Berakhirnya Perjalanan Kelompok Perampok Wetonan

Berakhirnya Perjalanan Kelompok Perampok Wetonan
Toko Emas Cantik di Pasar Pecah Kulit, Taman Sari, Jakarta Barat, digaris polisi setelah disatroni perampok, Jumat, 28 April 2020. (Foto: ANTARA/Devi Nindy)
Bayu Marhaenjati / AMA Selasa, 14 April 2020 | 09:43 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Sepak terjang Tugiman alias Dudung (48), penjahat kambuhan yang kerap melakukan aksi perampokan toko emas, berakhir sudah. Pimpinan kelompok garong "wetonan" itu tewas dalam baku tembak dengan polisi yang menggerebek tempat persembunyiannya di satu rumah kontrakan, di Sawangan, Depok, Minggu (12/4/2020) lalu.

Dua rekannya Andre Hermawan (23) dan Andrean Dwi (22) turut tewas tertembus timah panas petugas. Sedangkan, dua anggota kelompok lainnya Agus (24) dan Partono (50) mengalami luka tembak di kaki.

"Pada saat ditangkap sempat terjadi perlawanan terhadap petugas. Terjadi tembak menembak pada saat itu, dan tiga orang pelaku meninggal dunia di tempat, yang dua luka tertembak dilarikan ke rumah sakit ya," ujar Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Yusri Yunus, Senin (13/4/2020).

Lima bandit itu, diburu tim Reserse Polres Metro Jakarta Barat dan Polsek Kembangan lantaran menggondol perhiasan emas seberat 0,5 kilogram dan 10 kilogram perak dengan total kerugian Rp 476.209.127 dari Toko Emas Pelita, di Pasar Kemiri, Kembangan, Jakarta Barat, Senin (6/4/2020) lalu.

Empat bulan sebelumnya, tepatnya tanggal 6 Desember 2019, Tugiman juga mengkoordinasi kelompoknya untuk menggasak perhiasan senilai Rp 317.207.820, di Toko Emas Eropa, Kampung Irian RT 11 RW 6, Serdang, Kemayoran, Jakarta Pusat.

Yusri mengatakan, kelompok ini merupakan penjahat lintas provinsi. Berdasarkan keterangan, selain Jakarta, para bandit itu juga tercatat pernah beraksi di kawasan Pantai Utara Jawa hingga Kalimantan Timur.

"Memang ini adalah kelompok pelaku yang sudah sering melakukan perampokan lintas provinsi. Pengakuan mereka -tersangka yang diamankan- telah melakukan empat kali perampokan. Tapi kami tidak percaya begitu saja, kami akan dalami," ungkapnya.

Uniknya, Tugiman dan kawan-kawan yang dikenal dengan sebutan kelompok "wetonan" itu, selalu beraksi setiap tanggal 6. Mereka percaya tanggal itu merupakan hari baik untuk melancarkan aksi perampokan.

"Hasil keterangan dari salah satu pelaku bahwa kelompok ini adalah kelompok yang biasa menamakan diri kelompok wetonan. Wetonan itu dinamakan karena ada salah satu kepercayaan yang mereka anut ya. Mereka percaya, contoh menurut mereka bahwa mereka akan melakukan kejahatan itu setiap tanggal 6. Ini yang dipelajari teman-teman Reserse Jakarta Barat. Dia lakukan pasti tanggal 6. Kemayoran (Toko Emas Eropa) juga tanggal 6, beberapa tempat lain juga tanggal 6," katanya.

Yusri menambahkan, Tugiman dan kawan-kawan juga percaya ketika hendak melakukan kejahatan harus berangkat dari Jawa Tengah dan setelah melancarkan aksi mesti masuk kembali ke Jawa Tengah.

