Bakar Barang Bukti, Polda Metro Komitmen Perangi Narkotika

Bakar Barang Bukti, Polda Metro Komitmen Perangi Narkotika
Kapolda Metro Jaya, Irjen Nana Sudjana (depan ketiga kiri), Menteri PAN dan RB, Tjahjo Kumolo (depan keempat kiri) menunjukkan barang bukti narkoba yang akan dimusnahkan dengan cara dibakar di Mapolda Metro Jaya, 19 Februari 2020. ( Foto: Beritasatu Photo / Bayu Marhaenjati )
Bayu Marhaenjati / JAS Rabu, 19 Februari 2020 | 17:49 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya, menggelar kegiatan pemusnahan barang bukti berupa 1,34 ton ganja, 288 kilogram sabu-sabu, 4.888 butir ekstasi, 1.585 eximer serta 349 butir tramadol, hasil pengungkapan kasus sepanjang Januari 2020, di Mapolda Metro Jaya. Polda Metro berkomitmen memerangi narkotika untuk menciptakan Jakarta zero narcotics.

Hadir dalam pemusnahan barang bukti senilai Rp 1 triliun 58 miliar, itu Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menteri PAN dan RB) Tjahjo Kumolo, Wakapolri Komjen Gatot Eddy Pramono, Kabareskrim Polri Komjen Listyo Sigit, Kapolda Metro Jaya Irjen Nana Sudjana, pejabat utama Polda Metro Jaya, Kejati DKI, Pengadilan DKI, dan stakeholder lainnya.

Pada kesempatan itu, Tjahjo Kumolo memberikan penghargaan kepada Kapolda Metro Jaya Irjen Nana Sudjana, Direktur Reserse Narkoba Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Herry Heryawan dan Kasubdit 2 Ditresnarkoba Polda Metro Jaya AKBP Raden Bagus Wibisono atas prestasi memberantas narkotika, di Jakarta.

"Secara singkat kami mengapresiasi Polda Metro yang telah menunjukan prestasi dan berhasil dalam rangka memberantas, menyita barang bukti narkoba ini. Kenapa kami menyampaikan apresiasi dan penghargaan, karena musuh utama bangsa dan negara Indonesia yang pertama adalah masalah narkoba, kedua masalah radikalisme, ketiga masalah yang berkaitan dengan korupsi," ujar Tjahjo, di Mapolda Metro Jaya, Rabu (19/2/2020).

Dikatakan Tjahjo, pemberian apreasiasi dan penghargaan penting agar semangat pemberantasan narkotika bisa terus digerakkan dan diorganisasi sampai ke akarnya.

"Tadi Pak Kapolda sudah menunjuk duta-duta, dan saya kira semua lembaga, seluruh organisasi, seluruh jajaran yang ada di negara ini, kita harus berani menentukan sikap, siapa kawan dan lawan, melawan jaringan-jaringan narkoba yang ingin meracuni generasi muda kita," ungkapnya.

Tjahjo berharap, Polri terus berkomitmen menggerakan pemberantasan dari jajaran Polda hingga Polsek, dan bersama-sama seluruh elemen masyarakat melakukan gebrakan dan gerakan dalam rangka memangkas jaringan narkoba yang merusak generasi muda untuk kejayaan bangsa di masa datang.

"Polda Metro didukung seluruh pihak, saya kira bisa menjadi mata dan telinga, termasuk BNN, termasuk organisasi-organisasi yang punya gerakan memberantas narkoba untuk senantisa bersama-sama. Kita semua harus siap menjadi mata dan telinga," katanya.

Tjahjo kemudian, memusnahkan barang bukti sabu-sabu ke dalam mesin pembakaran. Diikuti Gatot, Nana, dan pejabat lainnya.

"Ini barang sampah yang tidak ada gunanya sama sekali," ucap Tjahjo sambil memasukan satu paket sabu-sabu ke dalam mesin pembakaran.

Sementara itu, Kapolda Metro Jaya Irjen Nana Sudjana mengatakan, narkotika merusak generasi bangsa. Karena itu, Polri berkomitmen memerangi jaringan peredaran narkoba.

"Polri dari awal sudah berkomitmen kita perangi narkoba, berantas narkoba dan khususnya untuk Polda Metro Jaya serta jajarannya, kita sudah berkomitmen zero narcotics, zero narkoba, itu komitmen kami. Maka dalam hal ini kami dan jajaran akan terus memaksimalkan untuk melakukan upaya-upaya pencegahan, kemudian upaya penindakan tindakan tegas bila diperlukan," katanya.

Nana menyampaikan, penghargaan yang diberikan Menteri PAN dan RB menjadi motivasi bagi Polda Metro Jaya dalam rangka melakukan upaya maksimal pemberantasan narkotika.

"Ke depan, di samping penindakan kita lebih menekankan pencegahan. Makanya tadi juga kita ada penunjukan beberapa duta narkoba. Ini harapannya lebih kita dorong ke upaya pencegahan yang akan dilakukan oleh duta narkoba itu," katanya.

