Polisi Telusuri 50 Bidan Jaringan Klinik Aborsi Paseban

Polisi Telusuri 50 Bidan Jaringan Klinik Aborsi Paseban
Kombes Yusri Yunus. ( Foto: Antara )
Bayu Marhaenjati / CAH Selasa, 18 Februari 2020 | 14:31 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Penyidik terus melakukan pengembangan terkait pengungkapan kasus klinik aborsi ilegal, di Jalan Paseban Raya Nomor 61 RT02 RW 07 Kelurahan Paseban, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat. Berdasarkan keterangan, ada 50 bidan yang menjadi jaringan klinik itu, termasuk 100 calo.

"Sementara masih pengejaran karena masih ada lagi tempat-tempat klinik serupa dengan ini. Karena berdasarkan hasil mapping, calo-calo itu ada 100 dan bidan itu ada 50 bidan yang memang mereka promosikan, tapi eksekusi di klinik ini," ujar Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Yusri Yunus, Selasa (18/2/2020).

Dikatakan Yusri, selain di Klinik Namora atau biasa dikenal Klinik Paseban, jaringan ini juga membawa pasien ke klinik lain yang masih dalam penyelidikan.

"Ternyata bukan hanya klinik sini saja, ada informasi mereka juga lakukan di klinik yang ada di sekitar sana itu. Kalau di sini penuh mereka akan tempatkan di klinik lain. Cuma masalah sekarang setelah penggeledahan di klinik ini, banyak tempat lain yang sudah dimapping oleh Polda Metro mulai tiarap dan sembunyi. Tidak tertutup kemungkinan besok-besok masih beroperasi sehingga kita akan awasi dan selidiki," ungkapnya.

Klinik Aborsi Ilegal Paseban, Polisi Buru Dokter Pengganti

Sementara itu, penyidik juga terkendala dalam menelusuri 903 pasien yang telah melakukan aborsi di klinik ilegal itu, sebab minim datanya. Sehingga belum diketahui apakah ada korban meninggal dunia akibat praktik aborsi ilegal itu.

"Kita susuri pasien 903 orang sedikit terkendala, karena hampir semua nggak ada data lengkap. Hanya kartu saja dengan identitas nama dan umur. Ini masih kita dalami ya," katanya.

Salah satu upaya penyidik menelusuri identitas pasien melalui rekening yang mentransfer uang ke manajemen Klinik Paseban itu. "Jadi kendala kita cari siapa pasien lain karena data tak lengkap, kami susuri terus, kami ambil dari rekening-rekening yang masuk ke manajemen klinik mereka sehingga dengan cara itu kita bisa ketahui," tambahnya.

Menurut Yusri, paling banyak pasien yang datang berusia produktif sekitar 24 tahun ke bawah. Rata-rata mereka karena hamil di luar nikah, punya pekerjaan yang mensyaratkan tidak boleh hamil, atau gagal KB.

Klinik Aborsi di Paseban Buang Janin di Septic Tank

"Ya rata-rata hamil di luar nikah. Berarti masa-masa produktif ya. Ya bisa jadi mulai 24 ke bawah karena hamil di luar nikah, mereka belum nikah tetapi sudah hamil," jelasnya.

Yusri mengungkapkan, klinik ilegal itu, telah beroperasi selama 21 bulan dengan pendapatan sekitar Rp 6,6 miliar, dan setelah dikurangi biaya operasional keuntungannya mencapai Rp 5,4 miliar. Saat ini, penyidik masih mendalami kemana aliran dana itu, berkoordinasi dengan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK).

"Masih didalami lagi karena pada saat penggeledahan hanya ditemukan uang sekitar Rp 25 juta dan ada beberapa mobil. Kemana uangnya ini masih kita dalami dan cek semuanya, karena barang bukti yang ditemukan hanya itu. Akan ke arah sana semua (koordinasi dengan PPATK) nanti, karena kan kita susuri rekening-rekening mereka semua. Ini masih didalami semua ya," katanya.

Yusri menambahkan, penyidik juga masih mencari seseorang berinisal dokter S yang menggantikan tersangka MM alias dokter A dalam melakukan praktik aborsi. Sebab, dalam kurun waktu 3 bulan belakangan tersangka MM mengalami sakit. "Masih dalam penyelidikan, kita sedang lakukan pengejaran," tandasnya.

Sebelumnya diketahui, Sub Direktorat Sumber Daya Lingkungan Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, membongkar praktik aborsi ilegal di sebuah rumah yang dijadikan klinik, di Jalan Paseban Raya Nomor 61 RT02 RW 07 Kelurahan Paseban, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat, Senin (10/2/2020) lalu. Termasuk, membekuk tiga tersangka yang merupakan residivis atau penjahat kambuhan kasus serupa.

Polisi Temukan Janin di Klinik Aborsi Paseban

Tersangka pertama berinisial MM alias dr A, berperan sebagai dokter aborsi, penyewa rumah untuk dijadikan tempat klinik dan penyedia alat dan obat-obatan. Kemudian, RM berperan sebagai bidan dan yang melakukan promosi, terakhir SI karyawan bidang pendaftaran serta administrasi pasien.

Berdasarkan keterangan, klinik yang sudah beroperasi selama 21 bulan itu, telah menerima 1.613 pasien dan 903 diantaranya melakukan aborsi.

Dalam kurun waktu 21 bulan itu, para tersangka meraup keuntungan hingga Rp 5,4 miliar. Pelaku membanderol harga praktik aborsi Rp 1 juta untuk usia kandungan 1 bulan, Rp 2 juta buat usia kandungan 2 bulan, Rp 3 juta hingga 15 juta bagi usia kandungan di atas tiga bulan.



Sumber: BeritaSatu.com