (mandi, cuci, kakus)-nya di situ. Kemudian mereka kalau menerima tamu juga di situ. Tempatnya pun sangat kumuh, bersebelahan sama kafenya," jelasnya.

Tragisnya, karena ditarget harus melayani 10 tami dalam sehari, para korban diminta menelan pil agar tidak datang bulan alias haid.

"Kalau mau menstruasi akan dikasih obat. Minum pil (diduga ilegal) sehingga mesntruasi tertahan, padahal hakekatnya menstruasi bagian dari metabolisme tubuh. Tapi kalau nggak menstruasi berbulan-bulan, ada yang sakit, tidak ada pemeriksaan berkala juga dari tempat itu. Kalau sakit tinggal dibawa ke klinik, kalau sudah fatal ya, dipulangin saja. Mereka modelnya kayak begitu, nggak mau repot. Nggak boleh menstruasi karena kalau menstruasi akan mengurangi jatah tamunya. Kalau sehari 10 tamu, empat orang sudah 40. Kami lakukan cek visum, segala macam, ada kerusakan vaginanya parah sekali dengan usia yang masih muda seperti itu," katanya.

Berdasarkan informasi, kegiatan eksploitasi itu sudah berjalan selama dua tahun. Hasil analisa sementara, diduga kafe remang-remang itu berdiri setelah kawasan Kalijodo dibongkar.

"Otomatis orang-orang yang ada di situ menyebar kemana-mana. Beberapa orang membentuk koloni, kantung-kantung itulah," ucapnya.

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Ai Maryati mengungkapkan, kasus ini merupakan sebuah perbudakan di dunia modern.

"Kita lihat ada serangkaian kekerasan yang biadab. Ini harus dicegah, anak harus diselamatkan," katanya.

Pihaknya, mengapresiasi kinerja Subdit Renakta Ditreskrimum Polda Metro Jaya dalam mengungkap kasus ini. Harus ada efek jera kepada pelaku agar kasus ini tidak terulang, karena ini merupakan kejahatan serius. "Saya merekomendasikan proses hukum yang serius untuk efek jera yang kita optimalkan," tandasnya.

Polisi menyita puluhan kondom, sejumlah telepon genggam, Kartu Tanda Penduduk, buku absen, daftar tamu, uang tunai, dan kartu ATM dalam pengungkapan kasus itu.

Akibat perbuatannya, para tersangka dijerat Pasal 76I Jo Pasal 88 dan atau Pasal 76F Jo Pasal 83 UU RI No. 35 Tahun 2014 terkait perubahan atas UU RI No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, dan atau Pasal 296
KUHP dan atau Pasal 506 KUHP, dengan ancaman pidana 10 tahun penjara.



Sumber: BeritaSatu.com