Pengamanan New Normal, Kapolda Metro: Humanis Tetapi Tegas

Pengamanan New Normal, Kapolda Metro: Humanis Tetapi Tegas
Prajurit TNI berjaga di loket Stasiun MRT Bundaran HI, Jakarta, Rabu, 27 Mei 2020. (Foto: Beritasatu Photo / Joanito De Saojoao)
Bayu Marhaenjati / YUD Jumat, 29 Mei 2020 | 18:50 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kodam Jaya dan Polda Metro Jaya, telah melakukan persiapan terkait rencana penerapan new normal atau tatanan kehidupan baru di masa pandemi Covid-19. TNI-Polri mengedepankan langkah persuasif dan humanis, tapi tegas dalam upaya mendisiplinkan masyarakat untuk tetap mematuhi protokol kesehatan sesuai ketentuan.

"Pengamanan dalam hal ini akan kita lakukan tetap humanis, persuasif, melayani, tetapi tegas. Itu yang akan kita lakukan," ujar Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Nana Sudjana, di Jakarta, Jumat (29/5/2020).

Dikatakan Nana, Polda Metro Jaya bersama Kodam Jaya telah menyiapkan rencana simulasi dan ploting anggota pengamanan dalam upaya pendisiplinan protokol kesehatan di sejumlah titik keramaian, berkaitan dengan sektor ekonomi dan moda transportasi. Semisal, stasiun mass rapid transit, stasiun kereta, terminal, termasuk pasar tradisional dan modern.

"Terkait dengan penerapan new normal, kami sudah mempersiapkan diri dari kepolisian dan sudah melakukan koordinasi dengan Pangdam untuk persiapan terhadap ploting-ploting anggota kami, dalam hal ini TNI-Polri, di beberapa lokasi yang memang sebenarnya ini sudah kita lakukan terkait dengan pelaksanaan gugus tugas. Di mana ada keramaian disitulah anggota kita melakukan pengamanan atau saya katakan pengetatan dalam rangka penegakan ataupun pendisiplinan terhadap masyarakat," ungkapnya.

Menyoal berapa personel yang dikerahkan dalam pelaksanaan new normal, Nana menyampaikan, jumlah pastinya belum ditetapkan karena masih dalam pengitungan sesuai dengan jumlah titik keramaian dalam aspek ekonomi dan moda transportasi di setiap wilayah. Namun, tahap awal Polda Metro menyiapkan sebanyak 3.973 personel.

"Hasil rapat kemarin kami dengan pak Pangdam ya, memang sementara ini di dua aspek, dalam aspek moda angkutan, kemudian aspek perekonomian. Seperti MRT terkait angkutan, KRL pengamanan di stasiun, termasuk bandara tentunya itu ploting anggota kita siapkan. Kemudian juga di pasar-pasar yang memang di situ tempat keramaian itu nanti ploting akan terus kita lakukan dalam rangka mendisiplinkan. Sampai saat ini belum dapat kita pastikan dalam arti kemarin dari hasil kita mempetakan berapa jumlah daripada lokasi yang menjadi sasaran. Tapi tahap awal anggota yang dilibatkan dari Polri itu sekitar 3.972," katanya.

Menurut Nana, sasaran pengamanan TNI-Polri adalah berkaitan dengan pendisiplinan protokol kesehatan. "Kita berharap tentunya kepada masyarakat setiap keluar rumah harus memakai makser, setiap kegiatan harus mencuci tangan, kemudian juga harus menjaga jarak atau physical distancing . Itulah sasaran kami dalam rangka untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, juga mendisiplinkan masyarakat," jelasnya.

Nana menuturkan, pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di wilayah DKI Jakarta masih berlangsung sampai tanggal 4 Juni. Belum diketahui nanti hasil evaluasi gugus tugas apakah diperpanjang atau selesai.

"Kita bersyukur bahwa grafik terkait dengan corona ini melandai dan sudah mengarah menurun secara grafik. Ya tentunya harapan ke depan, tidak mungkin juga kita tidak memperhatikan permasalahan perekonomian. Sampai saat ini kita ketahui bahwa banyak kegiatan masyarakat yang terhenti karena dampak dari corona ini. Ya tentunya ke depan Insya Allah dalam hal ini pemerintah akan secara bertahap untuk memulai ada pelonggaran-pelonggaran, tapi pelaksanaannya akan dilakukan secara bertahap. Tapi bagaimana pun juga ini bergantung pada kedisiplinan masyarakat dalam melakukan protokol-protokol kesehatan ini," terangnya.

Ihwal berdasarkan pengamatan mana lokasi yang masih sering ditemukan pelanggaran protokol kesehatan, Nana mengungkapkan, paling banyak di pasar tradisional.

"Ya sampai saat ini pasar rakyat ya. Pasar ini dibagi dua ada tradisional dan modern. Jadi khususnya di pasar tradisional ini yang paling banyak pelanggaran, khususnya dalam hal pemakaian masker, yang kedua masalah menjaga jarak ataupun physical distancing. Pasar-pasar ini yang akan menjadi sasaran kami. Sebenarnya kami pun sudah melaksanakan (pengawasan dan pengamanan) ini, tetapi kedepannya akan kita lebih perkuat lagi untuk misalnya keberadaan anggota di lokasi," tandasnya.



Sumber: BeritaSatu.com