Belum Lama Bebas, John Kei Terancam Hukuman Mati

Belum Lama Bebas, John Kei Terancam Hukuman Mati
John Kei. (Foto: Antara)
Bayu Marhaenjati / AB Senin, 22 Juni 2020 | 19:58 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - John Refra Kei alias John Kei kembali masuk hotel prodeo setelah diduga mengotaki kasus penyerangan terhadap kerabatnya Agrapinus Rumatora alias Nus Kei di Perumahan Green Lake City, Cipondoh, Kota Tangerang. John Kei diduga menjadi otak penganiayaan yang menyebabkan korban Yustus Corwing Rahakbau (YCR) meninggal dunia dan Erwin alias Angky mengalami luka berat akibat bacokan senjata tajam di Jalan Kresek Raya, Duri Kosambi, Cengkareng, Jakarta Barat, Minggu (21/6/2020).

John Kei keluar dari lembaga pemasyarakatan di Nusakambangan sekitar tujuh bulan lalu setelah menerima pembebasan bersyarat. Dia dijebloskan ke penjara terkait kasus pembunuhan terhadap pengusaha Tan Harry Tantono. Ketika itu, John Kei divonis 16 tahun penjara. Dengan kasus tersebut, John terancam hukuman mati. 

"Perlu diketahui Saudara John Kei baru mendapatkan pembebasan bersyarat tanggal 26 Desember 2019. Ya memang diberikan setelah para napi ini menjalankan dua pertiga (masa hukuman) dan yang bersangkutan berkelakuan baik," ujar Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Nana Sudjana di Mapolda Metro Jaya, Senin (22/6/2020).

Baca juga: Ini Sepak Terjang John Kei Bersama Amkei di Bekasi

Nana menyampaikan tim gabungan Polres Metro Kota Tangerang dan Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, kembali menangkap John Kei bersama 29 anak buahnya di Jalan Tytyan Indah Utama X, Medan Satria, Kota Bekasi. Mereka diduga melakukan tindak pidana dengan sengaja dan berencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain dan/atau dengan terangan-terangan secara bersama-sama melakukan kekerasan terhadap orang dan barang, dan/atau turut campur dalam perkumpulan yang bermaksud melakukan kejahatan atau dalam perserikatan lain yang dilarang oleh undang-undang.

"Di sini memang ada pasal pemufakatan jahat, kami dapatkan dari hasil kita membuka handphone pelaku ini, di mana didapatkan ada perintah dari John Kei ke anggotanya, indikator dari pemufakatan jahat adalah adanya perencanann pembunuhan terhadap Nus Kei dan Er atau YCR. Kemudian ada juga pembagian tugas atau pembagian peran mereka," ungkapnya.

Nana menegaskan, John Kei dan kawan-kawan dijerat pasal berlapis atas tindakan brutal yang dilakukan. "Pasal 88 terkait pemufakatan jahat, Pasal 340 pembunuhan berencana, Pasal 351 penganiayaan, Pasal 170 tentang perusakan dan Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 tentang kepemilikan senjata," katanya.

Sementara itu, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Tubagus Ade Hidayat mengatakan ancaman hukuman maksimal bagi John Kei dan kawan-kawan adalah hukuman mati.

"Kalau ancaman hukuman terpenuhi, maksimalnya hukuman mati," tegasnya.

Tubagus menuturkan, para pelaku memiliki peran masing-masing, baik dalam kasus penyerangan di Green Lake dan penganiayaan di Duri Kosambi. "Ada juga pemufakatan jahatnya ketika menyusun perencanaan, ada yang saat kejadian itu dia menjaga, ada yang bertugas mencari-cari temannya, atau yang mencari sasaran berikutnya," katanya.

Menyoal apa peran dari John Kei, Tubagus mengungkapkan sejauh ini dia yang memberi perintah dan mengoordinasi. Untuk peran lainnya masih didalami.

"Masih kita dalami, tetapi dalam hal memerintahkan dan mengoordinasi, dia terlibat. Dia ikut dalam perencanaan. Kalau di dalam undang-undang, kalau kegiatan itu bersama-sama kan namanya penyertaan. Penyertaan itu kan ada macam-macam ada intelektual, ada yang menyuruh melakukan, ada yang ikut membantu melakukan, ada yang turut serta melakukan. Yang jelas kita semua tahu kalau statusnya John Kei kan big bos. Itu kita sudah bisa menduga," tegasnya.

Nama John Kei tak asing lagi di dunia kriminalitas Indonesia. Pria bertubuh tegap itu kerap berurusan dengan polisi lantaran melakukan kejahatan.

Berdasarkan catatan Beritasatu.com, kasus paling menonjol yang melibatkan John Kei adalah kasus pembunuhan seorang pengusaha Tan Harry Tantono alias Ayung. Bos peleburan besi PT Sanex Steel Indonesia itu ditemukan tewas mengenaskan akibat luka tusuk di pinggang, perut dan leher di kamar Swiss-Bellhotel, Sawah Besar, Jakarta Pusat, 26 Januari 2012.

Tak lama dari penemuan jenazah Ayung, tiga orang tersangka menyerahkan diri atas nama Tuce Kei, Ancola Kei, dan Candra Kei. Selanjutnya, polisi melakukan pengembangan dan membekuk Dani Res serta Kupra.

Selanjutnya, berdasarkan rekaman CCTV di hotel, polisi mengungkap dan menciduk pimpinan kelompok atau dalang pembunuhan itu, yakni John Kei, di kamar 501 Hotel C'One, Pulomas, Jakarta Timur pada Jumat 17 Februari 2012.

Polisi pun terus melakukan pengembangan. Alhasil, dua tersangka lainnya Josef Hunga dan Muklis ikut ditangkap.



Sumber: BeritaSatu.com