Mendesak, Regulasi Keamanan dan Keselamatan Sepeda

Mendesak, Regulasi Keamanan dan Keselamatan Sepeda
Sejumlah karyawan perkantoran pulang menggunakan sepeda di salah satu pusat perkantoran kawasan Alam Sutera, Tangerang, Banten, Rabu (24/6/2020). (Foto: BeritaSatu Photo / Mohammad Defrizal)
Bayu Marhaenjati / YUD Selasa, 30 Juni 2020 | 22:21 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Penggunaan sepeda sebagai alat transportasi dan olahraga semakin marak, di jalan Ibu Kota Jakarta. Sehingga penting untuk segera dibuatkan regulasi yang mengaturnya.

Pemerhati masalah transportasi Budiyanto mengatakan, regulasi yang sangat urgent atau penting dibuat adalah berkaitan dengan aspek keamanan dan kesalamatan pengendara sepeda.

"Hal yang sangat urgent dan penting adalah berkaitan dengan aspek keamanan dan keselamatan pengendara sepeda. Kita sama-sama tahu karena kapasitas jalan kita yang terbatas. Jalur sepeda masih ada yang berada di bahu jalan atau lajur paling kiri, bahkan ada yang ditempatkan di trotoar sehingga trotoar berfungsi ganda untuk pejalan kaki dan pesepeda," ujar Budiyanto kepada Beritasatu.com, Selasa (30/6/2020).

Dikatakan Budiyanto, hal yang perlu diperhatikan untuk keamanan dan keselamatan sepeda antara lain, tempatkan pada jalur khusus bagian jalan paling kiri dan dibuatkan marka dengan gambar sepeda, rambu-rambu dan reflektor. Kemudian, kurangi lajur-lajur diberlakukannya mix traffic pada jalur sepeda karena akan menggganggu keamanan dan keselamatan pesepeda.

"Untuk keselamatan, sepeda dilengkapi dengan lampu apabila digunakan untuk kegiatan malam hari. Pengendara menggunakan helm yang safety dan pengendaranya menggunakan pakaian yang memiliki sarana pelindung untuk menghindari atau mengurangi cedera apabila ada trouble, kecelakaan dan sebagainya," ungkapnya.

Budiyanto melanjutkan, harus ada kegiatan-kegiatan yang pararel dari para stakeholder yang bertanggungjawab pada bidang lalu lintas dan angkutan jalan. Semisal, melakukan kegiatan preemtif berupa sosialisasi terhadap keamanan dan keselamatan lalu lintas, kemudian kampanye keselamatan, penerangan dan penyuluhan.

"Lalu kegiatan preventif atau pencegahan dengan melakukan penjagaan, patroli, dan pengaturan pada lokasi-lokasi rawan. Selanjutnya, kegiatan represif atau penegakan hukum berupa penilangan atau teguran," katanya.

Menurut Budiyanto, masalah keamanan dan keselamatan menjadi prioritas baik pesepeda maupun pengguna jalan lainnya. "Ingat bahwa kecelakaan lalu lintas biasanya diawali dari pelanggaran lalu lintas. Pentingnya pemberian pemahaman tentang tata cara berlalu lintas yang benar kepada masyarakat secara umum sehingga semua menyadari akan hak dan kewajiban pada saat berlalu lintas," jelasnya.

Menyoal apakah sepeda perlu ditarik pajak, Budiyanto menegaskan, hal itu kurang tepat. Sebab, sepeda merupakan sarana tranportasi yang dapat berfungsi ganda. Pertama untuk menunjang aktivitas yang memerlukan mobilitas dan dapat digunakan sebagai sarana menyehatkan masyarakat serta mengurangi polusi atau meningkatkan kualitas udara.

"Sepeda dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat bawah, menengah dan atas. Kalau perlu pemerintah mendorong masyarakat untuk gemar bersepeda. Bila memungkinkan pemerintah memberikan subsidi atau kemudahan akses untuk mendapatkan sepeda aman, nyaman dan berkeselamatan. Salah satu tujuan negara adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat," tandasnya.



Sumber: BeritaSatu.com