Polisi Ungkap Sindikat Penyedia PSK di Bawah Umur di Kelapa Gading

Polisi Ungkap Sindikat Penyedia PSK di Bawah Umur di Kelapa Gading
Polres Metro Jakarta Utara mengungkap sindikat penyedia PSK di bawah umur dengan modus voucher dan utang di Mapolres Jakarta Utara, Senin (10/2/2020). ( Foto: Beritasatu Photo / Carlos Roy Fajarta Barus )
Carlos Roy Fajarta / WBP Senin, 10 Februari 2020 | 13:55 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Polres Metro Jakarta Utara mengungkap sindikat perdagangan perempuan di bawah umur yang dieksploitasi secara ekonomi, seksual dan komersial dengan menjadi Pekerja Seks Komersial (PSK) bermodus pemandu lagu (Ladies Companion/LC) dan penari telanjang (striptis) yang biasa diajak berhubungan badan.

"Dari agensi bernama Agata yang beroperasi enam bulan di sebuah apartemen di Kelapa Gading kami menemukan sembilan korban anak perempuan di bawah umur (berusia 14-17 tahun) dan empat perempuan dewasa yang disalurkan ke sejumlah tempat yang memesan di luar apartemen," ujar Kapolres Metro Jakarta Utara, Kombes Pol Budhi Herdi Susianto di lobby Mapolres, Jakarta, Senin (10/2/2020).

Polda Sumbar Tangguhkan Penahanan Wanita Digrebek Andre Rosiade

Ia menyebutkan, pengungkapan bermula dari laporan masyarakat bahwa salah satu apartemen di Kelapa Gading dijadikan penampungan PSK di bawah umur. Korban diisolasi dalam sebuah apartemen yang dijaga petugas, sehingga korban tidak bisa keluar dari apartemen. "Kita melakukan penyelidikan dan penindakan, kita dapati dua lantai dalam satu apartemen tersebut ada sembilan anak-anak dan empat perempuan beserta lima mucikari. Ada lima orang kita tetapkan tersangka," tambah Budhi Herdi Susianto.

Tersangka tersebut yakni pasangan suami istri berinisial MC (35) dan SR alias SH (33), tiga orang pengawas para korban (LC) berinisial SP (36), RT alias OZ (30), dan ND alias BN (21).

"Dari tersangka ini ada yang menjadi agen pencari anak di bawah umur di daerah. Modus operandinya, mucikari mencari wanita yang di bawah umur dari kampung halamannya diimingi bekerja menjadi pemandu karaoke," kata Budhi Herdi Susianto.

Polres Jakut Ciduk 2 Muncikari dan Amankan 34 PSK Rawa Bebek Royal

Para orangtua wanita ini dijerat utang dan pembayarannya dipotong dari hasil keringat anaknya. "Dalam pelaksanaannya, kalau hanya menemani karaoke tidak cukup. Para wanita ini dipaksa untuk melayani tamunya. Dijual dengan sistem voucher," jelas Budhi Herdi Susianto didampingi Kapolsek Kelapa Gading, Kompol Jerrold Hendra Yosef Kumontoy.

Bersama Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Utara, Kompol Wirdhanto Hadicaksono, Budhi Herdi Susianto menjelaskan satu voucher dihargai Rp 380.000 dengan perincian Rp 200.000 untuk pemilik tempat. Sedangkan sisanya dibagi, mucikari Rp 75.000, sedangkan pekerja perempuan Rp 105.000.

Anak-anak yang menjadi korban seksual ini ditargetkan bisa mendapatkan 50 voucher dalam kurun waktu satu bulan. Jika tidak terpenuhi, korban didenda Rp 1 juta. "Untuk itu mereka memaksa para wanita ini memenuhi targetnya. Setelah direkrut dari daerah, yang di bawah umur diberikan KTP palsu, seolah-olah sudah dewasa. Kita melakukan pengejaran terhadap pihak ketiga atau oknum yang membuat identitas palsu," tambah Budhi Herdi Susianto.

Selain korban diminta bekerja sebagai pemandu lagu, mereka juga diminta menjadi penari telanjang. "Sebagai contoh, korban M yang sudah mendapatkan 20 voucher, 20 x 105 harusnya Rp 2,1 juta. Administrasi bulanan Rp 1,5 juta, untuk mami papi Rp 15.000. Sudah melayani 20 kali saja masih minus Rp 70.000. Belum lagi kalau ia kasbon juga menambah jumlah utang," ungkap Budhi Herdi Susianto.

Untuk itu, kata Budhi Herdi Susianto, kepolisian minta pemerintah kota dan stakeholder terkait melakukan pencegahan ke depannya. Korban akan dibina sesuai wewenang masing-masing. "Tapi kita harus melakukan pencegahan agar kejadian serupa tidak terulang," kata Budhi Herdi Susianto

Para pelaku dijerat dengan UU Perlindungan Anak dan UU Pemberantasan Perdagangan Orang dengan ancaman hukumannya 15 tahun penjara.

Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak Indonesia, Arist Merdeka Sirait menyebutkan dari modus para pelaku mucikari dan korban di Kelapa Gading sudah masuk dalam definisi PBB perbudakan seksual atau labour & sexual bondet. "Ada perdagangan manusia untuk seksual dan ekspoitas. Ada transaksi, ada agen, ada utang, ada perdagangan manusia untuk tujuan komersial dan ekonomi. Ini kategori perdagangan manusia yang sangat sistematis dan harus kita bongkar semua," kata Arist Merdeka Sirait.

Konsumen khusus wanita di bawah umur, bisa dijerat pasal pidana minimal 5 tahun penjara karena melakukan hubungan seksual terhadap anak-anak.



Sumber: Suara Pembaruan