"Kalau masuk ke Jawa Tengah itu mereka anggap buang sial dan tidak akan tertangkap. Tetapi terakhir melakukan (perampokan Toko Emas Pelita), mereka berupaya ke Jawa Tengah, sementara pada saat itu di perbatasan ada kegiatan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) sehingga tidak bisa ke sana, dan terpaksa kembali ke kosan. Kemudian terjadilah penangkapan, itu kepercayaan mereka," jelasnya.

Kelompok Sadis

Sebelum melancarkan aksi, Tugiman dan kawan-kawan terlebih dulu merencanakan serta menggambar situasi dan kondisi di tempat sasaran. Bukan satu dua hari, ketika mengincar Toko Emas Pelita, kelompok ini mondar-mandir selama satu bulan di kawasan Pasar Kemiri, Kembangan.

Tugiman selaku kapten kelompok itu selalu menenteng senjata api saban kali melakukan perampokan di toko emas. Sementara, rekannya membawa senjata tajam. Mereka tidak segan-segan menembak atau melukai apabila korbannya melawan.

"Mereka kelompok nekat dan manfaatkan situasi. Di saat orang semua terfokus dengan wabah corona, mereka memanfaatkan untuk aksi ini, yang memang sudah diawasi beberapa hari, tepatnya satu bulan sebelumnya. Mereka menggunakan senjata api jenis revolver ini. Senjata apinya memang rakitan, tapi pelurunya adalah peluru asli, peluru buatan pabrik dan mematikan. Mereka termasuk kelompok yang tak segan melakukan penembakan jika korban melawan," kata Kapolres Metro Jakarta Barat Komisaris Besar Polisi Audie Latuheru.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Jakarta Barat Kompol Teuku Arsya Khadafi mengungkapkan, semua perencanaan aksi perampokan diatur Tugiman. Sedangkan, tersangka lain tinggal mengikuti.

"Semua diatur saudara T alias DD kaptennya. Memang T sudah cukup lama berkecimpung di dunia kejahatan, sudah bolak balik jadi residivis. Anggota lain, mereka ikuti instruksi saudara T ini. Dia yang sampaikan, hitung, dan tentukan target. Pembagian mereka tidak tahu hasilnya berapa dan dijual ke mana, hanya tinggal saudara T ini yang bagi-bagi. Jadi hanya dibagi, dan alasan sisanya diberikan (orang lain) untuk buang sial," terangnya.

Arsya menambahkan, kelompok ini sangat sadis apabila mendapatkan perlawanan dari korbannya. Ketika melakukan perampokan emas di Kalimantan Timur, Tugiman menembak dan membacok salah satu pemilik toko, seorang perempuan.

"Di Kemayoran (Toko Emas Eropa), saudara T ini, dia memukul kepala dari penjaga toko emas dengan gagang senpi sehingga menyebabkan luka. Sedangkan TKP di wilayah Kembangan mereka tidak lakukan tindakan tersebut karena korban ketakutan dan menurut permintaan tersangka," katanya.

Penyidik berhasil mengidentifikasi dan membekuk para pelaku berkat rekaman kamera pengawas alias CCTV. Menurut Arsya, masyarakat Jakarta Barat memiliki tingkat kesadaran tinggi untuk menjaga keamanan lingkungan dengan memasang CCTV.

"Kelompok ini cukup matang dalam mencari sasaran, cari lokasi-lokasi yang tidak ada CCTV. Tapi alhamdulillah masyarakat Jakarta Barat memiliki tingkat kesadaran tinggi, CCTV sangat banyak sehingga mempermudah kami mengidentifikasi pelaku. Kelompok ini cukup sadis dan tidak segan lukai korban untuk mendapatkan keinginannya," tandasnya.

Pada saat penangkapan, polisi menyita dua senpi rakitan jenis revolver kaliber 9 mm berikut enam butir peluru, tiga sepeda motor, perhiasan hasil curian, sejumlah telepon genggam, helm, dan sebo warna hitam.

Dua pelaku yang tertangkap, dikenakan Pasal 365 KUHP tentang pencurian dengan kekerasan, ancaman hukumannya 9 tahun penjara.



Sumber: BeritaSatu.com