Klinik Aborsi Ilegal Paseban, Polisi Buru Dokter Pengganti

Klinik Aborsi Ilegal Paseban, Polisi Buru Dokter Pengganti
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Yusri Yunus memberikan keterangan pers di lokasi klinik aborsi ilegal, Jumat, 14 Februari 2020. ( Foto: Beritasatu.com/Bayu Marhaenjati )
Bayu Marhaenjati / CAH Selasa, 18 Februari 2020 | 06:16 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Penyidik Sub Direktorat Sumber Daya Lingkungan Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, terus melakukan pengembangan terkait pengungkapan kasus klinik aborsi ilegal, di Jalan Paseban Raya Nomor 61 RT02 RW 07 Kelurahan Paseban, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat. Saat ini, penyidik sedang memburu seorang dokter berinisial S yang menggantikan posisi tersangka MM alias dokter A (46) melakukan kegiatan aborsi.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Yusri Yunus mengatakan, dalam kurun waktu 3 bulan belakangan tersangka MM alias dokter A mengalami sakit sehingga tidak lagi melakukan praktik aborsi di Klinik Namora atau biasa dikenal Klinik Paseban. Tugasnya kemudian digantikan seorang dokter berinisial S.

"Dokter A ini kan sedikit sudah terganggu kesehatannya, sehingga tidak melakukan aborsi. Sebelumnya itu dia sendiri yang melakukan. Untuk menggantikan, dia merekrut satu mitra lagi namanya dokter S, dan ini yang kita sedang lakukan pengejaran. Dokter S inilah yang telah melakukan tindakan aborsi di sana setelah dapat pasien dari bidan yang ada," ujar Yusri, Senin (17/2/2020).

Bongkar Klinik Aborsi di Paseban, Polisi Tangkap 3 Residivis

Sementara itu, pemasok pasien bukan hanya tugas dari tersangka RM (54) yang berperan sebagai bidan. Berdasarkan keterangan, kurang lebih ada 50 bidan yang diduga bekerjasama dengan klinik ini, termasuk dibantu sekitar 100 calo.

"Jadi hasil pengembangan dari hasil pemeriksaan para tersangka ini bukan cuma si bidan RM saja sebagai pemasok pasien yang melakukan aborsi di sana. Ternyata hampir kurang lebih 50 bidan lagi," ungkapnya.

Yusri menyampaikan, modusnya adalah para bidan mempromosikan jasa praktik aborsi dengan dokter profesional, tempat bagus dan harga terjangkau melalui media sosial. Ketika mendapatkan konsumen, pasien akan dibawa ke Klinik Paseban.

"Mereka juga punya kaki tangan lagi hampir sekitar 100 calo untuk mencari pasien menggunakan kartu nama yang ada. Nanti ditujukkan kepada bidan, dan nanti bidan itu yang mengantar ke sana. Itu yang dilakukan para sindikat ini," katanya.

Yusri menuturkan, penyidik masih melakukan pengembangan untuk mengungkap dan menangkap sindikat klinik aborsi ilegal ini.

Komnas PA Minta Tersangka Klinik Aborsi Dijerat UU Perlindungan Anak

"Ini kan baru tiga (tersangka) dulu, kita masih mengejar yang lain lagi. Tim masih bekerja di lapangan, tunggu saja hasilnya seperti apa. Termasuk di dalamnya dokter S, kita masih mengejar terus yang bersangkutan," tandasnya.



Sumber: BeritaSatu.com