Ketua Komisi III DPR RI Herman Hery menuturkan, kegiatan pemusnahan narkoba merupakan bukti kerja keras jajaran Ditresnarkoba Polda Metro Jaya, dan diharapkan dapat diikuti Polda-Polda lainnya.

"Jadi apa yang dibuat sekarang ini, menjadi inspirasi penegakan hukum dan penindakan yang dilakukan oleh Ditresnarkoba di seluruh Indonesia. Saya berharap ini menjadi sebuah model contoh bagi Ditresnarkoba seluruh Indonesia," kata Herman.

"Kemudian ini menjadi satu penyemangat. Hal yang kami minta kepada institusi Polri adalah bagi anggota-anggota yang sudah melakukan tugas pemberantasan narkoba dengan maksimal supaya diberi reward sehingga ada kebanggaan bagi para aparat penegak hukum di lapangan, bahwa jika bekerja maksimal institusi pun akan menghargai kerja keras itu," terangnya.

Menurut Herman, penghargaan bisa berupa pendidikan, promosi kenaikan pangkat dan lainnya. Sebaliknya yang melakukan pelanggaran diberi sanksi hukum sesuai peraturan yang berlaku.

"Reward-nya macam-macam bisa sekolah, promosi kenaikan pangkat istimewa, karena untuk bekerja maksimal perlu dorongan institusi maksimal. Sehingga orang bekerja reward dan punishment-nya jelas," katanya.

Banyak pihak menilai, peredaran narkoba terus terjadi karena salah satu faktornya adalah penindakan dan saksi hukumnya kurang, sehingga tidak menimbulkan efek jera. Merespons itu, Herman mengatakan, apabila diperlukan tindakan tegas dapat dilakukan sesuai peraturan yang berlaku.

"Apapun itu. Saya katakan penindakan secara terukur, tentu ukurannya penegak hukum, petugas di lapangan sudah sesuai SOP. Ikuti SOP itu. Soal tembak mati ini kan kembali menjadi ranah penegak hukum, kami sebagai DPR merasa bahwa jika hal itu dilakukan dan dianggap perlu oleh penegak hukum, lakukan itu penindakan tegas," katanya.

Upaya Pencegahan

Sekjen Granat Ashar Soerjobroto menuturkan, selama pengguna narkoba masih tinggi, maka peredaran narkotika akan terus ada. Karena itu, perlu dilakukan pencegahan baik jumlah pengguna maupun peredarannya.

"Memang selama penggunanya banyak, jadi pengguna narkotika di Indonesia sudah hampir 3 sampai 4 juta, selama mereka masih menjadi pengguna adiktif, selalu ada upaya untuk mendapatkan barang itu. Dan selama itu juga, baik pengedar dan bandar berusaha untuk menjangkau mereka," kata Ashar.

"Upaya yang terbaik itu pencegahan keduanya, mencegah bertambahnya jumlah pecandu atau pengguna, juga mencegah masuknya barang itu dari luar. Ini kebanyakan barang dari luar, selain ganja dari Aceh. Itu peredarannya harus dihentikan," tegasnya.

Ashar menambahkan, pencegahan harus menjadi hal yang utama. Mulai dari lingkungan terkecil semisal keluarga, kelompok, kantor, sekolah dan lainnya.

"Itu yang harus diutamakan. Kalau itu bisa dilakukan, paling tidak dia berkurang, menurun pemasoknya, menurun suplainya. Karena selama demand (permintaan) tinggi, suplai akan mengikuti," katanya.

Ashar menuturkan, BNN dan Polri yang menjadi ujung tombak pemberantasan narkoba tidak bisa bekerja sendiri, dan harus didukung seluruh komponen masyarakat.

"Termasuk masyarakat yang ada di perbatasan laut. Kalau perbatasannya jebol, pasti masuk. Kita kan punya angkatan perang, punya Angkatan Laut, Angkatan Udara, Bea Cukai, Bakamla, itu harus bersatu. Dan ini harus diutamakan laut. Masuknya narkotika lewat udara kecil. Tapi kita harus tahu, luas laut kita paling luas di dunia, dan pintunya banyak sekali. Narkotika di pulau-pulau kecil itu sudah masuk," tambahnya.

Ashar melanjutkan, pemerintah juga perlu satu lembaga pemasyarakatan khusus yang menampung tersangka dan terpidana narkotika.

"Saya setuju sekali (lapas khusus). Kalau boleh saran ambil satu atau dua pulau yang khusus untuk mengasingkan, mengisolasi para tersangka dan terpidana narkoba, yang hukumannya mungkin 5 tahun ke atas, dikumpulkan di sana. Termasuk juga terpidana yang sudah inkracht hukuman mati," ujar Ashar lagi

"Penjagaan tidak hanya lapas, ada angkatan laut, polisi, dan putuskan komunikasi baik komunikasi elektronik, maupun komunikasi badan. Selama ada alat-alat komunikasi elektronik IT yang bisa berhubungan dengan siapa saja di dunia ini, maka peredaran barang itu bisa terus jalan. Hasil penelitian kami seperti itu, selama puluhan tahun," tandasnya.



Sumber: BeritaSatu.com