Polisi Temukan Janin di Klinik Aborsi Paseban

Polisi Temukan Janin di Klinik Aborsi Paseban
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Yusri Yunus memberikan keterangan pers di lokasi klinik aborsi ilegal, Jumat, 14 Februari 2020. ( Foto: Beritasatu.com/Bayu Marhaenjati )
Bayu Marhaenjati / CAH Jumat, 14 Februari 2020 | 21:04 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com - Penyidik Sub Direktorat Sumber Daya Lingkungan Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, menemukan janin pada saat menggerebek rumah yang dijadikan sebuah klinik aborsi ilegal, di Jalan Paseban Raya Nomor 61 RT02 RW 07 Kelurahan Paseban, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat.

"Barang bukti kami temukan janin umur 6 bulan dalam keadaan tidak utuh di ruang kamar mandi belakang," ujar Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Yusri Yunus, di lokasi, Jumat (14/2/2020).

Dikatakan Yusri, penyidik menangkap tiga tersangka dalam kasus ini. Pertama MM alias dr A, selaku dokter aborsi, penyewa rumah, penyedia peralatan dan obat-obatan. Kemudian, RM berperan sebagai bidan dan SI, karyawan bidang pendaftaran serta administrasi pasien.

Menurut Yusri, penyidik masih melakukan penelusuran kemana jasad janin lainnya dikubur atau dibuang. Sebab, berdasarkan keterangan klinik yang sudah beroperasi selama 21 bulan itu, telah menerima 1.613 pasien dan 903 diantaranya melakukan aborsi.

Bongkar Klinik Aborsi di Paseban, Polisi Tangkap 3 Residivis

"Kami masih selidiki. Kalau biasanya kita temukan di septictank. Tim sedang mendalami, modusnya biasa ditaruh di septictank. Kami telusuri, karena tersangka belum mau bicara. Pelan-pelan akan kami ungkap," katanya.

Yusri menambahkan, penyidik juga sedang mendalami jaringan para pelaku. Informasinya, para tersangka memiliki 50 jaringan bidan hingga 100 calo.

"Masih ada perkembangan, karena keterangan yang bersangkutan ada beberapa dokter yang melakukan praktik aborsi di sini. Ada beberapa dokter yang melakukan aborsi, dibawa ke klinik ini. Sementara, klinik ini ilegal," ungkapnya.

Menurut Yusri, rata-rata yang melakukan aborsi ini hamil di luar nikah. Kedua adanya kontrak kerja yang mengharuskan tidak hamil, ketiga gagal KB. 

Yusri menyebutkan, para Tersangka dikenakan Pasal 83 Jo Pasal 64 UU Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan dan/atau Pasal 75 ayat (1), Pasal 76, Pasal 77, Pasal 78 UU Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran dan/atau Pasal 194 Jo Pasal 75 ayat (2) UU Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan Jo Pasal 55, 56 KUHP, dengan ancaman hukuman 5 hingga 10 tahun bui.

"Kami akan membahas lagi apa bisa masuk ke Undang-undang Perlindungan Anak, dan kita masukkan Undang-undang TPPU karena dia sudah praktik cukup lama dengan keuntungan yang besar (5,4 miliar dalam kurun 21 bulan)," tandasnya.



Sumber: BeritaSatu.com